Aku punya tiga parfum. Di antara ketiganya, ada satu yang kesukaan aku banget. Aku jarang pake yang itu, dan akhir akhir ini sering aku pake buat ketemu kamu. Iya, aku pake cuma pas ketemu kamu aja. Niatnya biar kamu inget aku, karena wangi parfum ini tuh memorable banget. Tapi ternyata senjata makan tuan, malah aku yang inget kamu tiap aku nyium wanginya. Sekarang, aku nggak mau pake parfum itu lagi.
Rabu, 13 Maret 2019
Senin, 25 September 2017
Meminimalisir Buang Sampah Sembarangan yang 'Nggak Disengaja'
Haloooo!
Seperti judulnya, kali ini gue mau kasih tips gimana caranya kita nggak membuang sampah sembarangan secara tidak sadar. Kalimat gue bisa dipahami nggak sih? Hahaha gue sendiri aja bacanya ribet. Yaudah, intinya gitu. Gue kepikiran untuk nulis ini karena gue sering banget ngeliat orang yang minum dari minuman berkemasan kotak, yang terkadang secara 'nggak sengaja' membuang sampahnya sembarangan. Bukan buang kotak minumannya yang sembarangan, tapi buang bungkus sedotannya!
Tau bungkus sedotan kan? Yang bening, terus ditempel di kotak minuman itu lhooo. Biasanya sebelum minum, kebanyakan orang bakal melepas si sedotan beserta bungkusnya dari kotak minumannya. Bungkus sedotannya dibuka, sedotannya ditusuk ke kotak minuman, abis itu lupa deh sama sampah bungkus sedotannya karena 'cuma' sampah yang enteng dan kecil. Coba deh perhatikan sekitar kita kalo lagi di tempat makan, trotoar atau tempat umum lainnya. Pasti ada aja tuh sampah bungkus sedotan, bener nggak? Entah 'gak sengaja' jatuh terus terbang kebawa angin, atau emang males aja buangnya ke tempat sampah karena bentuknya yang kecil jadi dikira nggak apa-apa kalo dibuang sembarangan. Mentang-mentang kecil ini, dia jadi sering diabaikan. Kasian dia.
Orang cenderung lebih 'rajin' membuang sampah kotak minuman beserta sedotan yang masih nyangkut di kotaknya itu ke tempat seharusnya. Sedangkan bungkus sedotannya diabaikan. Nah, sekarang gimana nih caranya supaya kita nggak melupakan si bungkus sedotan itu? Tenang, caranya gampang!
Seperti judulnya, kali ini gue mau kasih tips gimana caranya kita nggak membuang sampah sembarangan secara tidak sadar. Kalimat gue bisa dipahami nggak sih? Hahaha gue sendiri aja bacanya ribet. Yaudah, intinya gitu. Gue kepikiran untuk nulis ini karena gue sering banget ngeliat orang yang minum dari minuman berkemasan kotak, yang terkadang secara 'nggak sengaja' membuang sampahnya sembarangan. Bukan buang kotak minumannya yang sembarangan, tapi buang bungkus sedotannya!
Tau bungkus sedotan kan? Yang bening, terus ditempel di kotak minuman itu lhooo. Biasanya sebelum minum, kebanyakan orang bakal melepas si sedotan beserta bungkusnya dari kotak minumannya. Bungkus sedotannya dibuka, sedotannya ditusuk ke kotak minuman, abis itu lupa deh sama sampah bungkus sedotannya karena 'cuma' sampah yang enteng dan kecil. Coba deh perhatikan sekitar kita kalo lagi di tempat makan, trotoar atau tempat umum lainnya. Pasti ada aja tuh sampah bungkus sedotan, bener nggak? Entah 'gak sengaja' jatuh terus terbang kebawa angin, atau emang males aja buangnya ke tempat sampah karena bentuknya yang kecil jadi dikira nggak apa-apa kalo dibuang sembarangan. Mentang-mentang kecil ini, dia jadi sering diabaikan. Kasian dia.
Orang cenderung lebih 'rajin' membuang sampah kotak minuman beserta sedotan yang masih nyangkut di kotaknya itu ke tempat seharusnya. Sedangkan bungkus sedotannya diabaikan. Nah, sekarang gimana nih caranya supaya kita nggak melupakan si bungkus sedotan itu? Tenang, caranya gampang!
Nah, ini contoh dari minuman berkemasan kotak yang masih utuh. Sedotan beserta bungkusnya masih menempel pada kemasan kotaknya. Btw, ini susu nyolong dari kulkas, gatau punya siapa. :)
Eiittss! Jangan lepas bungkus sedotan dari kemasan kotaknya. Biarin aja dia tetep menempel mesra. Jadi, yang harus kita lakukan adalah merobek sedikit ujung atas bungkus sedotannya. Jangan sampe robekannya copot ya, nanti jadinya sama aja bohong dong nggak buang bungkus sedotan sembarangan tapi malah buang robekannya sembarangan. Jangan mentang-mentang kecil terus diabaikan ya. :)
Kalo udah robek sedikit atasnya, kita dorong sedotannya dari bawah untuk mengeluarkan si sedotan.
Hiyaaak, dorong teruuuus!
Nah, udah keluar nih sedotannya dan bungkusnya masih menempel mesra sama kotak minumannya. :)
Siap diminum deh!
Gimana gimana? Gampang kan caranya? Gue yakin, pasti nggak sedikit juga orang yang udah menerapkan cara ini. Gue nulis ini buat berbagi ke orang-orang yang belum tau cara ini, dan siapa tau bisa disebar luaskan juga. Maaf untuk kualitas gambar yang seadanya ya hahaha semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat kita semua. Jangan lupa dishare ke yang lain juga, terimakasiiiih!;)
xoxo,
Sendal 2017.
Sabtu, 18 Februari 2017
Edelweis 98: Cinta Pertamaku di Putih Abu Abu!
Sekitar 3 tahun yang lalu,
waktu awal gue masuk SMA, hal pertama yang bikin gue terkesan dengan SMAN 98
Jakarta adalah lingkungannya yang pewe banget!
Asli, lapangannya luas, gedungnya bagus untuk ukuran SMA negeri, punya pendopo
yang cukup luas untuk nongkrong + ngadem di ujung lapangan, dan yang terutama
suasananya yang adem karena ada pohon beringin besar di halaman parkirnya. First impression gue buat 98 waktu itu
bener-bener bagus.
Tapi, disamping suasana
sekolahnya yang super juara, ada hal lain di pinggir lapangan yang lebih
mencuri perhatian gue: wall climbing.
Di 98 ada dua wall climbing, yang terdiri dari satu wall climbing yang tingginya
setara dengan lantai 3 gedung sekolah, dan yang satunya lagi tingginya setara
lantai 2 gedung sekolah. Wall climbing itu warna biru muda, dengan tulisan
‘EDELWEIS 98’ besar-besar.
Wall climbing itu
benar-benar berhasil menarik perhatian para murid baru sewaktu expo
ekstrakulikuler, karena menampilkan kakak-kakak kelas yang berbaju hitam-hitam
melompat dari ketinggian sekitar 15 meter dan berhasil membuat sebagian besar
dari kami menjerit ngeri. Tapi justru, mereka yang melompat terlihat
tenang-tenang aja. Dan itu keren banget! Saking kerennya, seolah-olah kayak
menghipnotis gue buat dateng ke standnya, emang lebay sih tapi serius beneran
kayak gitu hahaha. Padahal temen-temen gue nggak ada yang tertarik ikut ekskul
ekstrim kayak gitu sama sekali. Tapi gue nggak peduli, nggak pa-pa di awal
belum kenal siapa-siapa, nanti juga dapet temen kok.
Gue juga sempet bercanda
ke temen gue, tentang anak-anak pecinta alam yang identik pake baju hitam. Gue
bilang: “Kayaknya gue cocok masuk pecinta alam, baju gue kan nyaris hitam
semua.” Waktu itu, temen gue nggak terlalu nanggepin serius. Tapi ternyata
omongan gue terbukti! Baju hitam tuh emang dresscode wajib buat Edelweis, dan
gue nggak perlu susah-susah cari baju hitam setiap ada acara karena gue punya
bejibun! Hahaha.
Si biru besar itu yang
akhirnya membawa gue ada di Edelweis sampe detik ini. Si biru besar yang
belakangan ini baru gue tau kalo ternyata yang membangun wall climbing itu ya
anak-anak Edelweis sendiri sekitar enam belas tahun lalu kalo nggak salah, dan dibantu
sama guru-guru berjasa yang mendirikan Edelweis 98, pake dana pribadi bukan
dari sekolah. Jadi bagian dari Edelweis 98 emang bukan sesuatu yang selalu
enak. Hidup kami nggak hanya main, nanjak, ngumpul, dan little things lainnya.
Di Edelweis kami diajarkan tanggung jawab, berpikir cepat dalam menyelesaikan
masalah, persaudaraan, kepedulian, nggak egois, disiplin, dan masih amat sangat
banyak hal positif lainnya. Dan nyaris semua orang pasti tau, kalo belajar
hal-hal di atas nggak gampang sama sekali.
Di tahun pertama, buat
gue yang waktu itu baru 14 tahun, jadi calon anggota (caang) di Edelweis itu
bener-bener nggak gampang sama sekali. Fisik dan mental amat sangat dituntut
disini, efeknya seleksi alam yang ada jadi amat sangat ketat. Nggak sedikit
yang nggak kuat dan akhirnya keluar dari Edelweis. Waktu awal masuk, angkatan
gue (ang 26) jumlahnya ada 33 orang di Edelweis. Tapi pas masa caang selesai, kami
diklat dan resmi jadi anggota, angkatan gue tersisa 13 orang. Iya, 20 orang
gugur.
Padahal menurut gue,
fisik dan mental itu manfaatnya banyak dan udah gue rasain sendiri kok. Namanya
juga pecinta alam, kegiatannya di alam dan alam itu nggak pandang bulu, coy!
Dia nggak peduli apakah kita kuat atau lemah buat menghadapi dia, kalo dia mau
ngehajar ya hajar. Misalnya ketika kita naik gunung, kita harus tau dulu kalau
gunung itu bukan mall. Dia nggak punya eskalator, apalagi lift. Selandai apapun
trek pendakian suatu gunung, nggak akan selandai jembatan dari PIM 1 ke PIM 2. Kita
tetep butuh usaha, fisik yang kuat dan terlatih. Apalagi kalo kita naik gunung
sekelas Gunung Cikuray yang pendakiannya dengkul ketemu dada alias manjat tanah
sama akar, beuhhh! Kalo nggak latihan fisik, copot tuh jantung. Alam tuh nggak
bisa kasih kita ampun, coy. Dia nggak kayak treadmill
yang kecepatannya bisa kita tambah atau kurangin seenaknya.
Dan mental, ini juga amat
sangat pentiiing! Kalo mental kita cemen, kelar deh kita di alam. Ada yang
nggak enak dikit, ngeluh. Apa-apa ngeluh. Nggak bikin masalah kelar malah bikin
orang-orang sekitar kita kesel. Ketika mental kita siap dan terlatih, otak kita
bakal lebih cepat ketika menyelesaikan masalah yang ada karena kita juga jadi
lebih tenang kalo menghadapi sesuatu yang nggak beres. Kayak misalnya pas lagi
pendakian tiba-tiba kena badai, kalo mentalnya lemah pasti udah ketakutan dan
nangis mojok di tenda. Tapi kalo mental kita kuat, kita bisa aja justru jadi
menyiapkan antisipasi-antisipasi supaya efek badai itu nggak terlalu parah buat
kita, atau bisa juga berpikir tenang buat ambil keputusan untuk lanjut
pendakian atau turun aja.
Gue udah membuktikan
sendiri hal-hal di atas tadi. Fisik dan mental yang seimbang emang penting
banget. Kalo kita cuma punya mental yang kuat tapi fisik kita lemah, jelas
susah karena fisik kita bisa kenapa-napa nantinya. Apalagi kalo kita cuma punya
fisik yang kuat tapi mental kita lemah, itu jelas percuma menurut gue karena
mental kita yang lemah itu bisa bikin kita jadi sugesti diri kita sendiri bahwa
kita nggak kuat, kita bawaannya ngeluuuh terus, nggak semangat padahal
sebenernya sih fisiknya kuat. Cuma gara-gara mentalnya cemen aja jadi bisa
seolah-olah lemah gitu, dikit-dikit ngeluh. Pokoknya, fisik dan mental di
kegiatan pecinta alam dibutuhin banget deh!
Ada lagi satu hal yang
juga amat sangat penting di pecinta alam: ilmu! Iya, jelas. Ilmu itu emang
penting dimana-mana. Cuma terkadang pas jaman caang tuh ada aja orang yang
males-malesan kalo agenda forumnya tuh materi hahaha. Pas lagi diajarin materi
suka nggak nyimak, atau bahkan nggak dateng. Padahal pengetahuan dasar tentang
alam tuh jelas penting banget. Misalnya survival deh salah satu aja ya. Kalo (amit-amit)
kita nyasar di hutan, ilmu survival ini bakal berguna banget karena kita
bakalan tau hal apa aja yang mestinya kita lakuin. Makanan apa aja yang bisa
kita makan dan yang nggak bisa kita makan di hutan, bagaimana caranya bisa
mendapatkan air, daaaan masih banyak lagi! Atau misalnya pengetahuan tentang
penyakit-penyakit gunung, kalo ngerti kan kita jadi bisa kasih penanganan yang
tepat kalo ada yang sakit. Terus materi tentang navigasi, pertolongan pertama
gawat darurat, resusitasi jantung & paru-paru (CPR), dan masih bejibun materi
lainnya. Coba kalo nggak punya ilmu? Modal mental dan fisik doang nggak bisa
kita andalkan buat menyelamatkan diri kalo ada apa-apa di alam.
Balik lagi ke pengalaman
gue di Edelweis, masa caang yang berlangsung selama 8 bulan itu nggak selalu
mulus. Masalahnya banyaaaaak banget! Mulai dari masalah sama angkatan sendiri
gara-gara banyak yang cabut-cabutan, ada juga yang cinlok di sesama angkatan,
pernah ada yang kubu-kubuan juga dan beragam masalah anak kelas satu SMA yang
baru belajar organisasi lainnya. Ada juga masalah sama kakak abang kami, sampe
dulu setiap ketemu angkatan atas rasanya mau jambak aja! Hahaha nggak deng,
nggak semua kayak gitu, ehe. Tapi, semua masalah super nyebelin itu ternyata
ada hikmahnya: angkatan gue menyatu. Secara nggak sadar, masalah-masalah yang
kami hadapi itu bikin kami saling terbuka dan akhirnya kenal satu sama lain,
jadi diantara kami udah nggak ada jaim-jaiman sama sekali. Angkatan kami juga
semakin nyatu karena ketika kami punya masalah yang sama, kami mau nggak mau
bareng-bareng berpikir dan diskusi untuk menyelesaikan masalah itu.
Tapi, hal yang paliiiiing
nyebelin selama masa caang justru datangnya dari eksternal Edelweis. Dari
omongan anak-anak umum yang selalu anggap kami itu negatif. Stereotype mereka
udah terlanjur jelek ke kami, dan itu amat sangat nyebelin! Titik didih gue
sebelum meledak itu ketika ada orang yang menyebut latihan fisik di Edelweis
itu ‘penyiksaan’. Sadis. Kalo ekskul lain lari, push up, dan lain-lain di
lapangan mereka sebut latihan fisik/olahraga. Tapi ketika kami yang melakukan
itu, mereka sebut itu ‘disiksa’. Waktu gue caang, sering banget gue denger anak
umum bilang ‘mau aja sih lo dibego-begoin’. Kata-kata kayak gitu biasanya
muncul dari orang yang emang nggak suka sama kami dari dulu, atau bisa juga berasal
dari orang-orang yang mau menghasut salah satu dari kami untuk keluar dari
Edelweis. Tapi, ya udah lah ya, seleksi alam hahaha.
Padahal kalo gue denger
cerita dari alumni-alumni yang jaraknya lumayan jauh di atas gue, mereka sering
bilang kalo dulu Edelweis itu disegani. Karena zaman mereka itu, yang namanya
naik gunung nggak segampang sekarang, nggak sembarangan orang yang mampu untuk
naik gunung. Jadi, istilahnya ya mereka dianggap sebagai ‘bukan orang
sembarangan’, nggak ada yang berani ngelawan. Bukan cuma sesama murid, tapi
dulu pihak sekolah juga selalu bisa bekerjasama dengan baik sama Edelweis, itu
dulu. Seriiiiing banget gue denger cerita semacam itu, cerita kejayaan
Edelweis, sebelum gerak kami dibatasi aturan-aturan ketat dari sekolah seperti sekarang.
Lanjut ke masa-masa jadi
anggota yang berlangsung nggak terlalu lama. Diisi dengan mengenal Edelweis
lebih dalam lagi, terutama tentang keorganisasiannya. Karena di tahap ini, kita
bakal dipersiapkan sebagai pengurus Edelweis selanjutnya. Menurut gue,
masa-masa ini adalah masa paling tenang selama gue di Edelweis karena minim
konflik hahaha. Nyaris nggak ada masalah sama sekali! Kami juga mulai berdamai
dengan angkatan atas, karena setelah ini kami bakal bekerjasama sebagai
pengurus dan pengawas buat mendidik caang selanjutnya.
Nah! Pas mulai masuk ke
kepengurusan.......... jeng-jeng! Akhirnya gue ngerasain dan mengerti apa yang
kakak abang gue dulu rasain! Iya, akhirnya gue bener-bener ngerti alasan mereka
punya aturan ini itu selama angkatan gue caang dulu. Di masa ini, fisik nggak
terlalu dituntut lagi. Yang paling paling paling dituntut adalah otak. Otak kita
harus kerja, harus dipake untuk berpikir! Emang kedengerannya malesin kalo
disuruh mikir terus, tapi kita punya kebanggaan tersendiri karena nasib
organisasi besar ini sekarang ada di pundak kita. Kita dipercaya untuk
melanjutkan organisasi ini. Dan secara otomatis kita bakal mengerahkan ide-ide
dan pikiran-pikiran terbaik kita demi kelangsungan organisasi ini. Hal itu
bakal bikin kita semakin terlatih untuk menyelesaikan masalah-masalah, dan
mental kita jelas bakal semakin kuat. Yang terpenting, tenang aja karena kita
nggak sendiri. Kita punya sodara-sodara di angkatan kita yang bakal
bareng-bareng menghadapi semuanya sama kita, dan kita juga punya banyak kakak
abang yang siap sedia untuk membantu kita.
Ketika naik ke kelas 12,
tanggung jawab kita berubah lagi jadi pengawas. Disini yang dituntut adalah
loyalitas. Ketika kami udah harus memikirkan masa depan, harus fokus belajar
untuk masuk perguruan tinggi, kami tetap punya tanggung jawab di Edelweis. Kalo
kami nggak punya loyalitas, pasti kami bakal lepas tangan dan lebih memilih
untuk mikirin diri sendiri aja. Lagipula, tugas pengawas nggak susah kok. Sama
seperti namanya: pengawas, ya tugasnya cuma mengawasi aja. Jadi keterlaluan
kalo sampe lepas tangan, ehehe. Dan yang terpenting, angkatan gue juga udah
membuktikan kalo aktif di Edelweis nggak bikin kami lepas tanggung jawab dari
urusan lanjut kuliah. 70% dari ang 26-nya Edelweis masuk PTN, dan sisa lainnya
emang memutuskan untuk lanjut masa depannya lewat jalan lain. :p
Btw, berat badan gue
turun lebih dari 10kg selama gue kelas 10. Emang sih, faktor berat badan gue
turun itu bukan cuma karena ikut Edelweis yang sering latihan fisik itu, tapi
juga karena dulu gue ikut OSIS yang bikin tenaga dan pikiran gue terkuras
Senin-Jumat (padahal gue sering cabut, jangan ditiru ya) hahaha. Gue nggak
ngerasa itu sebagai kerugian sih, kan lumayan gue nggak perlu diet-diet ribet
gitu..... lumayan banget kan?
Itu baru beberapa hal
kecil yang gue dapet dari Edelweis. Masih banyaaaaaakkkk banget yang sebenernya
bisa diceritain. Gue nggak pernah tau gimana gue harus mendeskripsikan
Edelweis. Gue cinta banget sama organisasi ini, keluarga ini. Buat gue,
Edelweis adalah tempat untuk pulang. Sejauh apapun kita pergi, ketika kita
kembali lagi hal pertama yang bakal kita cari ya sodara-sodara kita di
Edelweis.
Ah, itu gambaran wall
climbing sekitar 3 tahun yang lalu, 2013. Kalo sekarang, wall climbing itu
sudah bertambah satu dengan ukuran tinggi yang setara dengan lantai 2 sekolah.
Warnanya berubah jadi hijau tua... dan sudah tidak ada tulisan ‘EDELWEIS 98’
yang besar lagi disana. Satu-satunya penanda bahwa wall climbing itu ‘milik’
Edelweis adalah logo organisasi itu yang masih ada di salah satu sisinya. Tidak
terlalu besar, tapi cukup untuk memberitahu orang-orang bahwa wall climbing itu
merupakan bagian dari kami, Edelweis 98. Mungkin nasib wall climbing itu sama
seperti orang-orang di dalam organisasi ini. Dulu kami punya nama besar yang
terpampang nyata di depan orang-orang. Tapi kini, nama besar itu mulai
terkikis... yang tersisa hanya persaudaraan kami yang masih erat, dan semoga
tidak akan terkikis. Seperti logo organisasi ini yang masih bertahan menghiasi
wall climbing, meskipun tulisan nama kami telah hilang.
![]() |
| Sebagian kecil dari Edelweis 98. Bener-bener sebagian kecil, cuma perwakilan beberapa angkatan. Kalo digabung dari angkatan pertama sampe sekarang entah ada berapa ratus orang. :') |
Ayo, bangun, Edelweis-ku. Jangan layu. Jangan sampai
arti namamu tidak memiliki makna apa-apa. Kamu harus bertahan. Kamu harus
abadi. Seperti bunga-bunga Edelweis di Alun-Alun Surya Kencana yang terus
bertahan meski diterjang badai hebat.
Tiada yang bisa
menghalangi kami
Tiada bisa meredam
kami
Persaudaraan kami
terus abadi
Karena kami
Edelweis 98!
xoxo,
Sendal 2017.
Minggu, 12 Februari 2017
Pernah Jadi Calon Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung
Melanjutkan postingan gue
tentang perjuangan gue untuk dapet kampus, kali ini gue bakal ngebahas lebih
dalam lagi tentang pengalaman gue di salah satu kampus yang gue ikuti ujian
masuknya kemarin. Buat yang mau tau apa itu STKS bisa cek web resminya disini. Sebelumnya, informasi yang gue bakal ceritain disini cuma dari
proses gue daftar STKS sampai dengan H-1 daftar ulang. Lebih banyak cerita gue
pribadi daripada detail tentang STKSnya. Buat soal-soal ujian tulis bakal gue
cantumin link sumber yang gue dapet buat belajar, dan gue juga ceritain tentang
proses wawancara. Jangan ekspektasi gue bakal ceritain secara detail seperti
apa kuliah disana, okay? Jangan membuka luka lama gue, hih. Tapi gue seneng
banget bisa nulis pengalaman ini, karena seru banget! Ya, buat gue pribadi sih
seru, banyak dramanya hahaha.
sumber: https://bocahbancar.files.wordpress.com/2013/03/papan-nama-stks-bandung-2013.jpg
Jadi, pertama kali gue
tau STKS itu dari browsing waktu gue kelas 11. Waktu itu gue lagi dilema,
karena yang tadinya gue mau Kriminologi, tiba-tiba mau ke Sosiologi, eh
tiba-tiba tertarik juga ke Kesejahteraan Sosial (Kesos). Jadi lah itu gue
browsing kampus mana aja yang punya jurusan Kesos. Ternyata gue malah nemuin
sekolah tinggi-nya, dibawahi Kementrian Sosial pula!
Dari situ gue langsung
semangat banget nyari info tentang STKS. Jujur aja, info tentang kampus ini di
internet tuh minim banget, nggak sebanyak Perguruan Tinggi Kedinasan lainnya.
Btw, iya STKS ini kedinasan, tapi nggak ada ikatan dinas yang artinya mahasiswa
yang lulus dari sini nggak langsung disalurin kerjanya gitu. Nah, terus gue
nanya-nanya deh ke guru BK di sekolah gue. Tapi ternyata belum pernah ada murid
dari SMA gue yang masuk ke STKS, bahkan dari sekian banyak guru BK yang ada,
cuma Bu Asih yang tau apa itu STKS. Beliau sangat mendukung gue kalo gue emang
mau kuliah disana. Terus, beliau kasih tau ke gue kalo ada salah satu guru yang
anaknya lulusan STKS. Gue langsung cari guru itu yang notabene gue nggak
kenal-kenal amat karena beliau gurunya anak IPA, Pak Khae. Dan dari cerita
temen-temen gue, beliau lumayan ‘galak’. Tapi bodoamat lah ya, demi masa depan
gue, dijutek-jutekin dikit nggak masalah!
Begitu gue ngobrol sama
Pak Khae, ternyata beliau nggak galak kok. Beliau galak emang sama murid yang
bikin masalah sama dia aja. Info yang gue dapet dari Pak Khae nggak terlalu
banyak, karena beliau nggak terlalu ngerti juga tentang STKS, kebanyakan
anaknya mengurus apa-apa secara mandiri. Info penting yang gue dapet adalah
anaknya yang begitu lulus dari sana langsung dapet kerja di dinas sosial daerah
Jakarta Timur, tapi gue lupa tepatnya dimana. Karena info yang gue dapet dari
guru-guru juga nggak cukup, mau nggak mau gue cari tau sendiri lagi. Tapi ya
gitu, nggak banyak yang bisa gue dapet karena info tentang kampus ini minim
banget.
Setahun berjalan, gue
nggak terlalu mikirin STKS lagi karena prioritas gue waktu itu mau masuk
Sosiologi UI. Tapi seperti yang gue ceritain di postingan sebelumnya, semuanya
nggak berjalan semulus yang gue mau. Akhirnya, gue siap-siap untuk daftar STKS.
Di akhir bulan Mei, gue buka web resminya, tapi ternyata pendaftarannya belum
dibuka. Berbeda dengan kampus kedinasan biasanya, STKS ternyata baru membuka
pendaftaran di awal bulan Juli.
Gue nunggu pendaftarannya
buka dengan amat sangat nggak sabar. Begitu hari pertama pendaftaran onlinenya
buka, gue langsung mendaftarkan diri. Nggak susah sama sekali, karena cuma
mengisi beberapa informasi dasar. Setelah itu, kita mesti bayar biaya
pendaftarannya dengan membayar langsung ke teller. Gue agak lupa, kalo nggak
salah setelah daftar itu bakal ada nomor semacam kode yang kita kasih ke teller
untuk bayar atau pake slip gitu, maaf banget gue beneran lupa hehehe. Pokoknya
setelah bayar, kita bakal dikasih kode gitu buat masuk ke pendaftaran
selanjutnya. Nah disini baru deh mengisi tentang berkas-berkas gitu.
Setelah proses di onlinenya
selesai, ada lagi berkas-berkas yang harus dikirim langsung ke STKSnya di
Bandung. Ya, semacam fotokopi ijazah, fotokopi rapot, dan hal-hal semacamnya.
Tahap ini jangan sampai lupa, karena takutnya bisa dianggap nggak daftar karena
belum mengirim berkas fisiknya. Begitu proses pendaftaran ini selesai, tinggal
nunggu aja deh test tertulisnya.
Tentang test tertulis ini
gue cari tau dari dua web, yaitu: klik disini dan klik disini juga. Di blog-blog gue dapet
soal-soal test tahun sebelumnya. Cuma dari web itu gue bisa belajar, karena
contoh soal-soal latihan untuk masuk ke STKS tuh nggak ada sama sekali. Kalo
nggak ada dua web itu nggak tau deh gue mesti gimana, buta banget sama apa yang
bakal keluar di soal. Yang gue tau paling cuma beberapa pelajarannya aja. Pelajaran
yang diujikan ini ada enam: Pancasila, UUD 1945, Pengetahuan Umum Kesejahteraan Sosial, Logika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.
Nah, tips gue buat kalian yang mau daftar
ke STKS belajarnya dari soal-soal itu aja. Oiya, tempat pelaksanaan test ini
kalian bisa pilih sendiri mana yang terdekat dari tempat kalian. Misalnya gue
di tinggal Depok, gue pilih untuk test di Jakarta. Kalo di Jakarta, tempat
testnya itu di Kementrian Sosial RI. Kalo kalian milih di Bandung, testnya
langsung di STKSnya. Sedangkan di daerah lain, setau gue tempat testnya itu
semacam di dinas sosial setempat gitu deh.
Tiba lah hari test
tertulis itu. Gue berangkat dengan perasaan amat sangat tenang, nggak sepanik
waktu gue mau SBMPTN. Mungkin karena gue pede banget udah menguasai soal-soal
latihan tahun lalu. Mungkin juga karena gue udah melewati test neraka macam
SBMPTN, jadi udah berpengalaman dan sedikit kebal menghadapi test-test semacam
ini lagi. Satu-satunya hal yang bikin gue nggak tenang adalah di hari itu paket
data gue abis sedangkan pulsa yang gue beli belum masuk juga. Kalo nggak ada
paket data, gimana gue bisa order gojek buat pulang, cuy?!
Gue dateng lumayan
kecepetan, jadi gue harus nunggu sendirian duduk-duduk di lobi gedungnya.
Daripada gabut, gue ngeliat denah tempat duduk. Lagi-lagi gue lupa berapa
pesertanya hari itu, kalo nggak salah sih yang test di Jakarta ada sekitar 600
atau 800 orang. Kami test di satu aula luas di dalam gedung yang kursinya udah
disusun jadi beberapa baris sampai jumlah kursinya sesuai dengan jumlah
peserta. Nomer peserta menentukan posisi duduk, waktu itu nomer peserta gue 32.
Itu artinya gue orang ke-32 yang mendaftar hahaha, serius. Nah, barisan kursi
ini tuh sistemnya diurut ke belakang sampai 30 baris. Itu artinya gue ada di
baris kedua, shaf kedua pula. Di depan coyyyy, di depaaaannn!
Yang lebih bikin betenya
lagi, testnya cuma pake kursi, nggak ada meja. Gue harus menghabiskan waktu
dari jam 8 - 12 duduk disitu sambil nunduk ngebuletin jawaban pake papan jalan.
Sumpah, pegel banget bangke! Rasanya gue bener-bener mau duduk lesehan di bawah
terus kursinya gue jadiin meja gitu biar nggak sakit punggung gue, huft. Dan
sebenarnya gue nggak terlalu mempermasalahkan kalo gue duduk di depan dari
sekian ratus kursi itu, karena gue nggak bakal nyontek juga. Tapi pas gue
selesai ngerjain soal, gue keluar gedung ngelewatin mereka yang duduk di
baris-baris belakang dengan posisi duduk mereka yang super seenaknya. Asli,
enak banget duduk di belakang. Nggak perlu mikirin takut dianggap nggak sopan
karena mereka nggak keliatan-keliatan amat dari depan. Lah gue? Udah pegel
setengah mati, tapi harus tetep tau diri lah. Daripada pas gue lolos wawancara
terus nanti ada pengawas ujian yang ngenalin gue terus bilang: “Oh kamu yang
nggak sopan duduk seenaknya pas ujian tulis? Nggak usah wawancara deh, kamu
ditolak.” Hahaha who knows?
Ngomong-ngomong soal test
tulis, gue nggak mau sombong, tapi serius gampang banget buat gue. Karena gue
bener-bener belajar dari soal-soal tahun lalu, yang ternyata banyak soal yang
sama! Hahaha. Gue saking hafalnya sampe nggak perlu baca soal sampe habis. Dari
waktu dua jam yang disediakan di setiap sesi, gue menyelesaikannya cuma dalam
waktu 30 menit untuk masing-masing sesi. Dan gue bisa pulang dengan tenang juga
dengan perasaan super pede bakal lolos ke tahap wawancara. Asli, gue nggak
pernah sepede itu seumur hidup gue.
Untungnya, tebakan gue
nggak salah. Waktu pengumuman test tulis dari seluruh Indonesia, gue jadi salah
satu orang yang lolos untuk wawancara ke Bandung! Gue seneng banget paraaaaah!
Karena gue yakin pasti bakal lolos wawancaranya hahaha. Pengalaman gue ikut dua
organisasi yang super menguras tenaga dan pikiran di SMA harusnya nggak
mengecewakan dong? ;)
Kebetulan, sebelum
pengumuman lolos ke wawancara itu gue juga udah dapet pengumuman SBMPTN yang
ternyata gue diterima di Sosiologi UNJ. Tapi karena gue masih pengen banget
kuliah di STKS, jadi gue tetep lanjutin aja ikut wawancara. UNJnya bisa nunggu
kok. :’)
Langsung aja ke hari dimana gue berangkat ke
Bandung untuk wawancara. Gue naik travel malam, jadi siangnya gue masih sempet
untuk main ke sekolah karena temen-temen gue juga lagi disana. Gue juga sempet
nanya-nanya sama temen gue yang test masuk polisi tentang pengalaman wawancara
dia, meskipun pasti nggak bakal sama. Gara-gara gue yang keasikan main di
sekolah, gue hampir aja ketinggalan travel sampe nyokap gue ngomel panjang
lebaaarrr.
Gue mau curhat sedikit.
Jadi, pas banget waktu gue lagi dalam perjalanan ke travel di daerah Tanjung
Barat, gue dapet chat yang bikin nyeseeeeek banget, parah. Selama liburan UN
itu kan gue emang lagi deket sama orang. Dia sih udah pasti lolos di kampus
yang dia mau karena dia lolos undangan, jadi dia support gue terus buat dapetin
kampus. Eh, pas gue mau wawancara dia malah minta udahan. Kesel gak? Maksud
gue, kalo emang mau udahan ntar dulu kek gitu, tunggu wawancara gue kelar dulu.
Timing-nya nggak pas banget sih! Gue
yang udah siap banget wawancara jadi mendadak ngedown banget, asli. Sepanjang
perjalanan Jakarta-Bandung, di travel gue cuma bengong-bengong hampir mewek
sambil ngeliatin ke luar jendela yang secara amat sangat kebetulan juga lagi
hujan. KESEL GAK!??!?!?!??!??!?!
Oke, cukup curhatnya.
Ehm.
Begitu sampai di Bandung
udah sekitar jam 11 malam, gue dijemput sama sepupu gue. Selama disana gue
tinggal di rumahnya. Keluarganya dia lagi di Medan, dan dia juga kebetulan
banget beberapa hari itu harus jaga di kantor, dia polisi dan gue nggak ngerti
jam kerjanya gimana hahaha. Yang jelas, di rumah itu gue sendirian. Untungnya
itu rumah dinasnya dia yang ada di belakang Polrestabes Bandung, tempat dia
kerja. Jadi aman-aman aja, ehe.
Besok paginya, sepupu gue
itu nganterin gue ke STKS di daerah Dago yang ternyata nggak terlalu jauh dari
rumahnya. Cuma sekitar 15 menitan. Gue masuk ke STKS dan akhirnya mengerti
kenapa dia disebut kampus biru, karena emang semuanya serba biru. Nggak lama,
gue langsung ke papan pengumuman gitu karena banyak orang disana, gue jadi ikut
penasaran hahaha. Ternyata itu pengumuman pembagian ruangan wawancara dan
jamnya. Gue langsung ke tempat dimana nama gue tertulis.
Begitu gue di depan
ruangan wawancara itu, ternyata udah rame juga sama orang-orang yang satu
ruangan bareng gue. Gue kenalan sama beberapa orang, dan seru banget! Sebagian
besar mereka asalnya dari luar Bandung. Bahkan dari luar Jawa! Ngobrolnya jadi
seru banget karena berbagai macam logat jadi satu. Dan gue baru tau emang
ternyata peminat STKS itu justru kebanyakan orang luar Bandung sendiri,
termasuk anak-anak Indonesia bagian timur yang banyak gue temuin disana waktu
itu. Ada yang berangkat sendiri, ada juga yang dianter orang tuanya.
Di kantin gue kenalan
sama salah satu anak dari daerah Jawa Tengah yang dateng sama ayahnya. Mereka
baru sampai di Bandung pagi-pagi sebelum jadwal wawancara, sengaja supaya nggak
perlu cari tempat menginap. Rencananya setelah wawancara, mereka mau langsung
pulang hari itu juga. Tapi sialnya karena waktu wawancara yang nggak cukup,
anak itu mesti masuk ke kloter wawancara besoknya. Si bapak nanya ke gue dimana
dia bisa cari tempat menginap yang murah, tapi sayangnya gue nggak tau sama
sekali...
Setelah ngobrol sama
mereka di kantin, gue pamit untuk balik ke ruangan gue karena nama gue sebentar
lagi akan dipanggil. Dan bener aja, baru gue sampe di depan ruangannya, nama
gue langsung dipanggil. Gue pasang ekspresi setenang mungkin. Gue yakin, gue
bisa jawab pertanyaan-pertanyaannya. Cuma satu masalahnya, kemampuan bahasa
inggris gue cetek! Emang sih, dari info yang gue dapet, wawancaranya nggak
harus pake bahasa inggris, tapi bakalan ada saat dimana kemampuan bahasa
inggrisnya ditest juga.
Oiya, gue hampir lupa.
Sebelum wawancara itu, kita diminta untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan yang
ada di sebuah lembar kertas. Pertanyaannya itu tentang diri kita sendiri, kayak
pengalaman organisasi, kegiatan sosial apa yang pernah kita lakukan, terus
kenapa tertarik masuk STKS, dan hal-hal semacamnya. Nah, kertas ini bakalan
jadi bahan wawancara juga.
Pas gue masuk ke ruang
wawancara, gue disambut sama tiga orang yang salah satunya gue nggak tau
perannya apa dan yang dua lainnya sebagai orang yang mewawancara. Setelah gue
duduk di depan dua orang itu, wawancara pun dimulai dengan hal-hal basic tentang gue. Semacam nama, asal
sekolah, dan hal-hal dasar lainnya. Terus dilanjut dengan berdasarkan kertas
yang gue isi tadi. Pertama kalo nggak salah tentang organisasi. Alhamdulillah
gue ikut dua organisasi waktu SMA, dan itu nolong banget! Terutama di pecinta
alam, karena jabatan gue lumayan lah ya bagusan dikit, ehe. Terus gue ceritain
pengalaman gue di organisasi gitu gitu deeeh. Serius, bagian tentang pengalaman
organisasi di wawancara menurut gue bener-bener nolong, jadi selamat untuk
kalian yang aktif di organisasi dan mau lanjut kuliah yang ada wawancaranya
(meskipun penilaiannya nggak cuma berdasarkan itu sih haha). Nah, setelah itu
wawancaranya mulai pake bahasa inggris. Beliau nanya dulu gue mampu atau nggak
untuk ngobrol pake bahasa inggris, dan gue jawab ‘sedikit’. Jadi, beliau nanya
tentang keluarga gue dan apakah di keluarga gue ada yang bergerak di bidang
sosial juga atau nggak. Terus beliau juga nanya gue tau STKS darimana, pas gue
jawab gue tau sendiri berkat browsing beliau nggak nyangka juga karena
kebanyakan yang daftar disitu karena direkomendasi orang sekitarnya atau bahkan
dikirim sama pemdanya masing-masing untuk belajar di STKS. Beliau lebih nggak
nyangka lagi ketika gue bilang di SMA gue udah meluluskan 27 angkatan dan nggak
ada satu pun yang pernah masuk STKS. Beliau bilang menurut dia, gue seniat itu
buat masuk kampus itu hahaha. Selanjutnya beliau nanya tentang kegiatan sosial
yang pernah gue lakuin. Hal lain yang ditanya adalah pengetahuan gue tentang
kesejahteraan sosial dan apa tujuan gue di bidang kesos ini. Dan yang terakhir,
gue ditanya gimana kalo misalnya gue menemukan ada masalah tentang kampus yang
bisa bikin gue nggak nyaman kuliah disitu, langkah apa yang bakal gue lakuin
untuk menghadapinya. Pas bagian terakhir ini, gue agak ribet pake bahasa
inggris jadi gue minta izin pake bahasa indonesia aja hahaha. Gue jawab intinya
gue bakal coba ngomong sama yang berwenang di kampus kalo gue ngerasa ada yang
nggak beres. Yang sempet bikin gue agak mikir adalah ketika beliau bilang ‘kamu
nggak akan ngeshare permasalahan itu di media sosial?’ sambil agak senyum
gimana gitu haha. Waktu itu gue jawab nggak, karena menurut gue kan masalahnya
di internal kampus, kalo di medsos gimana bisa selesai masalahnya? Tapi setelah
gue sekarang jadi mahasiswa, gue ngerasa perspektif gue agak sempit waktu itu
hahaha. Menurut gue, dibagian wawancara ini hal lain yang terpenting adalah
alasan untuk masuk STKS harus bener-bener meyakinkan dan kalian bisa
memperlihatkan itu sampe beliau percaya dengan keyakinan lo. Gue juga sempet
ditanya berapa persen gue yakin bakal lolos di STKS, yang gue jawab 98% dan gue
beberkan alasannya. Inget, harus meyakinkan!
Begitu wawancara selesai,
gue langsung pesen gojek. Rencananya mau langsung balik ke rumah sepupu gue
itu, tapi kayaknya Bandung terlalu sayang untuk dilewatkan *halah*. Pas
diperjalanan, gue ngelewatin Bandung Indah Plaza dan memutuskan untuk mampir.
Gue update di path, dan temen lama gue yang ngekost di Bandung ngajak meet up,
yay! Padahal tadinya gue mau langsung pulang ke Depok setelah wawancaranya
selesai, tapi karena gue udah lama banget nggak ketemu temen gue itu jadinya
gue menjelajah Kota Bandung yaaaay! Nyokap gue udah nelfon-nelfon nyuruh
pulang, tapi untungnya kebetulan travelnya juga waiting list jadi gue dibolehin
untuk disana satu hari lagi.
Tapi, drama baru dimulai.
Gue yang lagi seneng-seneng main disana, tiba-tiba ditelfon nyokap lagi. Dan
gue super kesel denger apa yang nyokap gue bilang, asli kesel banget. Nyokap
gue tiba-tiba bilang kalo gue kuliah di UNJ aja, kalo keterima di STKS nggak
usah diambil. Iya, tiba-tiba nyokap nggak ngizinin gue padahal gue udah sampe
ke tahap ini. Gue udah selesai jauh-jauh wawancara ke Bandung dan tiba-tiba
baru dibilang nggak diizinin. Kesel nggak sih woeee?!?!? Maksud gue, kalo emang
nggak ngizinin kenapa nggak dari awal aja gituuuuu, hft. Tapi gue nggak
segampang itu untuk nurut, pasti.
Nah, pas tanggal
pengumuman gue bangun agak siang. Pas gue buka whatsapp, sepupu gue yang di
Bandung itu ngechat gue untuk ngucapin selamat karena gue lolos! Gue langsung
ngecek webnya dan bener, gue lolos. Gue langsung ngobrol sama ortu gue, dan
nyokap tetep nggak ngizinin gue sedangkan bokap ngebebasin aja. Setelah nego
segala macem, akhirnya gue diizinin tapi dengan berat hati hahaha.
Pengumuman kelolosan itu
mepet banget sama tanggal daftar ulangnya. Kalo nggak salah jaraknya nggak
sampe seminggu. Gue jelas buru-buru buat nyiapin semua perlengkapannya, gue
juga udah cari tempat kost segala macem. Rencananya gue bakal berangkat ke Bandung
hari Minggu, dan Senin-nya langsung daftar ulang. Selama nunggu hari H gue
berangkat, gue ngobrol sama orang-orang terdekat gue. Dan obrolan-obrolan itu
bikin gue goyah. Goyah banget. Mereka kasih gue banyak alasan untuk pilih UNJ
aja.
Gue mau curhat colongan lagi.
Ada yang cara ngelarang gue ke Bandung-nya paling kampret. Selama SMA kan gue
ikut pecinta alam, mereka deket banget sama gue bener-bener kayak sodara. Terus
pernah gue sakit perut banget garagara menstruasi, gue langsung minta tolong
salah satu dari mereka (Dimas) buat beliin jamu khusus sakit karena menstruasi
gitu deh. Cari tukang jamunya sampe muter-muter pake google maps segala pula. Terus
pas udah kebeli dia bilang: “Coba bayangin kalo lu di Bandung ntar, mana ada
temen yang mau beliin jamu ginian sampe muter-muter, cowok pula!” dan gue
setuju sama omongannya sih hahaha.
Pertimbangannya banyaaaak banget. Gue jadi
kayak langsung kepikiran, ternyata yang nggak mau gue di Bandung bukan cuma
nyokap gue aja. Semaleman gue mikir, merenung abis-abisan. Dengan segala
pertimbangan dan alesan yang nggak bisa gue ceritain, yang jelas bukan karena
omongannya Dimas. Akhirnya gue pilih UNJ.
Besoknya, sepupu gue
dateng untuk jemput gue. Tapi, di H-1 daftar ulang itu akhirnya gue memutuskan
untuk batal kuliah disana. Drama lagi. Nangis sampe sesenggukan parah. Gue
males ceritainnya saking dramanya hahahaha. Sedih banget kalo diinget, tapi
mungkin emang takdir gue nggak disitu. Gue nggak mau egois buat ngotot nurutin
kemauan gue buat kuliah disana, gue harus mikirin orang-orang sekitar gue juga.
Tapi ya nggak bisa bohong sih, sedih banget, cuy! Asli, cerita untuk masuk ke
dunia perguruan tinggi tuh emang penuh drama. Amat sangat banyak drama. Tapi
satu yang gue mengerti dari cerita ini, bahwa masa depan gue bukan cuma milik
gue sendiri karena kita nggak hidup sendirian. Banyak orang terdekat di sekitar
gue yang jauh lebih penting gue utamakan daripada ambisi pribadi gue sendiri. Lagipula,
yang gue jalanin sekarang juga jurusan yang gue suka, jadi gue bisa enjoy.
Untuk sukses nggak cuma punya satu jalan, kan?
Semangat untuk
temen-temen semua yang masih berjuang untuk dapetin kampus yang diinginkan!
Semoga drama yang akan/sedang kalian jalani sekarang bisa lewat dengan mudah
ya, jangan kebanyakan menguras air mata, capek soalnya. Mending tenaganya buat
usaha dan doa, deh. Apapun almamaternya, kalo bidangnya sesuai dengan passion kita, pasti ngejalaninnya juga
enak kok! Semangaaatttt!
xoxo,
Sendal, 2017.
Minggu, 07 Agustus 2016
Empat Kali Ikut Seleksi Masuk Kampus!
Assalamualaikum!
Halo! Hai! Hey! Woy! Watsap?!
Sesuai dengan judulnya, gue mau cerita pengalaman gue 4 kali ikut seleksi masuk kampus lewat berbagai jalur, yaitu SNMPTN, SBMPTN, seleksi masuk di suatu universitas swasta, dan seleksi masuk di suatu perguruan tinggi kedinasan. Dan gue mau ingetin dari sekarang, postingan ini bakal panjang banget. Jadi kalo gak minat baca panjang panjang, gak usah dibaca gak papa kok. 😁
Gue mau cerita perjuangan awal gue mulai dari ikut SNMPTN alias jalur undangan, ok? Buat anak anak SMA angkatan 2016 ke bawah, pasti tau kan ketentuan baru SNMPTN yang beda dengan tahun sebelumnya? Yak, nggak kayak tahun sebelumnya yang semua murid boleh ikut jalur undangan, di tahun 2016 ini kuota untuk daftar jalur undangan ditentukan oleh akreditasi sekolahnya. Jadi hanya sebagian murid yang bisa ikut, yaitu akreditasi A sebanyak 75%, akreditasi B sebanyak 50% dan akreditasi C sebanyak 25% dari jumlah murid kelas 12nya.
Alhamdulillah, sekolah gue akreditasinya A (bahkan katanya sekolah gue punya nilai akreditasi tertinggi ke-dua se-DKI Jakarta, but kalo pada gak percaya gak papa kok gue ngerti wkwkwk). Jadi, sekolah gue punya kesempatan mendaftarkan 75% muridnya. Step pertama, semua anak wajib input nilai sejak semester satu sampai semester lima. Dan waktu itu, step ini agak terkendala karena nilai semester satu sampai empat itu berbentuk huruf (A+, A, A-, B+, dst.) Sedangkan untuk input nilai itu harus berbentuk angka, jadi pihak sekolah agak kerepotan juga buat konvert nilainya. Nah, pas semuanya udah input nilai ke web SNMPTNnya, kita tinggal tunggu pengumuman siapa yang lolos 75% kuota itu. Gue lupa pengumumannya berapa minggu setelah input nilai, dan pengumumannya itu sistemnya peserta login ke webnya. Kalo berhasil untuk login artinya peserta lolos untuk kuota 75% itu dan berhak ikut jalur undangan, dan kalo gak berhasil login berarti peserta tidak berhak ikut jalur undangan.
Waktu itu gue ternyata dapet kesempatan di kuota itu. Jujur gue agak bingung kenapa gue dapet, karena ada beberapa temen temen gue yang nilainya lebih tinggi dari gue justru gak lolos. Gue beneran nggak tau bisa lolos, pengumumannya aja gue minta login-in sama temen gue saking gak minat ngebuka karena yakin gak lolos. Bukan maksud menyinggung atau apa ya, maksud gue bilang gitu kalo ntar ada yang nanya cara biar lolos di tahap ini, gue nggak tau. Jadi banyak banyak berdoa aja, ok? Dan cari aman aja, naikin nilai tiap semester ok?
*sok banget nasehatin padahal nilai sendiri ngaco*
Di SNMPTN, dari tiga pilihan gue cuma ambil satu pilihan yaitu Antropologi UI. Kenapa cuma satu? Karena gue nggak tau mau pilih kampus mana lagi, dan ya itung itung biar keliatan kalo gue prioritas banget disitu sampe rela 'ngebuang' sisa dua pilihan lagi hahaha. Dan kenapa pilih Antropologi UI? Karena gue mau banget bisa gabung sama FISIPnya, gue pernah ikut acara tentang FISIPnya dan gue ngerasa 'gue harus bisa gabung sama mereka'. Idk why, atmosfernya beda aja gitu sulit dijelaskan pokoknya hahaha. Apalagi UI deket banget dari rumah gue, cuma dua kali belok! Dan sebenernya gue lebih berminat ke Sosiologi, tapi gue pilih Antropologi karena di angkatan gue nggak ada yang ambil jurusan itu, jadi seenggaknya gue nggak punya saingan di sekolah... karena ya gitu, gue sadar diri aja nilai gue gak bagus bagus amat. 😅
Sebenernya gue hopeless juga bakal dapet atau nggak, soalnya ada nilai gue yang agak naik turun dan apalagi nilai matematika gue yang hancur lebur... dapet 70 aja Alhamdulillah banget. Ditambah lagi, di jurusan itu nggak ada alumni sekolah gue padahal alumni sekolah itu lumayan berpengaruh juga ke penerimaan mahasiswa di tahun tahun bawahnya. Dan gue cuma bisa berdoa aja.
Sampai akhirnya pengumuman................. ALHAMDULILLAH GUE DAPET HUKUM! GILA, HUKUM COY HUKUM!
Lho, kok dapet hukum? Iya, hukumam dari Allah garagara 3tahun sekolah kerjaan gue cengengesan aja. Yak, gue nggak lolos. Tapi karena gue realistis dari awal, jadi gue cuma kayak 'ohh yaudah, masih ada SBMPTN'. Bener bener cuma kayak gitu. Padahal katanya tuh sampe ada yang nangis, down banget, dll. Tapi gue bener bener biasa aja. Gue sadar diri kali, ya? Hahaha kan gue lumayan menyia-nyiakan masa SMA gue, baru sekolah beneran cuma pas setahun terakhir aja hahaha.
Gue juga nggak nyesel cuma ambil satu pilihan pas daftar, soalnya menurut gue mending coba lagi di SBMPTN daripada ngisi pilihan di jalur undangan tapi ngisinya cuma sekedar 'yang penting dapet kampus', kalo keterima dan gue gak minat sama kampusnya kan sayang juga...
OKAAAAAY. Setelah pengumuman itu gue langsung move on. Gue langsung daftar SBMPTN. Jujur sajaaa di jalur tulis ini gue nggak berharap banyak, sekedar coba coba kali aja untung hahaha soalnya gue buta sama materi materinya. Jangankan SBMPTN, materi UN di otak gue aja tiris banget. Ditambah lagi selama kelas 12 gue gak pernah ikut bimbel apapun, gue juga nggak bener bener belajar buat SBMPTN dari awal sedangkan sisa waktunya cuma satu bulan. Duh, pokoknya bagian ini jangan ditiru! Gue saranin buat adik adik *halah* belajar buat SBMPTN dari awal, meskipun kalian pede baaaanget bisa lolos di jalur undangan, tapi menurut gue jaga jaga aja deh belajar dari awal.
Di jalur ini, gue rencananya akan memaksimalkan kesempatan yang ada. Awalnya, gue isi pilihan pertama Sosiologi UI, terus Antropologi UI dan terakhir Pendidikan Sosiologi UNJ. Jangan mikir kenapa gue tibatiba mau masuk Pendidikan Sosiologi, nggak kok ini nggak tiba tiba. Gue bakal ceritain lengkap tentang kenapa gue pilih Pendidikan Sosiologi di postingan selanjutnya, ok? Ok.
Btw, setelah isi pilihan itu gue nggak langsung download kartu peserta yang artinya nge-fix-in pilihan itu. Gue sempet logout, dan tanya sana sini tentang pilihan gue itu. Setelah nanya nanya, banyak yang saranin gue untuk jangan isi UI di pilihan satu dan dua. Gue disaranin untuk pilih satu aja yang di UI, dan satunya lagi akhirnya gue mau isi untuk Pendidikan Sosiologi UNS. Kenapa UNS? Karena disuruh ortu, alesannya disana banyak sodara jadi ada yang jagain hahaha.
Setelah itu gue login lagi untuk ngisi beberapa data yang masih gue kosongin....... dan gue langsung download kartu pesertanya. GUE LUPA GANTI PILIHAN. Iya. Gue lupa. Kampret. Dan kalo udah download kartu peserta, udah nggak bisa diganti. Jadi lah gue tetep di pilihan awal: UI, UI, UNJ.
Selama menuju ke hari H, gue cuma sesekali buka buku latihan soal. Gue cuma ngerjain soal soal sosiologi aja karena itu satu satunya pelajaran yang gue lumayan ngerti. Gue pasrah banget, beneran pasrah. Gue belajar nggak ngerti ngerti, asli. Soal SBMPTN emang neraka jahanam.
Daaan tiba lah hari itu. Gue tes di daerah Pondok Labu. Berangkat pagi pagi dianterin bokap yang rela ambil cuti cuma untuk nganter dan jemput gue tes hari itu, aaaah kish kish. :')
Selama nunggu waktu mulai tesnya, kanan kiri gue tuh pada belajar. Gue? Nggak bawa buku apapun, cuma bisa stalking instagram orang aja. Karena menurut gue, sebelum ujian itu gak usah buka buka buku lagi, udah tinggal hadepin aja wkwkwk.
Setelah setengah jam nunggu, tesnya dimulai. Pertama TPA, di awal gue masih santai yakan soal yang susah di skip dulu... skip, skip, skip. Tautau soalnya udah abis. Pas gue liat ljk, yang baru gue isi cuma belasan. Ok. Bagus. Jadi lah gue harus baca ulang puluhan soal sisanya lagi. Lumayan ada beberapa yang bisa gue isi..... pake insting wkwkwk. Gue masuh mau coba baca lagi, dan sialnya waktu habis. Gue cuma bisa kerjain 30 soal dari... berapa soal ya? 60 atau 90 sih? Lupa wkwkwkwk 😂
Oiya, ada satu fakta penting........ MATEMATIKA GUE KOSONGIN SAMA SEKALI. Bener bener kosong. Nggak ada yang gue isi. Bodoamat. Gue nggak peduli, gue bener bener buta matematika. Daripada gue isi ngasal jadi gue kosongin aja, bodomat. Gue keluar ruangan lemes banget, udah hopeless sama sekali. Apalagi karena matematika gue yang kosong itu, gue ngerasa nggak ada harapan. Jadi selama istirahat gue udah pasrah buat ngerjain TKD Soshumnya nanti.
Istirahat selesai, mulai ngerjain soshum... ada yang aneh. Gue ngerasa soalnya masih bisa gue nalar. Iya. Gue ngerasa pinter. Padahal nalar, bukan hasil pemikiran pasti yang bener bener gue tau jawabannya. Apalagi sosio, gue isi 13 nomer dari 14 nomer. Dan gue cuma bisa kerjain total 33 nomer dari 60 nomer keseluruhan. Tapi sisa waktunya masih banyak sekali ternyata. Gue gabut setengah jam lebih karena gue udah selesai dan nggak mau ngisi lagi daripada mengarang bebas.
Pas pulang, gue cerita sama bokap kalo soalnya susah banget dan jangan berharap gue lolos. Terus gue cerita ke temen temen gue kalo gue nggak ngisi matematika sama sekali..... dan mereka ngebego begoin gue huuu sedih. Bodoamat. Mereka memang jahat sekali.
Setelah gue sampai di rumah, ortu gue langsung saranin untuk daftar di swasta, di Universitas Gunadarma. Deket rumah. Lebih deket daripada UI. Kalo ke UI dua kali belok, kalo ke gundar cuma sekali. Gue tadinya nggak mau karena gue masih punya rencana untuk ikut tes di suatu perguruan tinggi kedinasan.
Iya, jauh sebelum hari H SBMPTN, gue juga udah daftar di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial di Bandung. STKS itu perguruan tinggi kedinasan (tidak ikatan dinas) di bawah Kementrian Sosial RI. Seleksi masuk STKS itu berlangsung H-5 sebelum pengumuman SBMPTN. Untuk tes kali ini, gue bener bener belajar karena materinya lebih mudah gue serap daripada materi SBMPTN, walaupun sumber belajar untuk tes STKS nggak terlalu banyak. Bahkan kalo googling, cuma ada dua blog yang bisa dijadikan sumber belajar tes STKS.
Gue ikut tes di Kementrian Sosial di daerah Salemba. Gue lebih santai untuk tes kali ini daripada SBMPTN, karena gue ngerasa belajar gue udah cukup. Dan bener aja, pas ngerjain soal nyaris semuanya bisa gue jawab. Latihan soal yang gue baca di blog blog itu emang bener bener ngebantu! Pas pulang, gue bener bener pede bakal lolos tahap tes tulis ini. Kalo gue lolos gue mesti ikut tahap kedua, wawancara ke Bandung. Untuk STKS, gue juga bakal ceritain lengkapnya di postingan selanjutnyaaa!
Btw, setelah gue pulang tes. Nyokap gue masih takut gue nggak dapet kampus, jadi nyokap tetep maksa coba daftar di Gunadarma. Padahal gue pede banget lolos STKS, lagian kan sayang uang pendaftarannya kalo ternyata gue lolos. Tapi ortu gue bilang nggak papa daftar aja. Jadi, gue nurut dan gue pilih Psikologi.
Berhubung kakak sepupu gue yang tinggal di rumah gue kuliahnya di gundar, jadi urusan daftar daftar nggak ribet mesti cari info lagi. Gue daftar saat itu juga. Terus besoknya langsung transfer uang pendaftaran. Gue login lagi di webnya dan pilih waktu untuk tesnya. Gue gak tau kenapa, waktu itu gue gak sengaja pilih tanggal tes di hari yang sama kayak tanggal pengumuman SBMPTN.
Nah, pas hari H tes gundar, gue ribet sendiri karena gue kesiangan... padahal tesnya siang siang wkwkwk. Jadi gue santai santai, bukannya malah siap siap. Tau tau udah jam setengah satu aja, padahal tesnya jam satu. Gue langsung minta jemput temen gue. Begonya tuh gue belum ngeprint kartu peserta wkwkwk, gue tetep kalem kan ya karena gundar deket baaaanget dari rumah gue. Pas gue masih ditempat ngeprint, itu udah jam satu lebih. Jadi gue sampe di gundarnya telat, ditambah lagi gue harus cari gedung tesnya dari sekian banyak gedungnya padahal gue aja belum pernah masuk kampusnya haha. Akhirnya gue malah muter muter, nyasar di dalem kampus. Pas nemu gedungnya itu udah hampir jam 2.
Gue ngerjain soal tesnya seadanya. Tesnya cuma matematika dan bahasa inggris dan tesnya pake komputer. Gue ngerjain sebisa gue tanpa mikir, kalo soal yang mesti pake mikir gue skip skip terus. Tapi kampretnya, kanan kiri gue udah pada selesai. Jadi gue baru setengah jam ngerjain malah ikut ikutan selesai aja, gak peduli sama soal soal yang belum keisi... kasian kalo temen gue nunggu kelamaan di luar. 😂
Terus gue langsung caw dari sana, dan pas di jalan gue baru inget kalo hari itu pengumuman SBMPTN! Gue langsung nyoba buka webnya dari hp, tapi servernya penuh. Jadi yaa, gue nggak coba lagi. Lagian gue juga hopeless wkwkwk. Terus gue pulang, santai santai aja gitu di rumah liatin grup pada rame saling ngabarin keterima SBMPTN atau nggak. Dan lagi lagi banyak yang ngedown karena gak lolos, gue jadi makin males buka pengumumannya karena temen temen gue yang pada pinter aja gak lolos. 😂
Tapi ada satu temen gue yang nanya gue lolos atau nggak, dan gue bilang gue males buka. Dia nawarin untuk bukain pengumumannya. Yaudah gue kasih aja kan passwordnya. Terus berapa menit kemudian dia ngechat pake capslock....
GUE LOLOS SBMPTN DI PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNJ!
Gue nggak percaya. Asli. Tapi gue tau ni anak kalo bercanda gak bakal begini. Terus dia kirim screenshootnya, dan bener. Gue lolos. Alhamdulillah. Gue coba buat cek sendiri, dan ternyata gue beneran lolos. Gue langsung ngabarin bokap, asli seneng! Terus gue kayak baru sadar satu hal....... TERUS TADI SIANG GUE NGAPAIN PANAS PANASAN LARI LARI DI GUNDAR BUAT IKUT TES?! Fyi, waktu itu lagi bulan puasa. :")))
Setelah buka pengumuman, gue langsung login di webnya UNJ. Waktu itu belum ada pengumuman apapun jadi gua santai aja, belum ngurus apapun. Pengumuman untuk STKS juga nggak jauh dari pengumuman SBMPTN, cuma beda dua hari. Waktu hari H pengumuman STKS gue semangat bukanya daripada pengumuman pengumuman sebelumnya, karena gue pede banget bakal lolos.
Dugaan gue nggak salah. Nama gue jadi salah satu dari 600 lebih nama orang orang yang lolos ujian tulis. Gue langsung kabarin ortu gue buat prepare wawancara ke STKS di Bandung. Di saat yang sama UNJ, juga mesti ngurus UKT dan untungnya bisa lewat online. Tapi gue terlalu fokus sama persiapan wawancara STKS, jadi gue nggak ngurusin pengajuan golongan UKT dan resikonya gue harus terima kalo gue dapet UKT di golongan atas.
Beberapa hari setelah lebaran, gue ke Bandung sendirian untuk wawancara. Nggak sendiri sebenernya, berangkat dianter nyokap tapi gak nemenin selama disana karena mesti kerja. Dan gue nginep di rumah sepupu gue. Begitu sampai di Bandung, gue langsung tepar karena udah tengah malam dan besoknya gue wawancara pagi.
Besoknya, gue nunggu giliran wawancara sendirian dan lumayan lama hahaha. Gue dapet giliran jam 1 siang setelah nunggu dari jam 7 pagi. Wawancaranya lumayan lancar, meskipun gue agak terkendala di bagian wawancara tentang pekerja sosial pake bahasa inggris hahaha. Pokoknya tentang STKS bakal gue tulis lebih jelas dan detail di postingan selanjutnya, supaya yang berminat kuliah di STKS bisa dapet info lebih jelas hehehe.
Selesai wawancara, gue langsung balik ke rumah sepupu gue. Tadinya gue mau langsung pulang ke Depok hari itu juga, tapi ternyata travelnya waiting list jadi gue ambil yang berangkat besok paginya aja. Daaan gue menghabiskan sisa waktu gue di Bandung jalan jalaaan! Haha gue udah ekspektasi bakal kayak gimana selama gue kuliah di Bandung nanti. Iya, lagi lagi gue pede banget bakal lolos tahap kedua STKS. 😁
***
Sooo yeaaa, itu tadi pengalaman gue ikut empat seleksi masuk kampus. Dan hasilnya, Alhamdulillah gue lolos SBMPTN di UNJ dan hasil final di STKS gue juga lolos. Gue juga di sms berkali kali dari gundar, diminta untuk lanjut bayar uang kuliah dll hahaha. Dan gue nggak ikut seleksi apapun lagi, termasuk simak. 😂👌
Oiya, postingan ini diposting dari hp jadi sulit kalo mau ditambahin pict, tapi nanti bakal gue sertakan pict-pictnya secepatnyaaa. Dan semoga postingan ini bermanfaat! Apapun yang ada di postingan ini, nggak ada yang bermaksud menyinggung pihak mana pun. Terimakasihhh sudah menyisihkan menit menit berharga di hidup kalian untuk membaca postingan ini.
PAPOOOOYYYY!✨
Halo! Hai! Hey! Woy! Watsap?!
Sesuai dengan judulnya, gue mau cerita pengalaman gue 4 kali ikut seleksi masuk kampus lewat berbagai jalur, yaitu SNMPTN, SBMPTN, seleksi masuk di suatu universitas swasta, dan seleksi masuk di suatu perguruan tinggi kedinasan. Dan gue mau ingetin dari sekarang, postingan ini bakal panjang banget. Jadi kalo gak minat baca panjang panjang, gak usah dibaca gak papa kok. 😁
Gue mau cerita perjuangan awal gue mulai dari ikut SNMPTN alias jalur undangan, ok? Buat anak anak SMA angkatan 2016 ke bawah, pasti tau kan ketentuan baru SNMPTN yang beda dengan tahun sebelumnya? Yak, nggak kayak tahun sebelumnya yang semua murid boleh ikut jalur undangan, di tahun 2016 ini kuota untuk daftar jalur undangan ditentukan oleh akreditasi sekolahnya. Jadi hanya sebagian murid yang bisa ikut, yaitu akreditasi A sebanyak 75%, akreditasi B sebanyak 50% dan akreditasi C sebanyak 25% dari jumlah murid kelas 12nya.
Alhamdulillah, sekolah gue akreditasinya A (bahkan katanya sekolah gue punya nilai akreditasi tertinggi ke-dua se-DKI Jakarta, but kalo pada gak percaya gak papa kok gue ngerti wkwkwk). Jadi, sekolah gue punya kesempatan mendaftarkan 75% muridnya. Step pertama, semua anak wajib input nilai sejak semester satu sampai semester lima. Dan waktu itu, step ini agak terkendala karena nilai semester satu sampai empat itu berbentuk huruf (A+, A, A-, B+, dst.) Sedangkan untuk input nilai itu harus berbentuk angka, jadi pihak sekolah agak kerepotan juga buat konvert nilainya. Nah, pas semuanya udah input nilai ke web SNMPTNnya, kita tinggal tunggu pengumuman siapa yang lolos 75% kuota itu. Gue lupa pengumumannya berapa minggu setelah input nilai, dan pengumumannya itu sistemnya peserta login ke webnya. Kalo berhasil untuk login artinya peserta lolos untuk kuota 75% itu dan berhak ikut jalur undangan, dan kalo gak berhasil login berarti peserta tidak berhak ikut jalur undangan.
Waktu itu gue ternyata dapet kesempatan di kuota itu. Jujur gue agak bingung kenapa gue dapet, karena ada beberapa temen temen gue yang nilainya lebih tinggi dari gue justru gak lolos. Gue beneran nggak tau bisa lolos, pengumumannya aja gue minta login-in sama temen gue saking gak minat ngebuka karena yakin gak lolos. Bukan maksud menyinggung atau apa ya, maksud gue bilang gitu kalo ntar ada yang nanya cara biar lolos di tahap ini, gue nggak tau. Jadi banyak banyak berdoa aja, ok? Dan cari aman aja, naikin nilai tiap semester ok?
*sok banget nasehatin padahal nilai sendiri ngaco*
Di SNMPTN, dari tiga pilihan gue cuma ambil satu pilihan yaitu Antropologi UI. Kenapa cuma satu? Karena gue nggak tau mau pilih kampus mana lagi, dan ya itung itung biar keliatan kalo gue prioritas banget disitu sampe rela 'ngebuang' sisa dua pilihan lagi hahaha. Dan kenapa pilih Antropologi UI? Karena gue mau banget bisa gabung sama FISIPnya, gue pernah ikut acara tentang FISIPnya dan gue ngerasa 'gue harus bisa gabung sama mereka'. Idk why, atmosfernya beda aja gitu sulit dijelaskan pokoknya hahaha. Apalagi UI deket banget dari rumah gue, cuma dua kali belok! Dan sebenernya gue lebih berminat ke Sosiologi, tapi gue pilih Antropologi karena di angkatan gue nggak ada yang ambil jurusan itu, jadi seenggaknya gue nggak punya saingan di sekolah... karena ya gitu, gue sadar diri aja nilai gue gak bagus bagus amat. 😅
Sebenernya gue hopeless juga bakal dapet atau nggak, soalnya ada nilai gue yang agak naik turun dan apalagi nilai matematika gue yang hancur lebur... dapet 70 aja Alhamdulillah banget. Ditambah lagi, di jurusan itu nggak ada alumni sekolah gue padahal alumni sekolah itu lumayan berpengaruh juga ke penerimaan mahasiswa di tahun tahun bawahnya. Dan gue cuma bisa berdoa aja.
Sampai akhirnya pengumuman................. ALHAMDULILLAH GUE DAPET HUKUM! GILA, HUKUM COY HUKUM!
Lho, kok dapet hukum? Iya, hukumam dari Allah garagara 3tahun sekolah kerjaan gue cengengesan aja. Yak, gue nggak lolos. Tapi karena gue realistis dari awal, jadi gue cuma kayak 'ohh yaudah, masih ada SBMPTN'. Bener bener cuma kayak gitu. Padahal katanya tuh sampe ada yang nangis, down banget, dll. Tapi gue bener bener biasa aja. Gue sadar diri kali, ya? Hahaha kan gue lumayan menyia-nyiakan masa SMA gue, baru sekolah beneran cuma pas setahun terakhir aja hahaha.
Gue juga nggak nyesel cuma ambil satu pilihan pas daftar, soalnya menurut gue mending coba lagi di SBMPTN daripada ngisi pilihan di jalur undangan tapi ngisinya cuma sekedar 'yang penting dapet kampus', kalo keterima dan gue gak minat sama kampusnya kan sayang juga...
OKAAAAAY. Setelah pengumuman itu gue langsung move on. Gue langsung daftar SBMPTN. Jujur sajaaa di jalur tulis ini gue nggak berharap banyak, sekedar coba coba kali aja untung hahaha soalnya gue buta sama materi materinya. Jangankan SBMPTN, materi UN di otak gue aja tiris banget. Ditambah lagi selama kelas 12 gue gak pernah ikut bimbel apapun, gue juga nggak bener bener belajar buat SBMPTN dari awal sedangkan sisa waktunya cuma satu bulan. Duh, pokoknya bagian ini jangan ditiru! Gue saranin buat adik adik *halah* belajar buat SBMPTN dari awal, meskipun kalian pede baaaanget bisa lolos di jalur undangan, tapi menurut gue jaga jaga aja deh belajar dari awal.
Di jalur ini, gue rencananya akan memaksimalkan kesempatan yang ada. Awalnya, gue isi pilihan pertama Sosiologi UI, terus Antropologi UI dan terakhir Pendidikan Sosiologi UNJ. Jangan mikir kenapa gue tibatiba mau masuk Pendidikan Sosiologi, nggak kok ini nggak tiba tiba. Gue bakal ceritain lengkap tentang kenapa gue pilih Pendidikan Sosiologi di postingan selanjutnya, ok? Ok.
Btw, setelah isi pilihan itu gue nggak langsung download kartu peserta yang artinya nge-fix-in pilihan itu. Gue sempet logout, dan tanya sana sini tentang pilihan gue itu. Setelah nanya nanya, banyak yang saranin gue untuk jangan isi UI di pilihan satu dan dua. Gue disaranin untuk pilih satu aja yang di UI, dan satunya lagi akhirnya gue mau isi untuk Pendidikan Sosiologi UNS. Kenapa UNS? Karena disuruh ortu, alesannya disana banyak sodara jadi ada yang jagain hahaha.
Setelah itu gue login lagi untuk ngisi beberapa data yang masih gue kosongin....... dan gue langsung download kartu pesertanya. GUE LUPA GANTI PILIHAN. Iya. Gue lupa. Kampret. Dan kalo udah download kartu peserta, udah nggak bisa diganti. Jadi lah gue tetep di pilihan awal: UI, UI, UNJ.
Selama menuju ke hari H, gue cuma sesekali buka buku latihan soal. Gue cuma ngerjain soal soal sosiologi aja karena itu satu satunya pelajaran yang gue lumayan ngerti. Gue pasrah banget, beneran pasrah. Gue belajar nggak ngerti ngerti, asli. Soal SBMPTN emang neraka jahanam.
Daaan tiba lah hari itu. Gue tes di daerah Pondok Labu. Berangkat pagi pagi dianterin bokap yang rela ambil cuti cuma untuk nganter dan jemput gue tes hari itu, aaaah kish kish. :')
Selama nunggu waktu mulai tesnya, kanan kiri gue tuh pada belajar. Gue? Nggak bawa buku apapun, cuma bisa stalking instagram orang aja. Karena menurut gue, sebelum ujian itu gak usah buka buka buku lagi, udah tinggal hadepin aja wkwkwk.
Setelah setengah jam nunggu, tesnya dimulai. Pertama TPA, di awal gue masih santai yakan soal yang susah di skip dulu... skip, skip, skip. Tautau soalnya udah abis. Pas gue liat ljk, yang baru gue isi cuma belasan. Ok. Bagus. Jadi lah gue harus baca ulang puluhan soal sisanya lagi. Lumayan ada beberapa yang bisa gue isi..... pake insting wkwkwk. Gue masuh mau coba baca lagi, dan sialnya waktu habis. Gue cuma bisa kerjain 30 soal dari... berapa soal ya? 60 atau 90 sih? Lupa wkwkwkwk 😂
Oiya, ada satu fakta penting........ MATEMATIKA GUE KOSONGIN SAMA SEKALI. Bener bener kosong. Nggak ada yang gue isi. Bodoamat. Gue nggak peduli, gue bener bener buta matematika. Daripada gue isi ngasal jadi gue kosongin aja, bodomat. Gue keluar ruangan lemes banget, udah hopeless sama sekali. Apalagi karena matematika gue yang kosong itu, gue ngerasa nggak ada harapan. Jadi selama istirahat gue udah pasrah buat ngerjain TKD Soshumnya nanti.
Istirahat selesai, mulai ngerjain soshum... ada yang aneh. Gue ngerasa soalnya masih bisa gue nalar. Iya. Gue ngerasa pinter. Padahal nalar, bukan hasil pemikiran pasti yang bener bener gue tau jawabannya. Apalagi sosio, gue isi 13 nomer dari 14 nomer. Dan gue cuma bisa kerjain total 33 nomer dari 60 nomer keseluruhan. Tapi sisa waktunya masih banyak sekali ternyata. Gue gabut setengah jam lebih karena gue udah selesai dan nggak mau ngisi lagi daripada mengarang bebas.
Pas pulang, gue cerita sama bokap kalo soalnya susah banget dan jangan berharap gue lolos. Terus gue cerita ke temen temen gue kalo gue nggak ngisi matematika sama sekali..... dan mereka ngebego begoin gue huuu sedih. Bodoamat. Mereka memang jahat sekali.
Setelah gue sampai di rumah, ortu gue langsung saranin untuk daftar di swasta, di Universitas Gunadarma. Deket rumah. Lebih deket daripada UI. Kalo ke UI dua kali belok, kalo ke gundar cuma sekali. Gue tadinya nggak mau karena gue masih punya rencana untuk ikut tes di suatu perguruan tinggi kedinasan.
Iya, jauh sebelum hari H SBMPTN, gue juga udah daftar di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial di Bandung. STKS itu perguruan tinggi kedinasan (tidak ikatan dinas) di bawah Kementrian Sosial RI. Seleksi masuk STKS itu berlangsung H-5 sebelum pengumuman SBMPTN. Untuk tes kali ini, gue bener bener belajar karena materinya lebih mudah gue serap daripada materi SBMPTN, walaupun sumber belajar untuk tes STKS nggak terlalu banyak. Bahkan kalo googling, cuma ada dua blog yang bisa dijadikan sumber belajar tes STKS.
Gue ikut tes di Kementrian Sosial di daerah Salemba. Gue lebih santai untuk tes kali ini daripada SBMPTN, karena gue ngerasa belajar gue udah cukup. Dan bener aja, pas ngerjain soal nyaris semuanya bisa gue jawab. Latihan soal yang gue baca di blog blog itu emang bener bener ngebantu! Pas pulang, gue bener bener pede bakal lolos tahap tes tulis ini. Kalo gue lolos gue mesti ikut tahap kedua, wawancara ke Bandung. Untuk STKS, gue juga bakal ceritain lengkapnya di postingan selanjutnyaaa!
Btw, setelah gue pulang tes. Nyokap gue masih takut gue nggak dapet kampus, jadi nyokap tetep maksa coba daftar di Gunadarma. Padahal gue pede banget lolos STKS, lagian kan sayang uang pendaftarannya kalo ternyata gue lolos. Tapi ortu gue bilang nggak papa daftar aja. Jadi, gue nurut dan gue pilih Psikologi.
Berhubung kakak sepupu gue yang tinggal di rumah gue kuliahnya di gundar, jadi urusan daftar daftar nggak ribet mesti cari info lagi. Gue daftar saat itu juga. Terus besoknya langsung transfer uang pendaftaran. Gue login lagi di webnya dan pilih waktu untuk tesnya. Gue gak tau kenapa, waktu itu gue gak sengaja pilih tanggal tes di hari yang sama kayak tanggal pengumuman SBMPTN.
Nah, pas hari H tes gundar, gue ribet sendiri karena gue kesiangan... padahal tesnya siang siang wkwkwk. Jadi gue santai santai, bukannya malah siap siap. Tau tau udah jam setengah satu aja, padahal tesnya jam satu. Gue langsung minta jemput temen gue. Begonya tuh gue belum ngeprint kartu peserta wkwkwk, gue tetep kalem kan ya karena gundar deket baaaanget dari rumah gue. Pas gue masih ditempat ngeprint, itu udah jam satu lebih. Jadi gue sampe di gundarnya telat, ditambah lagi gue harus cari gedung tesnya dari sekian banyak gedungnya padahal gue aja belum pernah masuk kampusnya haha. Akhirnya gue malah muter muter, nyasar di dalem kampus. Pas nemu gedungnya itu udah hampir jam 2.
Gue ngerjain soal tesnya seadanya. Tesnya cuma matematika dan bahasa inggris dan tesnya pake komputer. Gue ngerjain sebisa gue tanpa mikir, kalo soal yang mesti pake mikir gue skip skip terus. Tapi kampretnya, kanan kiri gue udah pada selesai. Jadi gue baru setengah jam ngerjain malah ikut ikutan selesai aja, gak peduli sama soal soal yang belum keisi... kasian kalo temen gue nunggu kelamaan di luar. 😂
Terus gue langsung caw dari sana, dan pas di jalan gue baru inget kalo hari itu pengumuman SBMPTN! Gue langsung nyoba buka webnya dari hp, tapi servernya penuh. Jadi yaa, gue nggak coba lagi. Lagian gue juga hopeless wkwkwk. Terus gue pulang, santai santai aja gitu di rumah liatin grup pada rame saling ngabarin keterima SBMPTN atau nggak. Dan lagi lagi banyak yang ngedown karena gak lolos, gue jadi makin males buka pengumumannya karena temen temen gue yang pada pinter aja gak lolos. 😂
Tapi ada satu temen gue yang nanya gue lolos atau nggak, dan gue bilang gue males buka. Dia nawarin untuk bukain pengumumannya. Yaudah gue kasih aja kan passwordnya. Terus berapa menit kemudian dia ngechat pake capslock....
GUE LOLOS SBMPTN DI PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNJ!
Gue nggak percaya. Asli. Tapi gue tau ni anak kalo bercanda gak bakal begini. Terus dia kirim screenshootnya, dan bener. Gue lolos. Alhamdulillah. Gue coba buat cek sendiri, dan ternyata gue beneran lolos. Gue langsung ngabarin bokap, asli seneng! Terus gue kayak baru sadar satu hal....... TERUS TADI SIANG GUE NGAPAIN PANAS PANASAN LARI LARI DI GUNDAR BUAT IKUT TES?! Fyi, waktu itu lagi bulan puasa. :")))
Setelah buka pengumuman, gue langsung login di webnya UNJ. Waktu itu belum ada pengumuman apapun jadi gua santai aja, belum ngurus apapun. Pengumuman untuk STKS juga nggak jauh dari pengumuman SBMPTN, cuma beda dua hari. Waktu hari H pengumuman STKS gue semangat bukanya daripada pengumuman pengumuman sebelumnya, karena gue pede banget bakal lolos.
![]() |
| Ini pengumuman lolos tes tulis STKS, dan bisa lanjut ikut tahap wawancaranya. |
Dugaan gue nggak salah. Nama gue jadi salah satu dari 600 lebih nama orang orang yang lolos ujian tulis. Gue langsung kabarin ortu gue buat prepare wawancara ke STKS di Bandung. Di saat yang sama UNJ, juga mesti ngurus UKT dan untungnya bisa lewat online. Tapi gue terlalu fokus sama persiapan wawancara STKS, jadi gue nggak ngurusin pengajuan golongan UKT dan resikonya gue harus terima kalo gue dapet UKT di golongan atas.
Beberapa hari setelah lebaran, gue ke Bandung sendirian untuk wawancara. Nggak sendiri sebenernya, berangkat dianter nyokap tapi gak nemenin selama disana karena mesti kerja. Dan gue nginep di rumah sepupu gue. Begitu sampai di Bandung, gue langsung tepar karena udah tengah malam dan besoknya gue wawancara pagi.
Besoknya, gue nunggu giliran wawancara sendirian dan lumayan lama hahaha. Gue dapet giliran jam 1 siang setelah nunggu dari jam 7 pagi. Wawancaranya lumayan lancar, meskipun gue agak terkendala di bagian wawancara tentang pekerja sosial pake bahasa inggris hahaha. Pokoknya tentang STKS bakal gue tulis lebih jelas dan detail di postingan selanjutnya, supaya yang berminat kuliah di STKS bisa dapet info lebih jelas hehehe.
![]() |
Ini pengumuman lolos wawancara dan jadi calon mahasiswa baru STKS.
Lucu ya namanya ada 'oke pisan'-nya.
|
Selesai wawancara, gue langsung balik ke rumah sepupu gue. Tadinya gue mau langsung pulang ke Depok hari itu juga, tapi ternyata travelnya waiting list jadi gue ambil yang berangkat besok paginya aja. Daaan gue menghabiskan sisa waktu gue di Bandung jalan jalaaan! Haha gue udah ekspektasi bakal kayak gimana selama gue kuliah di Bandung nanti. Iya, lagi lagi gue pede banget bakal lolos tahap kedua STKS. 😁
***
Sooo yeaaa, itu tadi pengalaman gue ikut empat seleksi masuk kampus. Dan hasilnya, Alhamdulillah gue lolos SBMPTN di UNJ dan hasil final di STKS gue juga lolos. Gue juga di sms berkali kali dari gundar, diminta untuk lanjut bayar uang kuliah dll hahaha. Dan gue nggak ikut seleksi apapun lagi, termasuk simak. 😂👌
Oiya, postingan ini diposting dari hp jadi sulit kalo mau ditambahin pict, tapi nanti bakal gue sertakan pict-pictnya secepatnyaaa. Dan semoga postingan ini bermanfaat! Apapun yang ada di postingan ini, nggak ada yang bermaksud menyinggung pihak mana pun. Terimakasihhh sudah menyisihkan menit menit berharga di hidup kalian untuk membaca postingan ini.
PAPOOOOYYYY!✨
3 Tahun Diculik Alien
Assalamualaikum!
Halo! Hai! Hey! Woy! Watsap?!
AKHIRNYAAAAA GUE UPDATE LAGIII! Sebenernya gue udah lama mau update blog ini lagi. Tapi ada terus hambatannya HAHAHAH alesan aja. Terakhir gue posting disini pas gue baru masuk SMA, dan sekarang gue udah mau jadi mahasiswa. :')
3 tahun menghilang karena sibuk sekolah dan sibuk organisasi, bikin hidup gue banyak berubah jadi lebih seru. Dan bagian bagian kecil yang seru di masa SMA gue bakal gue ceritain juga disini, yang InshaaAllah ada manfaat yang bisa diambil dari ceritanya, ok? Ok.
Postingan gue ke depannya bakalan lebih banyak cerita pengalaman gue dan tentang apa yang gue liat, nggak kayak dulu yang lebih dominan sama cerita cerita fiksi. So yea, semoga setelah ini isi blog gue akan jauh lebih bermanfaat!
Terimakasih sudah membaca, PAPOOOY!✨
Halo! Hai! Hey! Woy! Watsap?!
AKHIRNYAAAAA GUE UPDATE LAGIII! Sebenernya gue udah lama mau update blog ini lagi. Tapi ada terus hambatannya HAHAHAH alesan aja. Terakhir gue posting disini pas gue baru masuk SMA, dan sekarang gue udah mau jadi mahasiswa. :')
3 tahun menghilang karena sibuk sekolah dan sibuk organisasi, bikin hidup gue banyak berubah jadi lebih seru. Dan bagian bagian kecil yang seru di masa SMA gue bakal gue ceritain juga disini, yang InshaaAllah ada manfaat yang bisa diambil dari ceritanya, ok? Ok.
Postingan gue ke depannya bakalan lebih banyak cerita pengalaman gue dan tentang apa yang gue liat, nggak kayak dulu yang lebih dominan sama cerita cerita fiksi. So yea, semoga setelah ini isi blog gue akan jauh lebih bermanfaat!
Terimakasih sudah membaca, PAPOOOY!✨
Minggu, 22 September 2013
Caving!
Haaaaai! Gue mau cerita tentang pengalaman pertama gue caving. Bagi yang belum tau apa itu caving, coba klik disini. Hehe ini sebenernya tugas dari senior gue bikin karya tulis tentang caving, tapi sekalian aja gue posting disini. Gue bingung mesti mulai cerita darimana........ OHIYA!
5 September 2013
Jadi itu hari Kamis, waktunya gue forum untuk ekskul pecinta alam. Waktu forumnya mau selesai, kakak kelas gue nawarin siapa yang mau ikut caving. Gue tanpa mikir panjang langsung aja mutusin buat ikut, padahal gue bener-bener buta tentang caving, ya modal nekat aja.
6 September 2013
Pas jam istirahat pertama, anak pecinta alam kelas 11 & 10-nya pada ngumpul di kantin. INGET YA, GUE NGUMPUL DI KANTIN UDAH DARI KAPAN TAU BARENG ANAK PALA HAHAHA IF YOU KNOW WHAT I MEAN. Ehm, balik lagi, fokus fokus. Nah, pas ngumpul pada ngomongin tentang caving besok dan ternyata angkatan gue dari 33 orang yang ikut cuma 3 orang dan gue cewek satu-satunya. HAHA bodoamat.
7 September 2013
GUE BANGUN KESIANGAN. Gue panik parah, belom prepare buat berangkat caving. Gue baru liat jarkom-nya, katanya ngumpul jam setengah 9 dan berangkat jam 9. Mati gue. Lanjut lah itu, the power of kepepet gue langsung aktif. Jadi lah jam setengah 10an gue berangkat ke tempat pada ngumpul dan alhamdulillah belom ditinggal.
Gue nungguin, lamaaaaa banget. Dan ternyata ga sadar udah jam setengah 3 sore dan kita belom berangkat. Sadis. Gue tadi pagi udah panik banget, gataunya ngaret gini. Ya yaudah lah. Terus yaudah deh, berangkat ke Citereup naik motor. Lumayan banyak yang ikut, jadi ya semacam konvoi motor gitu deh haha. Jalannya lumayan jauh juga sih, tapi pas nyampe......... beeeeh cuci mata banget! Lokasinya di kaki gunung coy.
Sebelum nge-camp, istirahat dulu di warung. Baru deh, nanjak dikit terus buka tenda. Awalnya kelas 10nya diajarin dulu caranya mendirikan tenda, dan akhirnya bisa! Yaaaay haha. Abis belajar mendirikan tenda, kita juga belajar masak pake kompor kupu-kupu. Ya gitudeh, waktu sorenya kita dapet ilmu. Abis itu prepare barang-barang untuk caving nanti malem.
Rencananya mau caving di Goa Cikarai. Perlengkapan yang gue bawa dan gue pake itu baju dan celana panjang, headlamp, helm proyek dan sarung tangan. Gue nyesel abis make tomkins, itu sepatu buat caving ternyata licin banget kampret. Nah, sebelum berangkat ke goa-nya foto-foto duluuuu hahaha.
Setelah puas fotooo, baru deh naik motor ke goa-nya, naik motornya sampe warung doang sih dari warung itu jalan kaki ke Goa Cikarai-nya. Sebelum masuk goa, kita berdoa duluuu. Dan dimulai lah petualangan menyusuri Goa Cikarai! Ihiy.
Pas awal masuk, masih lumayan tuh medannya. Agak curam tapi masih luas. Tapi pas lama-lama ke dalem, makin lama tuh makin sempit. Kita jalan teruuus, banyak lumpur, binatang-binatang, dll. Eh nemu dua jalur, jadi lah kita semua dibagi jadi 2 kelompok, terus nyobain jalurnya satu-satu.
Itu mulai dari jalur yang tinggi tapi sempit, jalur yang pendek tapi lebar sampe jalur yang pendek dan sempit udah dicobain semua. Sampe dari kita bisa diri, mesti jongkok, ngerangkak, tiarap udah dicoba semua. Kayaknya sih semua jalur udah dicoba semua sampe mentoknya, tapi ada satu jalur yang belom dicoba soalnya jalur itu kerendem air. Tinggi airnya itu sedagu gue, nah jalurnya itu dibawah air gitu. Kadang ada juga jalur yang ujungnya tuh sarang kelelawar, nah kalo udah kayak gitu kita muter balik supaya nggak ganggu mereka. Pokoknya seru banget deh.
Abis nyoba jalur-jalur itu, kita ketemu lagi di tempat awal kelompok misah. Baju gue isinya udah lumpur semua. Dan daripada nanggung, yang lain duduk di tempat kering gue malah ngobak di lumpur hahaha. Dan ada beberapa fotonya nih:
5 September 2013
Jadi itu hari Kamis, waktunya gue forum untuk ekskul pecinta alam. Waktu forumnya mau selesai, kakak kelas gue nawarin siapa yang mau ikut caving. Gue tanpa mikir panjang langsung aja mutusin buat ikut, padahal gue bener-bener buta tentang caving, ya modal nekat aja.
6 September 2013
Pas jam istirahat pertama, anak pecinta alam kelas 11 & 10-nya pada ngumpul di kantin. INGET YA, GUE NGUMPUL DI KANTIN UDAH DARI KAPAN TAU BARENG ANAK PALA HAHAHA IF YOU KNOW WHAT I MEAN. Ehm, balik lagi, fokus fokus. Nah, pas ngumpul pada ngomongin tentang caving besok dan ternyata angkatan gue dari 33 orang yang ikut cuma 3 orang dan gue cewek satu-satunya. HAHA bodoamat.
7 September 2013
GUE BANGUN KESIANGAN. Gue panik parah, belom prepare buat berangkat caving. Gue baru liat jarkom-nya, katanya ngumpul jam setengah 9 dan berangkat jam 9. Mati gue. Lanjut lah itu, the power of kepepet gue langsung aktif. Jadi lah jam setengah 10an gue berangkat ke tempat pada ngumpul dan alhamdulillah belom ditinggal.
Gue nungguin, lamaaaaa banget. Dan ternyata ga sadar udah jam setengah 3 sore dan kita belom berangkat. Sadis. Gue tadi pagi udah panik banget, gataunya ngaret gini. Ya yaudah lah. Terus yaudah deh, berangkat ke Citereup naik motor. Lumayan banyak yang ikut, jadi ya semacam konvoi motor gitu deh haha. Jalannya lumayan jauh juga sih, tapi pas nyampe......... beeeeh cuci mata banget! Lokasinya di kaki gunung coy.
Sebelum nge-camp, istirahat dulu di warung. Baru deh, nanjak dikit terus buka tenda. Awalnya kelas 10nya diajarin dulu caranya mendirikan tenda, dan akhirnya bisa! Yaaaay haha. Abis belajar mendirikan tenda, kita juga belajar masak pake kompor kupu-kupu. Ya gitudeh, waktu sorenya kita dapet ilmu. Abis itu prepare barang-barang untuk caving nanti malem.
Rencananya mau caving di Goa Cikarai. Perlengkapan yang gue bawa dan gue pake itu baju dan celana panjang, headlamp, helm proyek dan sarung tangan. Gue nyesel abis make tomkins, itu sepatu buat caving ternyata licin banget kampret. Nah, sebelum berangkat ke goa-nya foto-foto duluuuu hahaha.
Dari kiri ke kanan: gue, Kak Dwi, Kak Zamilah, Kak Galuh dan Kak Vivi.
Setelah puas fotooo, baru deh naik motor ke goa-nya, naik motornya sampe warung doang sih dari warung itu jalan kaki ke Goa Cikarai-nya. Sebelum masuk goa, kita berdoa duluuu. Dan dimulai lah petualangan menyusuri Goa Cikarai! Ihiy.
Pas awal masuk, masih lumayan tuh medannya. Agak curam tapi masih luas. Tapi pas lama-lama ke dalem, makin lama tuh makin sempit. Kita jalan teruuus, banyak lumpur, binatang-binatang, dll. Eh nemu dua jalur, jadi lah kita semua dibagi jadi 2 kelompok, terus nyobain jalurnya satu-satu.
Itu mulai dari jalur yang tinggi tapi sempit, jalur yang pendek tapi lebar sampe jalur yang pendek dan sempit udah dicobain semua. Sampe dari kita bisa diri, mesti jongkok, ngerangkak, tiarap udah dicoba semua. Kayaknya sih semua jalur udah dicoba semua sampe mentoknya, tapi ada satu jalur yang belom dicoba soalnya jalur itu kerendem air. Tinggi airnya itu sedagu gue, nah jalurnya itu dibawah air gitu. Kadang ada juga jalur yang ujungnya tuh sarang kelelawar, nah kalo udah kayak gitu kita muter balik supaya nggak ganggu mereka. Pokoknya seru banget deh.
Abis nyoba jalur-jalur itu, kita ketemu lagi di tempat awal kelompok misah. Baju gue isinya udah lumpur semua. Dan daripada nanggung, yang lain duduk di tempat kering gue malah ngobak di lumpur hahaha. Dan ada beberapa fotonya nih:
Naaaah, kita selesai dan keluar dari goa itu sekitar jam 9 malem. Jadi ya sekitar 2 jam kita caving. Buat keluar goa itu juga cukup perjuangan, tapi untungnya gue dibantuin sama sodara-sodara gue hehe:D
Setelah keluar, kita ngumpul dan ngucapin Alhamdulillah karena ga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terus baru deh balik ke warung tempat motor-motornya di parkir. Abis itu baru balik ke tenda. Pas naik motor gue dibonceng sama alumni, ditanya gimana rasanya caving. Eh ujung-ujungnya gue dikasih tugas buat karya tulis tentang pengalaman caving ini haha katanya biar yang lain yang ga ikut jadi tambah iri.
Pas sampe di tempat kita nge-camp, gue berdiri nyender gitu kan di pohon. Eh tiba-tiba si Adit iseng dari belakang nyenggol kaki gue sampe keseleo gitu, kampret emang itu anak satu. Ga di kelas, ga dimana-mana gue dikerjain muluuu. -_-
Setelah itu, kelas 10 dan kelas 11 ngumpul di depan tenda sama beberapa alumni. Kelas 12nya juga ngumpul sama alumni di tempat lain. Kita ngobrol-ngobrol deh tuh sampe tengah malem. Sekitar jam setengah 1 baru deh pada masuk tenda.
Sebelum tidur ini tuh ada cerita yang lucu menurut gue. Jadi kan kelas 10nya masuk tenda duluan, 2 cowok dan gue cewek sendirian. Akhirnya gue mojok di sebelah kanan dan mereka berdua mojok ke kiri. Gue kan belom terlalu ngantuk, gue ngajak ngobrol si Adit ngomongin tentang PR buat hari Senin HAHAHA. Baru ngobrol sedikit terus dia bilang: "Udah ah Sen, jangan ngomong mulu gue mau tidur." Yaudah gue nurut, gue diem mau tidur. Udah lumayan ngantuk juga. Eh si Adam malah nyetel lagu gitu, untung lagunya mellow jadi mendukung buat tidur. Paaas banget gue mau merem, Adit malah otp-an sama cewek, dan yang lebih ngeselin adalah...... dia otp-an diloudspeaker! Kampret. Gue kesel bukan kenapa-napa ya, tapi tadi dia nyuruh gue diem tapi giliran gue mau tidur dia malah berisik. Yaudah gue diemin aja, otp-annya juga ga lama lama banget ternyata. Sempet hening kan, eh Adam tiba-tiba ngomong: "Ah lagunya jangan diganti dong!" Padahal nggak ada yang ganti lagunya, dan ternyata Adam ngigo HAHAHA. Yaudah akhirnya gue tidur jam 1an.
8 September 2013
Bangun pagiii! Ihiy gue orang pertama yang bangun di tenda, tapi gue masih tiduran. Kalo gerak takutnya yang lain kebangun kan tidur berlima sama kelas 11nya haha. Terus ya, ga lama Kak Galuh bangun, Bang Sandi juga. Mereka keluar tenda terus duduk-duduk di depan tenda. Di dalem gue ngeliat 2 kampret itu tidur pelukan. Aissshhh daripada gue ngakak terus ganggu mereka, yaudah gue keluar. Diluar, yang lain pada masak buat sarapan Sekitar setengah jam, mereka baru bangun terus langsung kabur entah kemana, katanya sih kebelet. Yaudah pas makanannya jadi, pada makan bareng-bareng tapi Adam sama Adit belom balik juga. Awalnya gue mikir kalo makanannya abis ntar mereka makan apa, tapi ternyata makanannya masih ada. Aman. Ga lama, mereka balik. Gue tanya darimana dan ternyata mereka abis makan. Kampret. Yang di tenda mikirin mereka, tapi merekanya malah udah duluan wkwk.
Dari pagi sampe siang pada nyantai-nyantai gitu, terus cowok-cowoknya ada yang pada kabur ke sungai pada berendem hahaha. Yang masih stay di tenda akhirnya pada masak-masak lagi aja. Abis itu kelas 10 sama 11nya disuruh ngumpul, pas ngumpul ya sharing deh sama Bang Rezi.
Abis sharing, prepare pulang! Sekitar jam 11an kita pulang. Entah kenapa perjalanan pulang terasa lebih lama dan lebih capek. Gue nyampe di rumah jam setengah 2an, yang lain ngumpul dulu gue langsung pulang._.hehe ohiya makasih banget yak yang udah capek-capek nganterin gue wkwk.
UDAH YAAAA CERITANYA SAMPE SINI AJAAAA HEHE SAMPAI KETEMU PADA CURHATAN GUE SELANJUTNYAAAAA, BYE!
Jumat, 06 September 2013
Ga Keurus...
HAAAAAIIIIII sorry yaaa udah gapernah update, saya gaada PC gaada laptop dan semacamnya. Ini saya update dari lab.komputer sekolah coy haha. JADEEEEEE pliiiiisssss bangetngetnget tetep stay jadi pembaca blog alay ini sampai mungkin tahun depan saya udah ada laptop lagi. Karena Kamu bakalan tetep dilanjut, terus masih ada cerpen lain lagi. Tetep stay yaaaaaa, THANKUUUUUU!!!!!!
Sabtu, 30 Maret 2013
Doain ya!
Okaaay, kali ini gue bakalan kasih alasan kenapa gue jadi jarang banget posting. Kalo yang nggak butuh alasan gue ya nggak usah baca ya, jangan ngomong macem macem eaaak #ceritanya #lagi #sensi.
Iyaaa, berhubung karena kemarin-kemarin ada beberapa orang yang nanyain kenapa blog gue jadi sepi banget, kenapa gue jarang posting cerpen/cerbung lagi, kenapa gue jarang update blog. Nah, baru sekarang gue sempet kasih tau.
Jadiiiii, gue itu kan kelas 9 yaaaa. Dalam hitungan hari, gue bakalan ngadepin yang namanya Ujian Nasional. Otomatis, gue jadi susah untuk buka-buka blog. Kalo untuk twitter sih gampang, pake handphone juga jadi. Kalo blog kan nggak asik kalo cuma di handphone.
Gue emang lagi super sibuk nih eaaaak, lesnya aja hampir tiap hari sampe mabok. Ditambah lagi nilai TO gue lumayaaaan......... ancur. Jadi, nyokap gue ngelarang gue keluar rumah lama-lama. Disuruh belajar coooy. Nah, alasan lain karena laptop dipegang nyokap, garagara si TO yang ancur itu. Sebenernya di kamar gue juga ada komputer, tapi apa lah arti sebuah PC tanpa koneksi internet? Sama aja boong kan! Oke, b isa ajasih gue ngetik di komputer, gue simpen di flashdisk terus gue ke warnet untuk ngepost. Yakali dah gue bisa ke warnet.
HUUUFFFT. Emang cobaan banget ya jadi orang yang kurang pinter kayak gue gini. Tapi, setelah UN nanti InsyaAllah gue posting-posting lagi deh. Kata nyokap gue: "Belajar aja terus sampe UN, jangan kemana mana. Nanti abis UN kamu mau jungkir balik juga kita (bokap&nyokap) fasilitasin deh."
Jadiiiiiii, doain gue yaaaa untuk UN nanti. Semoga gue lancar ngerjainnya, meskipun gue agak agak takut garagara pake barcode apa segala macem. Pokoknya doain gue yayayaaaaa!!!!!! Hehe, maksa. Yakan biar gue bisa rajin posting lagi. Biar gue bisa cepet-cepet jadi Putih Abu-Abuuu. Hahaha, terakhir gue mau minta maaf deeeh. Maaf buat apaan kek, asumsikan sendiri ya! Okay, thankuuuuu! Bye!
Iyaaa, berhubung karena kemarin-kemarin ada beberapa orang yang nanyain kenapa blog gue jadi sepi banget, kenapa gue jarang posting cerpen/cerbung lagi, kenapa gue jarang update blog. Nah, baru sekarang gue sempet kasih tau.
Jadiiiii, gue itu kan kelas 9 yaaaa. Dalam hitungan hari, gue bakalan ngadepin yang namanya Ujian Nasional. Otomatis, gue jadi susah untuk buka-buka blog. Kalo untuk twitter sih gampang, pake handphone juga jadi. Kalo blog kan nggak asik kalo cuma di handphone.
Gue emang lagi super sibuk nih eaaaak, lesnya aja hampir tiap hari sampe mabok. Ditambah lagi nilai TO gue lumayaaaan......... ancur. Jadi, nyokap gue ngelarang gue keluar rumah lama-lama. Disuruh belajar coooy. Nah, alasan lain karena laptop dipegang nyokap, garagara si TO yang ancur itu. Sebenernya di kamar gue juga ada komputer, tapi apa lah arti sebuah PC tanpa koneksi internet? Sama aja boong kan! Oke, b isa ajasih gue ngetik di komputer, gue simpen di flashdisk terus gue ke warnet untuk ngepost. Yakali dah gue bisa ke warnet.
HUUUFFFT. Emang cobaan banget ya jadi orang yang kurang pinter kayak gue gini. Tapi, setelah UN nanti InsyaAllah gue posting-posting lagi deh. Kata nyokap gue: "Belajar aja terus sampe UN, jangan kemana mana. Nanti abis UN kamu mau jungkir balik juga kita (bokap&nyokap) fasilitasin deh."
Jadiiiiiii, doain gue yaaaa untuk UN nanti. Semoga gue lancar ngerjainnya, meskipun gue agak agak takut garagara pake barcode apa segala macem. Pokoknya doain gue yayayaaaaa!!!!!! Hehe, maksa. Yakan biar gue bisa rajin posting lagi. Biar gue bisa cepet-cepet jadi Putih Abu-Abuuu. Hahaha, terakhir gue mau minta maaf deeeh. Maaf buat apaan kek, asumsikan sendiri ya! Okay, thankuuuuu! Bye!
Minggu, 06 Januari 2013
Alasan
Inspirasi emang bisa dateng dimana aja. Nah ini gue dapet dari inspirasi dadakan gue dan saat itu nggak ada laptop, komputer, kertas, pulpen atau benda lain buat menuangkan isnpirasi itu. Daripada keburu lupa, ya gue bikin di handphone. Jadi maaf kalo banyak typo. Nanti insyaallah ada sequelnya;;)
***
Rumahku mulai penuh sesak oleh orang-orang yang berdatangan. Oh, sebenarnya hanya ruang tamuku saja yang dipenuhi orang-orang. Hari ini ada acara doa bersama setelah satu tahun ibuku meninggal.
Ya, ibuku sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu aku masih kelas sepuluh. Sekarang aku hanya tinggal berdua dengan ayahku karena aku anak tunggal.
Aku menatap kesibukan di ruang tamu dari lantai dua rumahku tanpa berniat untuk menolong mereka yang sedang kerepotan. Bukan karena apa-apa, tapi aku tidak mungkin muncul di tengah keramaian saat aku belum mandi seharian hahaha! Oke, sebaiknya aku mandi sekarang karena pengajiannya akan segera dimulai.
***
Pengajian hari ini selesai dan sekarang aku sedang membantu beberapa saudaraku untuk membagikan bingkisan pada orang-orang yang sudah datang.
"Ssstt... Sivia!" aku menoleh ke asal suara yang memanggilku, Ify. Aku memberi kode agar Ify menunggu aku menyelesaikan tugasku dulu.
Setelah selesai membagikan bingkisan-bingkisan itu, aku langsung menghampiri Ify. Ify adalah tetanggaku sekaligus sahabatku sejak kecil.
"Apa?" tanyaku.
"Itu siapa?" Ify menggedikan dagunya ke arah dua orang cowok yang sedang mengobrol di halaman rumahku, sedangkan posisiku dan Ify ada di teras. Cukup jauh dari dua cowok itu.
"Oh... Itu sodara gue, Mas Alvin sama Mas Cakka," jawabku.
"Mereka kembar?"
Aku tertawa mendengar ucapannya, "sebegitu miripnya ya? Nggak kok, mereka emang kakak-adik yang mirip banget. Mereka juga punya kakak cewek yang mirip banget sama mereka, namanya Kak Angel."
"Mereka semua kelas berapa?" tanya Ify lagi.
"Ng... Kak Angel baru lulus kuliah dan langsung kerja di perusahaan asing gitu. Kalo Mas Alvin kuliah semester dua, Mas Cakka kelas dua belas."
"Gue nggak nyangka lo punya sodara yang ganteng-ganteng gitu, kenalin ke gue kek, Vi!" seru Ify dengan nada bercanda.
Aku menghela nafas, "jangankan ngenalin ke lo, gue aja jarang bahkan nyaris nggak pernah ngomong sama mereka!"
"Serius? Sodara macem apa kalian?" Ify memasang wajah heran.
"Apaan juga jadi deh!"
***
Hampir jam sebelas malam dan aku belum bisa tidur. Jadi kepikiran sama omongan Ify tadi sore.
Mas Alvin. Saudaraku yang satu itu emang cuek, tapi kayaknya cuma cuek sama aku. Malahan adiknya, Mas Cakka, juga ikut-ikutan cuek sama aku. Padahal kalo sama saudara cewek yang lain mereka biasa aja. Aku nggak tau salahku apa ke mereka. Tapi... Mereka kayak benci banget sama aku.
Jujur, aku suka sama mereka. Suka bukan dalam arti jatuh cinta, ya. Tapi ya suka aja. Aku mauuu banget punya kakak cowok. Apalagi kalo yang jadi kakak aku mereka, pasti seneng banget deh...
Haha aku cuma menghayal. Sampai kapan pun mereka bakalan tetep jauhin aku dengan alasan yang nggak jelas.
***
3bulan kemudian...
Hari ini ayah pulang cepet. Nggak biasanya. Aneh sih, bisa makan malem bareng ayah. Biasanya kan aku cuma ditemenin Bi'Muji atau terkadang Ify yang main ke rumahku.
"Ehm, Via," ayah menghentikan makannya.
"Kenapa, yah?"
"Kalo misalnya ayah nikah lagi... Gimana?"
Aku terdiam sebentar. Ehm, bener kan? Ada yang aneh. Aku jawab apa ya?
"Gimana, Vi?" tanya ayah lagi.
"Tergantung. Sama siapa?"
"Kamu pasti kenal orangnya."
"Siapa?"
"Tante Zahra, kenal kan? Adiknya Budhe Irva."
Aku tertegun. Aku memang mengenal dua nama itu. Budhe Irva itu adalah ibu dari Mas Alvin. Dan Tante Zahra memang adiknya Budhe Irva, aku sudah kenal dari kecil. Tante Zahra adalah perempuan yang mapan dan cukup baik. Ya, nggak ada salahnya kalo dia jadi ibu tiriku.
"Iya deh, yah. Nggak pa-pa," ujarku seraya tersenyum.
***
Waktu terus berjalan. Nggak terasa, bulan depan ayah menikah dengan Tante Zahra. Agak canggung juga kalo harus manggil Tante Zahra dengan sebutan 'ibu' atau semacamnya. Dan untungnya Tante Zahra nggak keberatan kalo aku tetep panggil Tante meskipun udah nikah nantinya.
Dan kamu nggak usah bingung kenapa ayah bisa menikah sama Tante Zahra yang notabene masih ada hubungan saudara.
Ya, kami memang bersaudara. Tapi sebenarnya kami tidak memiliki hubungan darah. Bisa dibilang kami ini saudara jauh, aku juga sebenarnya nggak mengerti sejarahnya. Tapi ya, begini lah.
Dan dalam jangka waktu satu bulan lagi, aku resmi sepupuan sama Mas Alvin dan Mas Cakka! Semoga mereka nggak cuek lagi sama aku...
***
Nggak terasa, hari ini ayah dan Tante Zahra nikah! Yaaa, akhirnya ayah punya pendamping hidup lagi.
Pagi ini aku berangkat bareng ayah ke tempat akad nikah, saudaraku yang lain berangkat dengan mobilnya masing-masing. Sedangkan Tante Zahra dan keluarganya udah sampai duluan disana.
"Via, baju kamu udah di mobil kan?" tanya ayah.
"Oh dipake disana, yah? Aku kira langsung dipake dari rumah. Yaudah ayah duluan ke mobil aja," seruku dari dalam kamar.
Beberapa saat kemudian aku keluar dari kamar membawa koper kecil berisi dress, sepatu, baju ganti, iPad dan kamera DSLR-ku untuk mendokumentasikan pernikahan ayah nanti.
***
Sekitar 45menit kemudian aku sudah sampai di lokasi akad nikah yang bersebelahan dengan gedung resepsi.
"Make-up dulu baru ganti baju, Vi. Ruang make-upnya dibelakang pelaminan," ujar ayah. Aku hanya mengangguk. Lalu membawa koperku ke ruangan yang ayah tunjuk tadi.
***
Aku masuk ke ruang make-up sekaligus ruang ganti tersebut. Sudah ada dua orang yang ditugaskan untuk mendandani keluarga mempelai. Sedangkan perias pengantin berada di ruang sebelah.
"Via! Ayo sini make-up, abis itu ganti baju baru tata rambut," ujar Budhe Irva. Aku baru sadar kalo ada Budhe Irva, hahaha.
Aku mengangguk dan duduk di depan meja rias itu. Sejujurnya, aku agak terpaksa pake dress dan high heels. Di tambah make-up ini... Aku nggak pernah suka hal-hal kayak gini, tapi ya demi ayah deh.
Perias tadi mulai mendandani aku dan orang itu menyuruhku untuk menutup mata selagi dia merias. Sekitar 15menit kemudian orang itu menyuruhku membuka mataku.
***
Ya Tuhan! Siapa yang ada di cermin ituuu? Aku? Aku nggak secantik itu! Jadi itu siapa? Hantu?
"Yak, sentuhan terakhir, lipstik!" seru perias tadi.
Aish, ini bagian yang paliiiiing aku nggak suka! Bakalan ada benda aneh yang menempel dibibirku, err...
"Nah, selesai!"
Ng... benda ini bener-bener menempel dibibirku sekarang. Aku bersumpah, kalo aku nemu tissu bakalan langsung aku hapuuus!
Aku hanya tersenyum sebagai terimakasih pada perias tadi dan masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajuku. Dress selutut dengan lengannya yang panjang. Mirip gaunnya Kate pas nikah sama Prince Willam gitu, hahaha. Ya bedanya kalo gaunnya Kate kan panjang, kalo aku cuma selutut hehehe.
Aku keluar dari ruang ganti dan langsung duduk lagi di depan meja rias, saatnya tata rambut!
"Rambutnya mau diapain? Di konde aja, gimana?" tanya perias tadi.
"Eeeh! Nggak, nggak! Ng... Digerai aja deh," seruku langsung. Nggak kebayang kalo aku dikonde, rambutku bisa kayak akar kerasnya gara-gara disemprot hairspray!
"Kalo digerai biasa aja dong? Agak dicurly, mau nggak?" tanyanya lagi.
Iya juga sih, kalo digerai doang biasa aja. "Boleh deh."
***
Yak! Selesai! Aku menatap puas ke arah cermin. Make-up natural, rambut sebahu yang sedikit dicurly dan dress sederhana yang menawan. Haha, bukannya aku narsis. Tapi ya, aku ngerasa lebih percaya diri. Ini bukan aku yang biasanya, meskipun sebenernya aku nggak terbiasa pake dress, make-up dan high heels. Tapi ya, sekali-sekali nggak pa-pa deh!
Iseng, aku ke ruang sebelah. Ruang make-up pengantin. Aku menggeret koperku sambil menjinjing sepatu ketsku yang tadi aku pakai berangkat ke tempat ini.
Begitu aku masuk, Tante Zahra langsung menoleh.
"Ya ampun, Via! Kamu cantik banget loooh," serunya dengan mata berbinar.
Aku tertawa, "Tante berlebihan deh!"
"Beneran, coba dari dulu kamu feminim, Vi," Tante Zahra tertawa kecil.
"Tau nih, Via. Dibilangin kamu tuh aslinya udah manis, kalo feminim pasti tambah cantik deh," ujar ayah.
"Iiih ayah ikut-ikutan aja! Udah ah aku mau liat-liat dulu, nitip tas ya, yah!"
***
Aku mengalungkan kamera berlabel Nikon itu dileherku, sesekali aku membidik ruang resepsi dari beberapa arah. Setelah itu aku keluar dari gedung dan memfoto gedung itu.
"Sivia?" aku mendengar seseorang menyebut namaku dengan agak ragu, aku tau pemilik suara itu. Aku langsung menoleh.
"Ya ampun, ini beneran elo, Vi?! Cantik banget, gilaaaa!!!!" seru orang itu. Ify.
"Nggak usah lebay deh. Lo juga seperti biasanya, cantik!"
"Iya, gue kan emang cewek. Nah kalo lo kan diragukan..." ledek Ify.
"Enak aja!"
Aku memang meminta Ify untuk datang lebih pagi daripada tamu lain, dia bahkan berangkat dengan mobilnya sendiri. Emang bener-bener sahabat yang baik deh, hahaha!
"Vi, ada Mas Cakka sama Mas Alvin nggak?" tanya Ify.
"Yeee dasar lo!"
***
Akad nikah sedang berlangsung, sedangkan aku sibuk mengabadikan momen-momen langka ini.
***
Meskipun sudah menyewa fotografer profesional, ayah tetep meminta aku untuk mengabadikan momen ini! Jadi ya nggak pa-pa kalo aku sibuk mondar-mandir padahal yang lain duduk manis hahaha.
Aku kira, cuma aku dan fotografer itu yang sibuk mondar-mandir. Ternyata... Mas Alvin juga sibuk membidik dari berbagai sudut. Dan nggak jarang dia ada di dekatku.
Ng... entahlah. Aku ngerasa agak salting, atau gugup mungkin? Ya ampun, jangan-jangan aku beneran suka sama Mas Alvin dalam arti kata sebenarnya! Ah, semacam brother komplex? Ada-ada aja! Dia aja cueknya setengah mati, kalo aku beneran suka yang ada sakit hati terus!
Udah deh, Via. Nggak usah mikirin itu. Mikirin Mas Alvin emang suka bikin kesel sendiri.
***
Sekarang saatnya resepsi, semakin siang tamu semakin banyak yang berdatangan. Dan nggak jarang ada artis-artis sosialita. Yayaya, Tante Zahra emang sosialita yang bergaul sama beberapa artis juga. Jadi ya, nggak heran.
Dari sekian banyak tamu, sebagian besar bilang aku cantik. Baiklah, mereka bilang aku cantik cuma pas aku feminim aja. Berarti kemarin-kemarin aku gimanaaa?! Err...
Tiba-tiba Ify menyikut pinggangku. "Apasih?" tanyaku.
"Lo ngundang temen sekolah selain gue, Shilla, Prissy sama Febby ya?"
"Nggak. Temen gue yang gue undang cuma kalian. Tapi yang fix dateng cuma lo sama Prissy doang kok. Kan lo tau sendiri!"
"Lah itu anak kenapa disini?" Ify memandang ke arah pintu masuk.
Aku tercekat. Rio! Kenapa dia bisa disini?
"Dia dateng sama bokap nyokapnya, Vi. Apa mungkin relasi bokap lo?" Ify berusaha menebak.
Aku berusaha mengingat. Keluarga Haling. Ya, aku ingat! Ayah Rio memang salah satu relasi ayahku. Sialan.
"Iya, Fy. Bokapnya relasi bokap gue," ujarku.
"Yaampun, Jakarta sempit amat sih!" gerutu Ify.
Ify aja segitu keselnya, gimana aku? Sebenernya kalo Rio cuma temen sekolah biasa sih nggak pa-pa!
Tapi Rio itu salah satu The Most Wanted Boy di sekolah. Dia kakak kelasku. Dan dia... well, dia mantan pacarku. Baru sebulan yang lalu aku putus. Ya, putus karena dia yang terlalu genit sama cewek! Mentang-mentang jadi idola ya seenaknya gitu, lupa deh kalo punya pacar. Karena nggak tahan yaudah aku bubarin aja.
Tapi Rio masih bersikukuh kalo kita belum putus. Katanya, kalo putus cuma sepihak itu nggak sah. Dan dia masih menganggap aku pacarnya, kelakuannya di sekolah pun suka berlebihan, sok mesra nggak jelas. Cewek lain mungkin suka diperlakukan kayak gitu, tapi aku malah muak!
Dari sudut ruangan tempat aku dan Ify duduk di bangku yang berjejer, aku menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam.
Aku tau banget, Rio nggak tertarik buat ikutan acara orang tuanya. Apalagi yang berhubungan sama bisnis, dia seakan alergi sama itu semua. Tapi kenapa sekarang dia ada disini? Rio pasti tau yang nikah itu ayahku, kalo dia nggak tau, dia nggak bakal sudi dateng ke acara pernikahan relasi bisnis orang tuanya!
"Dia jalan kesini, Vi," ujar Ify.
"Iya. Gue tau. Lo liat aja kalo dia macem-macem gue apain tu anak!"
Dan benar. Kedua orang tua Rio sibuk dengan rekannya yang lain, sedangkan Rio berjalan ke arahku dan Ify. Cowok itu tersenyum dan memandang tepat di manik mataku, aku sedikit mengangkat dagu dan membalas tatapannya seolah menantang cowok itu.
"Hai Ify!" sapa Rio. Ify hanya memandang sinis dan berlalu pergi.
"Emang mesti kayak gitu ya caranya ngusir temen kamu itu," ujar Rio.
Aku tidak mengucapkan apapun, aku terus memandangnya dengan tatapan tajam.
"Oh hai, dear. Ngeliatinnya nggak usah gitu, jangan buat aku khilaf, oke?" ujarnya lagi dengan nada kalem.
Aku membulatkan mataku. Kalimat jangan-buat-aku-khilaf itu maksudnya apa?!
"Temen kamu aja diundang, kenapa kamu nggak ngundang aku?" Rio mengalihkan pembicaraan.
Duh, siapa elo? Pengen banget gue undang sih!
Rio mulai meraih tanganku dan jelas aku menepisnya.
"Kamu kenapa, darl?" tanya Rio dengan suara rendah yang lembut.
Aku berpura-pura mau muntah begitu mendengar panggilan-panggilan sok romantisnya itu. Dear, darl, abis ini apa lagi?!
Emangnya dia kira aku kayak cewek-cewek yang biasa dia godain? Meskipun harus diakui, hari ini Rio keliatan cocok dengan kemeja putihnya dan suaranya emang kedengeran... err.. yaaah begitulah.
Rio terlihat menyeringai, "Via. Kamu nggak kangen sama aku?"
ERRR PLIS SIAPAPUN TOLONG GUE YANG PUNYA GOLOK, KAMPAK, CELURIT ATAU APAPUN ITU YANG BISA BIKIN COWOK MENJIJIKAN INI LANGSUNG MATI!
"Ngomong-ngomong, kamu cantik banget, Vi," ujar Rio lembut.
Kali ini cowok itu merangkum kedua pipiku dengan telapak tangannya dan aku nggak menepis sama sekali. Bukan. Bukan karena aku suka diperlakukan kayak gini sama Rio, tapi aku ngebayangin Mas Alvin yang ngelakuinnya.
"Dan kamu terlihat lebih cantik kalo diliat sedeket ini," ucap Rio.
Seakan tersadar, aku langsung menepis tangannya. Ya ampun, emangnya sedeket apa aku sama Rio? Bahkan aku bisa ngerasain nafasnya... Beruntung perbuatannya tadi nggak menarik perhatian orang-orang.
Rio tersenyum miring. Sialan! Dia ngetawain aku? Atau gimana? Dasar cowok muka tembok!!!!! Oke, kesabaranku habis!
"Lo mau ngapain sih, Yo?! Gue udah bukan siapa-siapa lo lagi. Berhenti gangguin gueee!!!" gertakku dengan suara rendah. Aku nggak mau merusak acara penting ayah.
"Oke. Gue nggak bakal ganggu lo lagi, tapi lo bisa nemenin gue jalan kan? Hari ini aja. Terakhir, darl," Rio memasang tampang serius.
Err.. kenapa Ify tadi pake kabur segala sih?! Aku harus jawab apaaa?!
"Terakhir, Vi. Gue udah ngemis-ngemis gini sama lo, masih lo tolak juga?"
Aduh ini cowok kok jadi lebay gini sih. Menjijikan. Well, daripada dia semakin menjijikan lebih baik aku terima aja deh. Terakhir, Via. Nggak masalah!
"Oke. Tapi tunggu acara ini selesai. Gimana?"
"Selesai jam berapa?" Rio melingkarkan lengannya dibahuku.
"Tiga jam lagi," jawabku sambil berusaha menepis tangannya.
"Jangan nolak, Vi. Seharian ini kamu punya aku," ucap Rio.
Aku kontan melotot, kamu-punya-aku? Dari Hongkong kali! "Heh, nggak ada perjanjian kayak gitu tadi!"
"Tapi kamu udah bilang iya."
"Lo tadi cuma minta gue nemenin lo jalan dan gue cuma bilang iya!"
"Justru karena kamu cuma bilang 'iya' kamu nggak bilang 'iya aku nemenin kamu jalan' jadi ya terserah aku mengartikan kata 'iya' itu mau kayak gimana," jelasnya.
"Yayaya. Terserah lo!"
***
Aku masuk ke dalam ruang ganti. High heels ini bikin kakiku pegel setengah mati. Lebih baik aku pake kets tadi deh. Senggaknya warna sepatu kets dan dressku cocok. Sama-sama putih.
Aku keluar dari ruang ganti dengan sepatu ketsku. Menemui Rio yang menunggu diluar sedaritadi.
Rio tersenyum saat melihat heelsku berganti dengan kets. Dia nggak komentar apa-apa dan dengan cueknya menggandeng tanganku.
"Kayaknya makanannya enak-enak. Kamu udah makan?" tanyanya, aku cuma menggeleng.
"Mau makan apa?" Rio bertanya lagi dan aku menggeleng lagi.
Sebenernya laper juga sih. Tapi jadi nggak nafsu makan kalo ada lo, Rio!
Aku menyisir tempat ini dengan pandanganku, dan tatapanku terhenti tpada stand dim sum.
Bukan karena nafsu makanku yang sudah kembali, tapi karena ada Mas Alvin di dekat standnya! Mas Alvin keliatan lagi ngobrol sama seorang... cewek. Ashilla.
Cewek itu bukan salah satu dari keluarga besar kami, tapi ya masih ada hubungan silahturahmi. Dan aku cukup tau tentangnya. Gadis anggun, manis, kalem khas gadis Jawa.
Aku juga keturunan Jawa, tapi nggak kayak Ashilla. Aku nggak anggun, aku juga bukan cewek yang bersikap manis, dan aku bukan cewek yang kalem. Ya, aku agak... ekspresif?
"Via! Bengong?" Rio menepuk bahuku.
"Eh, nggak! Ng... Yo, gue mau makan dimsum."
"Oh, oke." Rio menariku ke stand dimsum dan dia masih menggenggam tanganku.
Rio menyerahkan seporsi dimsum untukku. Aku hanya menggenggam piring itu dengan kedua tangan dan aku masih sibuk memperhatikan Mas Alvin lewat sudut mataku.
Orang yang resmi jadi sepupuku sejak hari ini, orang yang 4tahun lebih tua diatasku, Mas Alvin. Ya, dia cukup memikat hari ini.
Aku menghela nafas. Mas Alvin... Kapan sih dia bisa 'ngeliat' aku?
***
Acara selesai. Setelah pamit sama ayah dan Tante Zahra, Rio langsung membawaku ke basement. Dia membawa mobil yang berbeda dengan orang tuanya. Dan orang tuanya sudah pulang sedaritadi.
Basement gedung ini sudah sepi hanya tersisa beberapa mobil.
"Tunggu, kita mau kemana?" aku berusaha was-was.
"Tempat untuk bersenang-senang, mungkin?"
"Yo, serius!"
"Dufan? Nggak. Bukan Dufan. Hmm... kita ke Marriot."
Marriot? JW.Marriot maksudnya?! Untuk apa?! Otomatis aku melepas genggamannya ditanganku.
"Nggak. Marriot mana pun yang lo maksud, gue nggak mau ikut."
"Kenapa, sayang?" Rio kembali meraih tanganku dan kali ini sedikit lebih kasar.
"Karena gue rasa lo psikopat," ujarku dengan nada tenang. Bodoh. Dalam keadaan kayak gini masih bisa-bisanya aku nantang dia.
Rio menyeringai, dia menarikku ke mobilnya. Dia menahan tubuhku di pintu Juke-nya itu.
"Ya... Bisa dibilang gue psikopat, eh nggak deh. Gue cuma rada-rada miring aja. Dan itu gara-gara lo!" ucap Rio dengan suara rendahnya. "Sadar nggak kenapa gue kecentilan sama cewek-cewek itu? Ya itu salah lo! Gue sukanya sama lo, tapi lo terlalu munafik! Lo terlalu polos! Lo nggak bisa gue pake!"
PLAKKK!!!
Tanpa sadar aku menamparnya. Cowok di depanku ini emang pantes di tampar atau bahkan aku lempar ke neraka!
"Kenapa kamu tampar aku, sayang? Jangan bikin aku khilaf disini, darl."
"Sakit jiwa," desisku.
"IYA!" bentaknya.
Dan dengan kasar Rio berusaha menciumku. Sebisa mungkin aku menghindar, cuma itu yang aku bisa. Tenaga dia terlalu kuat untukku.
"CK! SIALAN!" aku mendengar umpatan seseorang, suara laki-laki. Mas Alvin!
Rio menghentikan perbuatannya. Tapi kedua tangannya masih mencengkram bahuku.
Aku nggak ngeliat Mas Alvin sama sekali. Dimana dia? Dia dateng mau nolong aku? Ya, semoga.
Suara langkah berat semakin mendekat ke arahku dan Rio.
"Brengsek!" Rio mengumpat lalu masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkanku sendirian di basement.
"KKA, KETEMU NGGAK?!" suara teriakan Mas Alvin lagi.
"Ck! Susah, mas! Barang sekecil itu lo cari di tempat gelap gini, lagian lo bisa-bisanya ngilangin memory kamera di basement," suara Mas Cakka. Ya, itu suara mereka.
"Nah! Ketemu, Kka! Yaudah ayo, balik ke atas!" lagi. Suara Mas Alvin. Suara langkah mereka semakin menjauh.
Hatiku mencelos. Mereka datang bukan untuk menolongku, mereka cuma mencari memory kamera yang hilang. Oke, ambil sisi positifnya. Rio nggak jadi berbuat hal gila.
Perlahan air mataku turun. Aku sendiri nggak tau, air mata ini karena perbuatan Rio atau karena kenyataan Mas Alvin datang bukan untuk menolongku?
***
Lagi-lagi aku nggak bisa tidur. Masih kepikiran hal yang terjadi hari ini. Tentang Rio dan Mas Alvin. Untungnya ada Ify yang menginap di rumahku. Saat tadi dia tau keadaanku yang masih shock dia menawarkan diri untuk menginap. Dan aku menceritakan semuanya, juga kekecewaanku bahwa Mas Alvin nggak sengaja 'menolong'-ku.
"Via, gue nggak pernah percaya yang namanya kebetulan. Mas Alvin itu sebenernya care sama lo, dia beneran mau nolong lo secara nggak langsung," ujar Ify.
"Ifyyy itu emang cuma kebetulan! Malahan gue cuma denger suaranya aja, gue nggak ngeliat dia. Kalo dia emang beneran mau nolong, harusnya pas dari awal. Bukannya pas detik-detik terakhir!" seruku.
"Ih dibilangin nggak percayaan banget sih."
"Bukannya gitu. Tapi Mas Alvin emang nggak pernah 'ngeliat' gue."
"Ng... Vi, lo beneran suka sama Mas Alvin?"
Aku menghela nafas, "taudeh. Puyeng gue."
***
Setelah kejadian di basement itu, Ify jadi terus-terusan menemaniku kemana-mana. Dia bilang, takut Rio berbuat hal nekat lagi.
Padahal, udah seminggu ini Rio nggak muncul. Di sekolah pun aku udah nggak pernah liat dia lagi.
"Aneh, gue udah nggak pernah liat Rio lagi, Fy," ujarku saat jam istirahat. Di kelas hanya ada aku dan Ify sekarang.
Ify mengernyit, "ngapain lo nyariin dia?"
"Bukannya gitu! Ya, aneh aja. Di sekolah aja gue nggak pernah liat dia lagi."
"Nggak pernah? Gue malah sering banget nggak sengaja ketemu dia."
"Dimana?!"
"Di ruang guru, koperasi dan akhir-akhir ini kan lo tau ekskul gue lagi sibuk, gue jadi sering pulang malem kan?"
"Iya. Terus?"
"Nah, gue sering ngeliat Rio main basket sendirian sampe malem disini. Gue sampe ngira dia yang megang kunci sekolah," lanjut Ify.
"Makin aneh tuh orang."
"Yaudahlah, Vi. Ngapain sih masih mikirin psikopat itu? Lupain!"
"Iya, iya, Fy!"
***
Sudah 5bulan terakhir Tante Zahra jadi ibuku, nggak ada perubahan berarti. Karena Tante Zahra juga sibuk sama seperti Ayah.
Dan ya seperti biasa, cuma ada Ify dan Bi'Muji yang menemaniku di rumah. Atau sesekali Kak Angel juga datang, seperti hari ini.
"Ify, ini Kak Angel," aku memperkenalkan Kak Angel pada Ify.
Ify tersenyum manis, "Ify."
"Angel. Kamu temen baiknya Via ya?" ujar Kak Angel.
"Ya begitu lah, kak," Ify tertawa.
Untung Ify orang yang cepat akrab, jadi dia nggak canggung sama Kak Angel yang 6 tahun lebih tua.
"Ohiya, maaf ya, Vi. Aku baru bisa dateng hari ini. Kemarin-kemarin aku sibuk di kantor," ujar Kak Angel.
"Nggak pa-pa kak, aku udah biasa sendirian di rumah. Lagipula kan ada Ify," balasku.
"Kemarin aku udah minta Alvin nemenin kamu, tapi ya dia bilangnya lagi banyak tugas kuliah terus," lanjut Kak Angel.
Hatiku mencelos. Kak Angel memang nggak tau kalo adik-adiknya ngejauhin aku. Rasanya aku mau teriak kalo Mas Alvin bohong! Dia pasti bukan banyak tugas, tapi dia emang nggak mau ketemu aku!
"Kalo Mas Cakka?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Ify. Kontan aku memelototinya.
"Aku emang nggak pernah nyuruh Cakka, soalnya dia bukan orang yang bisa diandalkan," Kak Angel tertawa.
"Ify suka sama Mas Cakka tuh, kak!" seruku.
Ify balas melotot, "Ih nggak! Via tuh yang su-" Ify langsung menutup mulutnya. Dia nyaris keceplosan!
"Via kenapa?" tanya Kak Angel penasaran. Aduh mampus.
"Itu kak, Via yang suka ngada-ngada!" jawab Ify.
"Kalo Ify suka sama Cakka juga nggak pa-pa kok, Fy," ucap Kak Angel yang sepertinya percaya ucapan Ify.
Muka Ify memerah begitu mendengar ucapan Kak Angel, "nggak kaaak!"
Kak Angel tertawa geli saat melihat muka Ify yang memerah.
Aku menghela nafas lega. Nggak lagi-lagi deh ngeledekin Ify, kalo dia keceplosan kan bahaya!
***
Hari Minggu. Aku meregangkan ototku, lalu melirik jam di nakas. Jam tujuh pagi.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan di pintu kamarku.
"Via, udah bangun?" suara Tante Zahra.
Aku bangun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar, "kenapa, tan?"
"Mau ikut nggak? Tante mau ke Kalibata, mau beli beberapa barang disana. Kali aja kamu juga mau beli apa gitu."
"Ikut deh."
"Yaudah mandi dulu. Tante tunggu di bawah, nanti kita jemput Iyon dulu ya."
Aku mengangguk, Tante Zahra turun ke lantai bawah. Aku langsung masuk ke kamar mandi.
***
Begitu selesai, aku langsung turun. Aku hanya menggunakan hot pants dan baju berlengan panjang.
"Ayo, tan!" ujarku. Tante Zahra mengangguk.
***
"Via, kamu yang jemput Iyon ya. Tante tunggu sini," ujar Tante Zahra.
Aku turun dari mobil yang diparkir di depan rumah Iyon. Iyon adalah bocah laki-laki berumur 3tahun, anak dari adik laki-lakinya Tante Zahra. Nama aslinya Rion.
Aku langsung masuk ke rumah itu, Iyon dan ibunya sudah menunggu di ruang tamu.
"Via, ini tasnya Iyon ya. Kalian hati-hati," ujar ibu Iyon sambil menyerahkan tas kecil berwarna biru itu.
"Iya, tan. Ayo, Iyon!" aku menggandeng tangan Iyon menuju mobil.
***
Tante Zahra sedang berbelanja bersama Iyon. Dan aku lebih memilih untuk tetap di mobil.
Handphoneku bergetar. Telpon dari Ify.
"Moshimoshi!" sapaku.
"Nggak usah sok Jepang lo," seru Ify.
Aku tertawa, "sirik aja lo. Ngapain nelpon?"
"Lo dimana?"
"Kalibata."
"Ngapain?"
"Tante Zahra mau belanja, ya gue ikut aja daripada bete di rumah."
"Pulang jam berapa?"
"Mau ngapain sih?" tanyaku penasaran. Nggak biasanya Ify jadi bawel gini.
"Udah jawab aja."
"Nggak tau."
"Yah, sial deh gue."
"Kenapa sih emangnya?"
"Gue jelasin di BBM deh! Bye!" Klik! Sambungan terputus.
Beberapa saat kemudian LED handphoneku mengedip-ngeipkan warna merah, BBM dari Ify.
Ify Alyssa:
Tadi Rio ke rumah lo, tapi di rumah lo ga ada orang. Terus dia jadi ke rumah gue. Gue nggak ngerti ni anak mau ngapain, lo cepetan pulaaang!
Rio ke rumahku sepagi ini? Dia mau ngapain? Aku langsung membalas chat dari Ify.
Sivia Azizah:
Dia mau ngapaaain? Yah, Fy suruh pulang aja deh. Gue kayaknya masih lama.
Ify Alyssa:
Gue nggak tau. Tadi udah gue suruh pulang, tapi kayaknya dia nggak pulang deh. Dia bilang mau nunggu lo di cafe depan komplek.
Sivia Azizah:
Gue takut, Fy.
Ify Alyssa:
Yaudah, nanti kalo lo udah pulang jangan langsung ke cafe. Lo ke rumah gue aja, nanti kita kesana.
Sivia Azizah:
Oke, thanks Fyyy!
Aku menghela nafas. Untuk apalagi Rio cari-cari aku? Jujur, aku masih takut.
***
Kini kami sedang dalam perjalanan pulang dan Tante Zahra sibuk menelpon seseorang.
"Via, tante mau ke rumah Budhe Irva. Mas Cakka sakit. Kamu mau ikut atau pulang?" ujar Tante Zahra.
Aku terdiam. Aku tau Tante Zahra sangat sayang pada keponakan-keponakannya, apalagi Mas Cakka. Jadi wajar kalo Mas Cakka sakit, Tante Zahra jadi khawatir.
Hmm... Ke rumah Budhe Irva? Pasti ada Mas Alvin. Aku mau banget ngeliat Mas Alvin. Tapi aku nggak mau dicuekin Mas Alvin lagi. Kalo pulang, aku bisa nemuin Rio. Tapi aku takut...
"Via, ikut nggak?"
"Ng... Ikut deh, tan."
***
Aku menunggu Tante Zahra yang sedang memarkir mobil di garasi.
"Ayo masuk, Vi. Kenapa berdiri disini?" tanya Tante Zahra.
Aku hanya tersenyum kikuk, aku nggak mungkin bilang kalo aku nggak berani masuk duluan karena Mas Alvin...
Iyon langsung berlari masuk sedangkan aku mengikuti Tante Zahra dari belakang.
Aku menyalimi Budhe Irva yang sudah menunggu di ruang tamu, lalu Budhe Irva mengajakku ke ruang keluarga. Sedangkan Tante Zahra langsung ke kamar Mas Cakka.
Langkahku terhenti begitu melihat Mas Alvin yang sedang berjongkok sambil mengacak-acak rambut Iyon di depannya. Iyon hanya tertawa diperlakukan seperti itu.
Aku hanya memandang mereka dari sini, terpaku. Mas Alvin seperti baru menyadari keberadaanku.
Mas Alvin menoleh. Menatapku sebentar tepat di manik mata. Lalu dia menghela nafas dan meninggalkan aku dan Iyon. Aku bisa melihat ekspresi kesalnya.
Lagi-lagi, hatiku mencelos. Entahlah, aku cuma ingin menangis sekarang...
Aku terduduk di sofa. Iyon hanya menatapku bingung. Perlahan air mataku turun.
"SIVIAAA!!!" itu suara teriakan Kak Angel dari lantai dua.
Aku buru-buru menghapus air mataku. Kak Angel berlari turun lalu menarik Iyon dalam gendongannya dan duduk di sebelahnya.
"Hei, tumben banget kamu kesini!" ujar Kak Angel. Aku hanya tertawa kecil.
"Via. Kamu nggak pa-pa? Kok nunduk aja?" tanya Kak Angel.
"Nggak pa-pa kak," aku terpaksa menatap Kak Angel.
"Kamu abis nangis?"
"Nggaaak."
"Cerita aja, Vi. Ke kamarku, yuk!" ajak Kak Angel. Aku mengikutinya dari belakang.
Kak Angel berhenti di depan sebuah kamar, mungkin itu kamarnya. Tapi kenapa Kak Angel mengetuk pintunya?
"Alvin!!!" pekik Kak Angel.
Jadi ini kamar Mas Alvin?! Mampus.
Cklek...
"Apaan?" tanya Mas Alvin.
"Nitip Iyon nih! Anak orang jangan dinangisin!" Kak Angel menurunkan Iyon dari gendongannya.
"Emangnya lo mau ngapain sih"
"Urusan cewek!" seru Kak Angel. "Ayo, Vi!" lanjutnya lalu menggandeng tanganku menuju kamarnya.
"Nah, sekarang cerita!" ujar Kak Angel saat kami sudah di dalam kamarnya.
"Cerita apa?"
"Cerita kenapa kamu nangis, Viaaa."
"Aku nggak nangis Kaaak!"
"Bohong. Ayo lah ceritaaa!"
"Harus, kak?"
"Harus!"
"Jujur, kak?"
"Jujur!"
"Sekarang, kak?"
"IYA VIAAA!!!" Kak Angel terlihat gemas.
Aku mengangkat jari telunjuk dan jari tengahku sambil tertawa.
Duh, aku nggak mungkin bilang kalo aku nangis gara-gara Mas Alvin, kan?
"Via, aku bisa tutup mulut kok!" ujar Kak Angel.
"Ng... Mas Alvin itu orangnya gimana sih, kak?"
"Alvin? Kamu ngomongin Alvin untuk mengalihkan pembicaraan atau jangan-jangan penyebab kamu nangis itu Alvin?" Kak Angel mengernyit.
"Yang kedua kak..."
"Kamu nangis gara-gara Alvin?! Kamu diapain sama dia?!"
"Ih kak, jawab dulu. Mas Alvin itu sebenernya kayak gimanaaa?"
"Gimana apanya nih?"
"Dia cuek nggak?"
"Nggak kok. Dia orangnya friendly banget," ucap Kak Angel. "Kenapa, Vi?" lanjutnya.
Aku menghela nafas, "nggak pa-pa, kak."
"Yah, Viaaa. Aku kira tadi kamu mau ceritaaa."
"Kayaknya bukan salah Mas Alvin kak, akunya aja yang lebay. Mungkin cuma perasaanku aja. Aku ngerasa Mas Alvin agak cuek, atau malahan aku ngerasa Mas Alvin agak benci sama aku."
"Jadi penyebab kamu sampe nangis tadi gara-gara Alvin yang 'katanya' benci sama kamu?" Kak Angel terlihat kaget.
Oke, kayaknya aku emang lebay. Kak Angel aja sampe kaget gitu. Aku mengangguk.
"Ada alasan lain?"
Alasan lain? Hm... ada. Karena aku broken heart gitu. Haha, nggak mungkin kan aku bilang kalo patah hati sama Mas Alvin?
Jadi, aku cuma menggeleng sebagai jawaban.
Mata Kak Angel melebar, senyumnya pun ikut melebar. "VIA! KAMU SUKA SAMA ALVIN?" pekik Kak Angel.
Aduh mampus. Semoga Mas Alvin nggak denger teriakannya Kak Angel...
"Ng.. nggak kok kak, nggak..."
"Vi, aku bisa jaga rahasia kok," bisik Kak Angel.
Aku merasa wajahku memerah sekarang. Aku harus jawab apaaa?!?!?!?!
"Diam berarti ya!"
"Eh kak, aduuuh... Ng... gimana ngomongnyaaa."
"Kita kan sama-sama cewek, Vi. Lagian liat tuh muka kamu kayak tomat."
"Ih Kak Angel! Itu Kak Angel sendiri ya yang ngomong kalo aku suka sama Mas Alvin. Aku nggak pernah ngomong gitu pokoknya! Lagian kan aku sama Mas Alvin sepupu sekarang, masa aku suka sama dia?"
Kak Angel tertawa, "masalahnya apa kalo kalian sepupuan? Oh jadi kalo bukan sepupu kamu mau?"
"Kak Angel!!!!! Aku-nggak-suka-sama-Mas-Alvin! Titik!"
"Oke, yaudah nanti aku mau comblangin Alvin sama Ashilla ajadeh."
DEG!
"Eh ng.. ya-yaudah comblangin aja. Aku... ng... bukan urusan aku juga kan?" ucapku dengan susah payah. Sial, kenapa aku jadi gagap?
"Iya juga sih. Oke, aku comblangin mereka berdua deh."
Yak. Makin jauh lah aku sama Mas Alvin. Pasrah. Bye, my Alvin...
***
Jam 7 malam aku baru pulang dari rumah Budhe Irva.
Aku ingat Rio yang menunggu di cafe depan komplek. Aku nggak yakin dia masih nunggu, hampir 12 jam aku pergi.
Ohiya! Aku baru ingat, handphoneku ada di mobil. Selama di rumah Budhe Irva aku nggak bawa masuk handphoneku.
"Tan, pinjem kunci mobiiil,; ujarku pada Tante Zahra.
"Mau kemana, Vi?"
"Nggak kemana-mana. Cuma mau ambil hape, hapeku ketinggalan di mobil."
Tante Zahra menyerahkan kunci mobilnya padaku, aku langsung berlari ke garasi.
Itu handphoneku! Yaampun. Misscallnya banyak banget! Dan semuanya dari... Rio! Telpon balik nggak ya? Hm... Panggilan terakhirnya jam enam lebih lima puluh menit. Berarti masih baru.
Duh, telpon? Nggak? Telpon? Nggak? Telpon?
Handphoneku bergetar. Panggilan masuk dari... Rio! Aku menghela nafas.
"Ha-hallo?"
"Via? Kamu udah di rumah?" tanyanya. Yaampun, ini anak masih ngomong pake aku-kamu. Huh.
"Iya. Udah di rumah."
"Kamu mau aku yang ke rumah kamu atau kamu yang ke cafe?"
"HAH?! Lo masih di cafe?!"
"Iya, Via."
"Eh ng... gue aja deh yang kesana. 15 menit! Oke? Bye." klik! Sambungan terputus.
Berarti Rio udah 12 jam di cafe dan itu karena nungguin aku. Oke, sebenernya dia mau ngapain sih?
Yaudahlah, lebih baik aku ke rumah Ify dan langsung nemuin dia. Kasian juga.
"TANTEEE, VIA KE RUMAH IFY DULU YAAA!"
***
Aku memarkirkan mobilku. Ify menggerutu di sebelahku karena dia sudah mengenakan piyamanya saat aku jemput paksa. Haha keadaan darurat.
"Gue ngawasin kalian dari sini aja ya? Keliatan kok, itu gue bisa liat Rio," ujarnya sambil menunjuk salah satu sudut cafe.
Aku tertawa, "oke. Tapi sebenernya masuk cafe pake piyama cute loh, Fy."
"Rese lo! Udah sana cepetan!"
"Iya, iya!"
Aku berjalan memasuki cafe dan langsung menuju meja Rio. Rio belum sadar dengan kedatanganku karena posisinya yang sedang menelungkup di meja.
"Rio?"
Rio mengangkat kepalanya perlahan, "Via!"
Aku duduk di hadapannya. Ya, untung cafe ini menggunakan sofa untuk tempat duduknya. Jadi duduk selama hampir 12 jam disini nggak terlalu buruk kan?
"Lo disini dari jam berapa?"
"Sekitar jam delapan," jawabnya sambil tersenyum. Senyumnya kali ini berbeda. Bukan senyuman mesum atau senyuman menggoda seperti biasanya. Senyumannya kali ini seperti... senyum yang menyiratkan kepedihan?
"Kenapa nggak pulang?"
"Aku cuma mau nunggu kamu. Nggak mungkin aku nunggu di rumah kamu, aku ngerasa terlalu jahat buat kesana. Nggak mungkin juga kan aku nunggu di rumah Ify."
Aku mengangguk pelan. Lalu hening. Oke, aku nunggu dia mau ngomong apa.
"Via, kamu masih marah nggak?"
"Eh? Ng... nggak tau."
"Kalo iya juga nggak pa-pa. Aku tau, kejadian di basement waktu itu fatal banget."
"Gue udah nggak marah sama lo. Gue cuma... agak takut ketemu lo," ucapku jujur.
Rio langsung menatapku intens setelah aku berbicara. Matanya... menyiratkan keputusasaan?
"Gue salah ngomong ya? Sorry," ujarku.
"Nggak, nggak. Harusnya aku yang minta maaf. Dan kamu nggak salah, aku lebih suka kamu jujur."
"Oh? Oke."
"Dan jujur, aku lebih suka kamu marah atau kamu benci aku sekalian daripada kamu... ya, daripada kamu takut sama aku," Rio menunduk.
Oke, aku jadi nggak enak sama Rio sekarang. Aku salah ngomong kan tadi? Sial.
"Sorry, Yo."
"Berhenti minta maaf, Via."
"Oke..."
"Aku tau, aku salah besar nyakitin kamu. Kamu itu cewek baik, bahkan setelah semua kejadian itu kamu masih bisa minta maaf padahal itu cuma kesalahan kecil yang nggak penting. Dan aku justru butuh satu minggu untuk ngumpulin keberanian nemuin kamu," ujarnya.
Aku hanya diam menunggunya bicara lagi.
"Percaya atau nggak, waktu itu aku beneran khilaf. Waktu itu aku udah nggak tau lagi gimana caranya supaya kamu balik lagi sama aku. Aku masih amat sangat sayang sama kamu, Via. Tapi caraku salah besar ya? Kamu aja sampe takut sama aku kan?" Rio tertawa kecil. Tawa yang dipaksa.
"Yang waktu lo bilang gue nggak bisa 'dipake' itu berarti lo beneran pernah nyeleweng ya?" ya, satu pertanyaan bodoh keluar dari mulutku.
"Ya, tapi nggak seburuk itu kok. Lagian aku juga tau kamu nggak pernah bener-bener sayang sama aku kan?" Rio tersenyum.
"Eh? Dulu gue sayang sama lo tau! Lo-nya aja genit sama cewek!"
"Via, kamu itu cuma nggak bisa bedain mana yang rasa sayang dan mana yang rasa terimakasih. Kamu nerima aku dulu cuma sebagai rasa terimakasih karena aku care sama kamu. Dan aku tau, kamu mutusin aku bukan sepenuhnya karena aku kegenitan sama cewek lain. Iya kan?" jelasnya.
"E-emangnya aku mutusin kamu ada alasan lain?"
"Kamu lagi suka sama orang lain," ucapnya. Oke, itu pernyataan bukan pertanyaan.
Telak! Rio betul. Oke. Banyak yang udah sadar aku suka sama Mas Alvin ya? Emangnya di jidatku ada tulisan 'Sivia Lagi Jatuh Cinta'?
"Tuhkan bener. Yaudah, lanjutin aja perasaannya. Patah hati deh gue," ujar Rio.
"Apaansih?"
"Udah bisa maafin gue?"
"Ya mungkin pelan-pelan, Yo. Nggak secepat itu."
"Mau jadi temen gue nggak nih?"
"Hah?!"
"Sekarang lo mau temenan sama gue atau mau musuhin gue, Vi? Atau mau balikan sama gue?"
"HAH?!"
"Hah-heh-hah-heh. Yang terakhir nggak serius kok!"
"Oh? Oke. Ng.. ya temenan."
Rio tersenyum lagi, dan kali ini terlihat lebih lepas. "Masih takut sama gue?"
"Gue nggak pernah takut sama lo, kok."
"Nggak usah ngerasa nggak enak gitu, gue tau lo dateng kesini minta ditemenin kan? Sampe anak orang yang udah mau tidur lo paksa ikut kesini," Rio tertawa kecil.
"Tau darimana?!"
"Tuh. Temen lo yang satu itu emang nggak pernah biasa aja ya kalo ngeliat gue? Daritadi melototin gue terus," Rio menggedikan dagunya ke tempat dimana mobilku terparkir.
"Oke, gue ketauan," ujarku.
"Nggak pa-pa, ya gue harap setelah ini lo nggak trauma sama gue sih, Vi."
"Ya, semoga..."
"Ng... Vi? Gue boleh meluk lo?" Rio bertanya dengan nada hati-hati.
"Tempat umum, Yo."
Rio tertawa miris, "gue emang nggak boleh nyamain lo sama cewek lain ya."
Aku hanya tersenyum kikuk, aku emang nggak suka mengumbar hal kayak gitu di depan umum.
"Atau lo emang nggak mau gue peluk?"
"Eh, bukan! Bukan gitu! Ya, kalo ada sedikit privasi lagi, nggak pa-pa. Tapi ini tempat umum, ya lo tau gue kan?" jelasku.
Rio tersenyum, "iya gue ngerti."
Aku ikut tersenyum lalu melirik jam ditanganku. Hampir jam setengah sembilan.
"Mau pulang, Vi?" tanya Rio.
"Iya. Jam malem gue cuma sampe jam sembilan, Yo."
"Tunggu sebentar lagi deh, Vi. Gue kasian sama temen lo itu kalo nggak dapet apa-apa," ujarnya lalu memanggil seorang pelayan.
"Ify suka hot chocolate?" tanya Rio. Aku hanya mengangguk.
"Oke, hot chocolate tiga. Ditaruh di cup aja. Semuanya jadi berapa? Total sama yang daritadi pagi," ujar Rio.
Pelayan tadi terlihat sibuk menghitung, "seratus dua puluh tiga ribu."
Rio membayarkan semua tagihannya lalu pelayan itu pergi setelah mengucapkan terimakasih.
"Lo pesen apaan aja, Yo?" aku tersenyum geli.
"Nggak tau, gue sendiri lupa. Nyaris semua menu disini gue pesen kayaknya."
"Sorry banget, Yo. Lo jadi nunggu lama."
"Sekali lagi lo minta maaf gue cium disini lo, Vi!" ancamnya. Dan otomatis aku terdiam.
"Vi, gue bercanda barusan. Lo nggak takut sama gue kan?" tanya Rio dengan ekspresi khawatir.
"Eh ng-nggak. Nggak gue nggak takut kok, iya gue tau lo bercanda."
"Permisi, ini hot chocolate-nya," seorang pelayan mengantarkan pesanan Rio.
Rio mengucapkan terimakasih dan pelayan itu berlalu pergi.
"Nih buat lo dan ini buat Ify," Rio menyerahkan dua cup hot chocolate padaku.
"Gue kan nggak minta, Yo."
"Gue masih inget kalo lo suka banget hot chocolate, lo bilang kalo ini tuh bisa nenangin lo kan?"
"Iya sih. Yaudah biar gue ganti, berapa sih?"
"Nggak usah, Via. Ayo pulang!"
***
"Nih, Fy," aku menyerahkan cup itu pada Ify.
"Sogokan dari lo ya?" Ify melirik sinis pada Rio.
"Ih Ify nggak boleh gitu! Udah terima aja!" ujarku.
Rio tertawa, "Fy, pindah kebelakang sana. Via, gue yang nganter kalian ya?"
"Heh, bukannya lo bawa mobil?" potong Ify.
"Gampang itu sih! Ya, Vi?"
"Ya, oke deh."
***
Kini tinggal aku dan Rio, Ify sudah kami antar pulang. Rio memberhentikan mobilku di depan rumah.
"Lo pulangnya gimana? Mobil lo?" tanyaku.
"Gue minta tolong sama supir gue buat ngambil, dan gue pulang naik taksi aja."
Aku langsung mengambil handphoneku untuk menelpon taksi karena aku jamin nggak akan ada taksi lewat di dalam komplek jam segini.
"Taksinya sebentar lagi, Yo. Gue temenin deh sampe taksinya dateng."
"Ngusir, Vi?" tanyanya.
"Eh? Bukaaan!!!"
Rio tertawa, "iya, iya. Bercanda kok. Thanks ya!"
Aku menyodorkan hot chocolate miliknya yang sedaritadi ku pegang. Rio menerimanya dan langsung meminumnya. Dan selanjutnya, hening...
"Rio."
"Kenapa, Vi?"
"Gue rasa, disini cukup ada privasi..."
Begitu mendengar ucapanku, Rio langsung memelukku. Erat. Lalu menyusupkan wajahnya di relung leherku.
"Gue sayang sama lo, Vi. Maafin gue," bisikknya.
Aku nggak bisa jawab apa-apa, dan akhirnya aku cuma mengangguk.
***
Liburaaan! Yay! Sebentar lagi tahun baruuu! Akhirnyaaa, ada waktu buat istirahat.
Ya setelah Rio minta maaf waktu itu, udah nggak ada kejadian berarti lagi selama 2bulan terakhir.
Aku juga nggak ketemu Mas Alvin, Kak Angel juga jarang kasih kabar. Jangan-jangan Mas Alvin udah jadian sama Shilla?! Aish, lupakan!
"Heh! Tahun baru ada acara?" tanya Ify. Hari ini gantian aku yang main ke rumahnya.
"Belum tau. Lo mau kemana?"
"Belum tau juga, gue sih tergantung lo. Kalo lo ada acara, ya gue juga ada. Kalo lo nggak kemana-mana, gue tahun baruan sama lo!"
"Dasar! Kan udah berapa kali gue bilang, lo jangan nemenin gue terus. Lo kan juga punya kehidupan sendiri, Fy. Lagian kalo lo deket-deket gue terus yang ada gue disangka lesbian sama lo lagi," ujarku.
"Sialan lo! Ya nggak lah, gue cuma takut ntar Rio tiba-tiba dateng ke rumah lo, berbuat macem-macem."
"Ifyyy! Nggak boleh gitu sama Riooo!"
"Biarin aja!"
"Dia udah ngaku salah dari kapan tau, Fy. Gue aja udah maafin, masa lo nggak?"
"Abisnya gue kesel!!!"
"Ati-ati aja nanti lo malah suka sama dia."
"Nggak akan."
"Pasti!"
"Nggak!"
"Pasti!"
"Nggak!"
"Oke. Gue pegang omongan lo ya?" ucapku.
Ify langsung terdiam, beberapa saat kemudian dia langsung bisa menguasai keadaan lagi. "Oke!"
***
Tok! Tok! Tok!
"Iya masuuuk!" ujarku dari dalam kamar.
"Via, tahun baru mau ikut nggak?" tanya Tante Zahra.
"Kemana?"
"Barbeque-an di rumah Budhe Irva."
"Ikuuut!" seruku langsung.
***
New Year Eve! Yaaay! Jam 7 malam aku, ayah dan Tante Zahra berangkat ke rumah Budhe Irva.
Ya, rumah Budhe Irva. Secara nggak langsung, aku bakalan ngerayain tahun baru bareng Mas Alvin! Aku juga kangen sama Kak Angel.
Begitu sampai, aku nggak secanggung waktu itu karena Kak Angel langsung menarikku ke ruang keluarga. Sudah ada Budhe Irva dan suaminya, juga orang tua Iyon. Dimana Iyon-nya?
"Kak Iyon mana?" tanyaku pada Kak Angel.
"Tuh, sama jagoan senior," jawab Kak Angel sambil memandang ke arah dapur.
Iyon digandeng Mas Cakka berjalan ke ruang keluarga.
"Siapa jagoan senior?!" gerutu Mas Cakka.
"Ya elo lah bocah," ledek Kak Angel.
Aku melihat Mas Cakka yang menggerutu karena ledekan Kak Angel. Hm... daritadi aku nggak liat Mas Alvin.
Para orang tua meninggalkan kami untuk menyiapkan barbeque-nya. Di ruang keluarga tersisa aku, Kak Angel dan Mas Cakka.
Aku memutuskan untuk chatting via BBM dengan Ify. Ternyata dia ke Bandung, dan sekarang dia malah ngomel-ngomel ke aku gara-gara perjalanan Jakarta-Bandung yang katanya macet banget.
Hanya suara tv yang terdengar di ruangan ini. Padahal tadi Iyon masih sibuk berceloteh.
Aku menegakan kepalaku yang sedaritadi memandang handphone. Dan... oke. Aku cuma berdua sama Mas Cakka disini.
Kabur? Nggak? Kabur? Nggak? Kabur? Nggak?
"Via, temenin gue jalan dong. Masih jam delapan nih. Barbequenya masih lama, gue males gabung sama para orang tua sekarang."
Oke, itu suara Mas Cakka. Nggak salah? Mas Cakka ngomong sama aku?
"Iya gue ngomong sama lo. Emangnya yang punya nama Via diruangan ini siapa lagi? Pajangan?" ujar Mas Cakka lagi.
"Oh? Ehm, tadi Mas Cakka bilang apa?"
"Tadi gue bilang, lo mau nemenin gue nggak? Jalan doang sebentar," ujarnya.
Oke, kesempatan nanyain Mas Alvin! "Emangnya Mas Alvin kemana?"
"Ke Bandung sama Shilla. Udah deh, ayo lah Viaaa."
Ke Bandung sama Shilla.
Ke Bandung sama Shilla.
Ke Bandung sama Shilla.
Oke, siapa sih yang ngulang-ngulang kalimat itu di otakku?! Nggak tau apa aku lagi pengen lompat dari jembatan?! Oke, itu lebay.
"Heh malah bengong. Ayooo!" kali ini Mas Cakka sudah berdiri sambil mengulurkan tangannya.
Aku mengangguk sambil menyambut tangannya. Hei, aku gandengan sama Mas Cakka? Kok agak aneh ya?
"MAAA! AKU SAMA VIA JALAN-JALAN SEBENTAR YAAA!" teriak Mas Cakka dari pintu yang menghubungkan ke halaman samping, tempat mereka menyiapkan pesta barbeque.
"Ayo! Bawa jaket nggak? Gue males bawa mobil."
Aku menggeleng.
"Tunggu sebentar," Mas Cakka berlari ke lantai atas. Dan beberapa saat kemudian kembali lagi membawa dua jaket.
"Nih jaket Mas Alvin. Semoga nggak kegedean," Mas Cakka menyerahkan salah satu jaket di tangannya.
"Punya Mas Alvin? Eh, mendingan gue nggak pake jaket deh. Kalo dia marah gimana?"
"Gue yang tanggung jawab."
"Nggak deh. Gue minjem jaket Kak Angel aja ya?"
"Kelamaan Via!"
"Yaudah gue nggak usah pake jaket," ujarku. Ya lebih baik kedinginan daripada Mas Alvin tambah benci sama aku.
"Ck, oke. Lo pake jaket gue. Sini jaket Mas Alvin gue aja yang pake," Mas Cakka menyerahkan jaketnya padaku.
Oke, begini lebih baik.
***
Mas Cakka ternyata mengajakku ke TMII. Ya, nggak butuh waktu lama dari rumahnya di Bambu Apus untuk kesini.
Mas Cakka sedang memarkirkan motornya.
"Ngapain kesini?" tanyaku. Sekarang aku sudah lebih lepas bicara dengan Mas Cakka.
"Mau ngobrol banyak sama lo."
"Kenapa harus disini?"
"Nggak suka?"
"Ternyata lo nyebelin ya?" desisku.
Mas Cakka tertawa. "Gondolanya bisa dipake nggak ya?"
Aku menggedikan bahuku. Mas Cakka malah menarik tanganku. Dan oke, jalan dari parkiran tadi ke tempat gondola itu lumayan jauh. Sial.
"Bisa, Vi! Ayo!" Mas Cakka membeli tiket.
***
Aku melihat pemandangan di bawah, dan ternyata aku cuma bisa liat lampu. Iya, lampu. Karena sudah malam jadi ya, nggak keliatan apa-apa.
Aku menghela nafas, meniup poniku lalau mengerucutkan bibirku. Itu kebiasaanku kalo lagi bete, hahaha.
"Gue seneng lo bener-bener jadi sepupu gue. Udah lama gue mau punya adek cewek, apalagi yang lucu kayak lo."
"Hah? Ngomong apa tadi?"
"Nggak."
"Mas Cakka!!!"
Lagi-lagi Mas Cakka tertawa, "lo ngerasa aneh nggak kita kayak gini?"
"Iya, aneh. Lo kan cuek banget sama gue, tiba-tiba jadi gini," gerutuku.
Mas Cakka terdiam dan hanya memandangiku.
"Apa liat-liat?"
"Nggak pa-pa. Lucu aja gue punya adek cewek. Kelakuannya beneran kayak bocah pula."
"Ih enak aja! Kan lo yang dibilang bocah!"
"Iya! Emang Kak Angel ngeselin! Mentang-mentang gue yang paling bungsu jadi diledekin gitu terus. Gue udah mau lulus SMA juga!" gerutu Mas Cakka.
"Cocok."
"Cocok apanya?"
"Panggilan 'jagoan senior' dari Kak Angel emang cocok buat lo. Jagoan kecilnya Iyon kan?"
"Sialan!"
Aku tertawa, "sumpah nggak nyangka lo aslinya begini."
"Terakhir kita ngobrol kapan ya, Vi?"
"Pas gue kelas 5 SD kayaknya."
"Serius?"
"Iya. Gue masih inget, dulu Mas Alvin mulai nyuekin gue pas gue masih kelas 3 SD kalo nggak salah. Dan setiap lo ngomong sama gue, pasti Mas Alvin langsung marah-marah, dia bilang lo nggak boleh deket-deket sama gue, lo nggak boleh ngomong sama gue dan larangan-larangan lainnya tentang gue. Salah gue apaan sih?" aku menumpahkan semua unek-unekku.
"Lo segitunya Vi? Cuma karena Mas Alvin ngejauhin lo?"
Aku menggedikan bahu, "mungkin gue cuma penasaran kenapa dia segitu bencinya sama gue. Sampe sekarang aja dia masih jauhin gue kan?"
"Dendam kesumat kali tuh orang."
"Thanks, Mas. Kalimat barusan bener-bener memotivasi gue," desisku.
"Sorry, Vi. Bercanda," ujar Mas Cakka. Dia terdiam sebentar, "suka sama Mas Alvin, Vi?" lanjutnya.
Oke. Bunuh aku sekarang.
"Vi, ayolah," Mas Cakka semakin mendesakku.
Lebih baik aku diam daripada salah ngomong. Siaaal!
"Why won't you answer me? Youre silence is slowly killing me," Mas Cakka bernyanyi! Oke, suaranya lumayan juga ternyata.
Aku tertawa, "killing me? Emang jawaban gue ngaruh sama hidup lo, mas?"
"Maybe yes."
"Ngaco dasar!"
Mas Cakka hanya tertawa. Dan lagi-lagi kami terdiam.
Cklek!
Karena suara itu, aku refleks berpindah tempat yang semula duduk berhadapan dengan Mas Cakka dan sekarang pindah ke sampingnya. Oke, sebenernya aku phobia ketinggian...
"Mas, itu suara apa tadiii?"
"Suara apa? Yang tadiii!"
BRAKKK!!!
"Aaaaaa!!!!!" lagi-lagi aku refleks berteriak dan memeluk Mas Cakka.
Oh ayolah, ada apa? Jangan bilang gondolanya mau jatuh? Haaaaa, ayaaaaah tolongin Via!!!!!!
Tanpa sadar aku menangis ketakutan, sebisa mungkin aku menahan isakanku.
"Nggak pa-pa, Vi. Gondolanya cuma macet sedikit, sebentar lagi juga jalan," Mas Cakka mengelus rambutku.
Aku menenggelamkan kepalaku di dada Mas Cakka, "Vi-Via takut. Via takut ketinggian."
"Hah? Kenapa nggak bilang daritadi?!"
"Tadi kan Mas Cakka yang geret Via kesini!"
"Sorry, Vi. Gue nggak tau."
"Pulaaang. Via mau pulang!!!"
"Iyaaa. Kita langsung pulang nanti. Maafin gue, ya."
Cklek!
Aku merasakan gondolanya berjalan kembali. Akhirnya...
Aku melepaskan pelukanku pada Mas Cakka.
"Nggak pa-pa?" Mas Cakka menghapus air mataku.
"Pulang..."
"Iyaaa. Kita langsung pulang abis ini, yaaa," Mas Cakka memelukku lagi.
Aku bersyukur. Senggaknya Mas Cakka bisa jadi kakak laki-laki yang melindungiku.
"Makasih, Via," bisikknya.
Aku mengernyit, "untuk?"
"Lo ngebuat gue ngerasain gimana rasanya ngelindungin seorang adik perempuan. Senggaknya gue nggak ngerasa bocah lagi karena ada yang lebih bocah dari gue."
"MAS CAKKAAAAA!!!!!"
***
Aku dan Mas Cakka sampai di rumahnya jam setengah sebelas.
"Darimana? Kayak orang pacaran kalian!" ujar Kak Angel.
"Ngaco deh kak," balasku.
"Kak Angel, kakakku yang paling cantik, paling baik sekaligus paling tua. Cakka adikmu yang paling ganteng ini abis nemenin adik perempuan kita yang manja iniii," ucap Mas Cakka. Kontan aku menginjak kakinya.
"Aaaw! Sakit, Via!" pekiknya.
"Lagian ngomong sembarangan aja!"
Kak Angel tertawa, "injekannya anak manja enak nggak, Kka?"
Mas Cakka melirik Kak Angel sinis. Aku dan Kak Angel hanya tertawa geli.
Seandainya kayak gini dari dulu. Dan seandainya ada Mas Alvin juga disini...
***
Semenjak malam tahun baru itu, aku jadi semakin dekat sama Mas Cakka. Dekat sebagai kakak-adik ya! Hahaha.
Gara-gara Mas Cakka sekarang sering nemenin aku di rumah, Ify jadi semakin sering juga ketemu Mas Cakka. Tapi kayaknya Ify biasa aja, padahal kan dulu dia nggak gitu, haha.
"Mas Cakkaaaaaaaa!!!" teriakku dari dalam kamar.
"Via, nggak usah teriak dooong! Gue jadi lupa tau! Ah tadi hasilnya berapa iniii?" Ify menggerutu.
Aku tertawa, "maaf, Fy."
"Apaan sih, Vi?" tanya Mas Cakka.
"Ajarin gue!" seruku.
"Dasar oon. Mana sini?"
Aku menyerahkan buku tulisku pada Mas Cakka.
"Yaaay! Gue selesai duluan! Besok traktir gue, lo ya?!" ujar Ify.
"Ih boong? Lo ngasal ya?" tuduhku.
"Nggak! Gue beneran mikir tau! Besok traktir gue, oke? Yaudah gue mau pulang. Kan udah ada Mas Cakka," Ify terkikik geli sambil membereskan barang-barangnya.
"Bye, Via! Bye, Mas Cakka!" pamit Ify.
"Bisa nggak?" tanyaku.
Mas Cakka terlihat sedikit bingung, "bisa. Gue cuma agak lupa aja."
"Halah alesan!" ledekku. Mas Cakka tidak membalas ucapanku.
Aku sengaja melihat-lihat isi tas Mas Cakka. Ada kamera. Aku penasaran objek apa aja yang difoto sama Mas Cakka.
"Itu kameranya Mas Alvin, Vi," ujar Mas Cakka.
"Serius?"
"Iya. Kenapa? Takut dimarahin kalo ketauan ngotak-ngatik kamera dia?" ledek Mas Cakka.
"Nggak. Gue justru penasaran. Asal lo nggak ngadu sama Mas Alvin aja sih, kalo sampe ngadu gue pecat lo jadi kakak gue!" aku tertawa saat melihat wajah polos Mas Cakka.
"Emang bisa?" tanyanya.
"Bisain aja deh. Udah itu kerjain duluuu!"
Aku kembali sibuk dengan kamera DSLR itu.
Diawal, dominan foto-foto pemandangan Tangkuban Perahu. Pasti ini waktu Mas Alvin ke Bandung sama Shilla deh.
Setelah foto-foto pemandangan di Tangkuban Perahu itu, ada foto Mas Alvin. Mas Alvin lagi. Mas Alvin lagi. Dan setelahnya ada banyak foto Mas Alvin berdua dengan Shilla. Oke, aku boleh banting kameranya nggak?
Bukannya berhenti, aku justru terus melihat foto-foto selanjutnya. Untung aku nggak nangis cuma karena foto-foto itu.
Oke, sekarang foto-foto waktu pernikahan ayah sama Tante Zahra. Diawal lebih banyak foto Kak Angel, Mas Alvin, Mas Cakka dan Shilla. Ya, Shilla lagi. Shilla lagi. Selanjutnya ya foto-foto sewaktu akad nikah dan resepsi.
Semakin lama, aku merasa ada yang aneh dengan foto-foto selanjutnya. Memang masih foto di pernikahan ayah.
Tapi... Ini kan foto-fotoku?! Aku ingat. Ada foto sewaktu aku sibuk mengabadikan acara akad nikah, foto saat aku bersama Ify, saat aku sendiri, saat aku makan.
Bahkan ada berbagai ekspresi. Mulai foto saat aku serius memperhatikan hasil bidikanku, saat aku tersenyum, tertawa, juga saat aku marah dan melirik sinis pada Rio waktu itu.
Oke, jadi ini maksudnya apa? Aku sendiri nggak sadar kalo ada yang memfotoku waktu itu.
Aku semakin mengobrak-abrik tas Mas Cakka, ada iPad.
"Mas, ini iPad siapa?"
"Punya Mas Alvin. Itu tasnya Mas Alvin ketuker sama punya gue, isinya ya punya Mas Alvin semua."
Aku nggak membalas ucapan Mas Cakka. Aku penasaran, gallery di iPad-nya berisi foto siapa?
Dan ternyata yang di iPad lebih parah. Ada banyak foto-fotoku saat aku di rumah Budhe Irva, aku ingat waktu itu saat Mas Cakka sakit. Aku mengenakan hotpants dan kaos berlengan panjang.
Semakin lama, fotoku semakin banyak. Foto yang diambil di hari yang sama. Lagi-lagi ada dalam berbagai ekspresi. Bahkan saat aku menangis juga ada.
Aku terus melihat foto-foto yang ada. Ya ampun! Foto-fotoku yang ada di facebook, di twitter, di instagram, di tumblr, semuanya ada disini!
Oke, jadi siapa sebenernya orang kurang kerjaan yang nyimpen foto-fotoku di gadgetnya Mas Alvin?
"Selesai, Vi!" pekik Mas Cakka.
Aku memasukan kamera dan iPad itu ke tas. Lalu menghampiri Mas Cakka. Nanti kalo ketemu Mas Alvin, langsung aku tanyain! Bodoamat deh dia mau nyuekin aku, yang penting aku harus dapet jawaban dari yang punya barangnya langsung!
"Makasih Mas Cakkaaa!" seruku saat melihat satu-satunya nomor yang aku nggak ngerti sudah terisi.
"Truth or dare?!"
Eh? Kenapa tiba-tiba jadi main truth or dare?!
"Kenap-"
"Truth or dare?!" potong Mas Cakka.
Aku menghela nafas. Baiklah.
"Truth."
"Sayang sama Mas Cakka nggak, Vi?"
"Ih Mas Cakka pertanyaannya narsis!!!" cibirku.
"Udah jawab aja."
"Sayang!" ujarku. "Truth or dare?!"
"Truth."
"Suka sama Ify, ya?"
"Ck. Iya!" jawab Mas Cakka.
Haaaa Mas Cakka suka sama Ify!!!!!
"Truth or dare?" tanya Mas Cakka.
"Truth."
"Tahun kemarin udah pernah dicium belum? Sama siapa?"
"Udah. Sama ayah," jawabku jujur.
"Ck, dasar bocah polos. Maksud gue bukan itu!!! Maksud gue dicium cowok," gerutu Mas Cakka.
"Ih ayah gue kan cowok!" balasku.
"Oke, terserah."
"Truth or dare?"
"Dare."
"Ajak Ify dinner cepet!" ujarku.
"Nggak punya nomernya Ify."
"Oke, nanti aku kasih. Tapi janji ya ajakin Ify dinner?"
"Iya, Viaaa. Truth or dare?!"
"Truth!"
"Kenapa Via sayang sama Mas Cakka?" tanya Mas Cakka.
"Ih dasar oon! Lo kan kakak sepupu gue, lagian kakak cowok yang care sama gue juga lo doang," jelasku.
Mas Cakka mengangguk.
"Truth or dare?"
"Truth."
"Kenapa dulu nyuekin Via?" tanyaku.
"Gara-gara Mas Alvin! Truth or dare?"
"Truth!" jawabku. Hahaha daritadi aku jawab truth teruuus!
"Pernah nyium cowok nggak? Selain ayah lo, ya," ujar Mas Cakka.
Aku menggeleng, "nggak pernah. Ng... Truth or dare?!"
"Truth."
Yah, Mas Cakka milih truth. Aku kehabisan pertanyaan lagi. Nanya apa ya?
"Lebih baik aku atau Shilla?" pertanyaan bodoh keluar dari mulutku.
Bukannya menjawab, Mas Cakka tertawa geli.
"Ih jangan ketawaaa!" gerutuku.
"Iya maaf. Lebih baik Via, deeeh," ujar Mas Cakka. "Truth or dare? Jawabnya pasti truth lagi deh," lanjutnya.
"Dare!" aku tertawa. "Sok tau sih!" ledekku.
"Sial. Ng... Oke, yakin milih dare?" Mas Cakka seolah menantangku.
"Yakin!" jawabku mantab.
"Cium gue."
"HAH?!"
"Via nggak budek kan? Ayolah, masa nyium kakaknya sendiri nggak mau?"
"Gue nggak pernah nyium cowok tau!" seruku.
"Iya gue tau," jawab Mas Cakka kalem. "Lo suruh ngajak Ify dinner aja gue mau, masa gini aja nggak mau?"
Yaudahlah, kalo Mas Cakka udah bawa-bawa kata 'kakak-adek' aku nggak bisa berkutik. Aku nggak mau Mas Cakka cuek kayak dulu lagi, "Iya, iya!"
Aku beringsut mendekati Mas Cakka. Jujur, aku degdegkan. Ini pertama kalinya aku nyium cowok selain ayah. Oke. Tarik nafas pelan-pelan, Vi...
Cup! Aku mencium pipi kiri Mas Cakka. Setelah itu aku langsung beringsut mundur ke tempat dudukku semula.
"Sebentar, gue nafas dulu," ujarku.
Mas Cakka malah tertawa geli. "Segitunya, Vi?"
"Iya! Gara-gara lo nih!" gerutuku.
"Yaudah lanjut."
"Truth or dare?!"
"Dare."
"Ganti display name BBM jadi Jagoan Senior selama seminggu!" ujarku.
"Yah, Vi. Serius?" tanyanya dengan muka memelas.
"Iya! Cepetan!"
Mas Cakka meraih Blackberry-nya dan beberapa saat kemudian aku memeriksa Recent Updates. Mas Cakka benar-benar mengganti display name-nya dengan Jagoan Senior. Hahaha!
"Gantian. Ini terakhir deh. Truth or dare?" seru Mas Cakka.
"Bener ya ini terakhir? Truth!", ujarku. Aku kapok milih dare, sumpah. Mendingan truth deh.
"Suka sama Mas Alvin nggak?" Mas Cakka bertanya dengan wajah serius.
"Ng... y-ya suka. Kalo nggak suka berarti aku benci dong? Ng... aku kan nggak benci sama Mas Alvin," jawabku dengan terbata.
"Bukan itu maksudnyaaa!!! Err, lo sayang sama Mas Alvin?" tanya Mas Cakka lagi.
"Sayang. Aku juga sayang sama Mas Cakka kan? Kan kalian, ng... kalian saudaraku juga."
Mas Cakka menghela nafas, sepertinya kesabarannya habis, hahaha.
"Oke, Via. Dengerin gue. Lo percaya sama gue kan? Gue nggak akan bilang siapa-siapa, Vi. Sumpah! Sekarang jawab. Lo cinta sama Mas Alvin?" ujar Mas Cakka.
Aduh, aku harus jawab apa sekarang? Kenapa jadi serius gini sih? Nggak lagi-lagi deh main truth or dare sama Mas Cakka!
Oke, lebih baik jujur deh. Tarik nafas... lalu aku menghembuskannya dengan sekali sentakan, "iya. Gue cinta sama Mas Alvin!" ujarku tegas. Rasanya beban berat dipunggung terangkat saat mengucapkannya...
"Gue juga suka sama lo. Gue juga sayang sama lo. Gue juga cinta sama lo," ujar suara di belakangku.
Itu... suara Mas Alvin! Nggak. Aku terlalu banyak menghayal tentang Mas Alvin. Nggak mungkin itu Mas Alvin.
Aku merasakan orang itu semakin mendekat. Semakin mendekat di belakangku.
"I love you," bisiknya tepat di belakang kepalaku.
Darahku berdesir. Tuhan, kalo ini mimpi jangan sampe aku bangun lagi...
"Via, kamu masih mau ngebelakangin aku?" ujar suara itu lagi.
Perlahan aku membalik badanku, agak sulit karena aku sedang duduk di karpet.
"Mas Alvin!" aku langsung menutup mulutku dengan telapak tangan kanan.
Wajah Mas Alvin hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahku, dan itu benar-benar membuat darahku berdesir hebat. Dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Aku nggak mimpi kan?" bisikku.
"Nggak. Ini nyata, Via," Mas Alvin tersenyum lalu menarikku dalam pelukannya.
Aku langsung membalas pelukannya itu. Khayalanku jadi kenyataan.
***
Sore ini semuanya berkumpul di rumahku. Ayah, Tante Zahra, Budhe Irva dan suaminya, Kak Angel, Mas Cakka sampe Ify juga ada! Dan kali ini ada Mas Alvin.
"Jelasin semuanyaaa! Kalian selama ini rencanain apa sih?" ujarku. Aku rasa, disini yang nggak tau rencananya cuma aku sama Ify.
"Tanya sama Alvin, Vi," ujar ayah.
"Sudah, ayo orang tua jangan ganggu urusan anak muda," Tante Zahra mengajak para orang tua untuk minum teh di halaman belakang.
"Mas Alvin, jelasin semuanya!" tuntutku.
"Aku aja bingung mau jelasin darimana," ujar Alvin.
"Vi, kamu suka sama Alvin sejak kapan?" tanya Kak Angel.
"Nggak tau, mungkin baru setahun terakhir ini," jawabku.
Mas Alvin tertawa, "yah baru setahun. Aku udah suka sama kamu hampir sembilan tahun, dari kamu kelas tiga SD. Sekarang kamu kelas sebelas."
"Kelas tiga SD? Waktu itu lo justru mulai ngejauhin gue, Vin!" ucapku. Aku sengaja menggunakan gue-lo dan nggak memanggilnya dengan kata 'Mas' lagi.
"Alesannya itu karena yang aku tau kita saudara. Nah, saudara itu nggak boleh nikah. Waktu itu aku nggak tau kalo ternyata kita nggak ada hubungan darah. Ditambah lagi, aku sadar waktu itu kamu nggak suka sama aku. Jadi ya, aku ngejauhin kamu aja. Niatnya mau ngilangin perasaan ini, tapi malah bertahan sampe sekarang," jelasnya.
"Kenapa Mas Cakka ikut-ikutan lo suruh jauhin gue?" tanyaku lagi.
"Ya biarin aja! Kalo seorang Alvin nggak boleh deketin cewek, Cakka juga nggak boleh! Kalo Cakka deket-deket sama kamu, yang ada aku cemburu!" jawab Alvin jujur.
"Vin, gue boleh ngakak nggak?" ledekku.
"Silahkan. Ohiya, sejak kapan kamu manggil aku pake nama aja?" desisnya.
"Barusan. Kenapa? Nggak suka?" balasku.
"Suka banget, Via," Alvin tertawa.
"Terus yang waktu kejadian di basement itu, kalian sengaja atau nggak?" kali ini Ify yang bertanya.
"Sengaja lah. Gue nggak beneran ngilangin memory kamera waktu itu," jawab Alvin.
"Kejadian basement apaan?" tanya Mas Cakka.
"Mas Cakka nggak tau?" tanya Ify lagi.
"Dia emang sengaja nggak gue kasih tau, kalo gue kasih tau pasti ni anak bakalan sok pahlawan nolongin Via. Gue cuma nggak mau nanti yang dianggap pahlawan sama Via malah dia bukan gue," jelas Alvin. Kali ini aku benar-benar tertawa mendengar jawabannya.
"Ng... kenapa Mas Alvin nggak nolongin Via secara langsung aja?" lagi-lagi Ify yang bertanya.
"Nggak. Kalo tolongin secara langsung, gue takut itu cowok mati gue gebukin. Gue juga nggak bisa ngeliat Via dalam keadaan begitu, kalo sampe gue ngeliat yang ada gue langsung lari meluk dia," jelas Alvin lagi. Aku merasa wajahku memerah karena jawabannya itu.
"Kak Angel tau semua ini?" tanyaku.
"Tau, Vi. Alvin kalo mau apa-apa kan curhatnya sama aku. Kamu inget nggak waktu kamu bilang kamu sempet nangis karena Alvin, aku agak kaget. Inget?" ucap Kak Angel.
Aku mengangguk, "iya. Aku lebay banget kan sampe Kak Angel kaget gitu," gerutuku.
"Bukan! Bukan karena itu. Waktu itu aku kaget soalnya aku seneng, Via. Ternyata perasaan Alvin selama bertahun-tahun akhirnya terbalas," jelas Kak Angel.
"Kalo soal Shilla?" aku memberanikan diri untuk bertanya masalah Shilla.
"Shilla sama Alvin kan emang temenan dari kecil. Kamu tenang aja, Shilla juga udah punya pacar kok," ucap Kak Angel. Oke, aku bisa bernafas lega sekarang.
"Soal foto-foto aku di kamera sama iPadnya Alvin?"
"Koleksi pribadi, Via," ujar Alvin.
"Dasar aneh!" cibirku.
Iya, aku jatuh cinta sama orang aneh, yang egois dan agak konyol. Hahaha.
"Ternyata kalian happy ending ya," ucap Mas Cakka.
"Happy ending, happy ending! Pulang dari sini lo yang abis sama gue, Kka!" desis Alvin.
"Emang kenapa?" ujar Ify.
"Karena Jagoan ini berani banget meluk-meluk Via. Bawa Via naik gondola. Dan akhir-akhir ini ternyata si Jagoan sering godain, Via. Yang paling fatal itu yang tadi..." Alvin menajamkan pandangannya pada Cakka.
"Tadi kenapa?" Kak Angel ikut penasaran.
"Gini kak, Via itu nggak pernah nyium cowok. Nah tadi itu gue minta Via nyium gue, di depan Mas Alvin! Dan cowok pertama yang Via cium itu gue," Mas Cakka menjelaskan dengan santai lalu tawanya meledak.
"Kok mau sih Vi, nyium bangke kayak dia?" ucap Kak Angel.
"Tadi lagi main truth or dare kak, lagian Mas Cakka bawa-bawa 'kakak-adek' segala. Ya, satu-satunya kakak cowok yang care sama aku kan cuma Mas Cakka doang. Jadi aku mau," jelasku.
"Berarti gue nggak salahkan? Lagian siapa suruh Mas Alvin nggak deketin Via daridulu! Cemen sih, berani deketinnya pas Via-nya udah bertekuk lutut," ledek Mas Cakka. "Waktu ngeliat Via pelukan sama si Rio itu aja udah ngedown yah, cowok macem apa tuh," Mas Cakka semakin gencar meledek Alvin.
Hm... Alvin ngeliat waktu aku pelukan sama Rio?
"Diem lo!" desis Alvin. "Ohiya, tadi pas Via sama Cakka main truth or dare gue sempet denger deh kalo Cakka suka sama Ify. Terus bukannya Cakka mau ngajak Ify dinner ya?" ujar Alvin.
"Ohiya! Katanya Mas Cakka mau ngajak Ify dinner. Cepetan, mumpung ada orangnya!" timpalku.
Cakka hanya melirik Ify dan Ify mengangguk. Kayaknya Ify terpaksa, hahaha!
Alvin beringsut mendekatiku, "hari ini kita jadian. Bulan depan tunangan. Tujuh tahun lagi kita nikah!" bisiknya.
"HAH?! NIKAH?!"
***
END
***
***
Rumahku mulai penuh sesak oleh orang-orang yang berdatangan. Oh, sebenarnya hanya ruang tamuku saja yang dipenuhi orang-orang. Hari ini ada acara doa bersama setelah satu tahun ibuku meninggal.
Ya, ibuku sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu aku masih kelas sepuluh. Sekarang aku hanya tinggal berdua dengan ayahku karena aku anak tunggal.
Aku menatap kesibukan di ruang tamu dari lantai dua rumahku tanpa berniat untuk menolong mereka yang sedang kerepotan. Bukan karena apa-apa, tapi aku tidak mungkin muncul di tengah keramaian saat aku belum mandi seharian hahaha! Oke, sebaiknya aku mandi sekarang karena pengajiannya akan segera dimulai.
***
Pengajian hari ini selesai dan sekarang aku sedang membantu beberapa saudaraku untuk membagikan bingkisan pada orang-orang yang sudah datang.
"Ssstt... Sivia!" aku menoleh ke asal suara yang memanggilku, Ify. Aku memberi kode agar Ify menunggu aku menyelesaikan tugasku dulu.
Setelah selesai membagikan bingkisan-bingkisan itu, aku langsung menghampiri Ify. Ify adalah tetanggaku sekaligus sahabatku sejak kecil.
"Apa?" tanyaku.
"Itu siapa?" Ify menggedikan dagunya ke arah dua orang cowok yang sedang mengobrol di halaman rumahku, sedangkan posisiku dan Ify ada di teras. Cukup jauh dari dua cowok itu.
"Oh... Itu sodara gue, Mas Alvin sama Mas Cakka," jawabku.
"Mereka kembar?"
Aku tertawa mendengar ucapannya, "sebegitu miripnya ya? Nggak kok, mereka emang kakak-adik yang mirip banget. Mereka juga punya kakak cewek yang mirip banget sama mereka, namanya Kak Angel."
"Mereka semua kelas berapa?" tanya Ify lagi.
"Ng... Kak Angel baru lulus kuliah dan langsung kerja di perusahaan asing gitu. Kalo Mas Alvin kuliah semester dua, Mas Cakka kelas dua belas."
"Gue nggak nyangka lo punya sodara yang ganteng-ganteng gitu, kenalin ke gue kek, Vi!" seru Ify dengan nada bercanda.
Aku menghela nafas, "jangankan ngenalin ke lo, gue aja jarang bahkan nyaris nggak pernah ngomong sama mereka!"
"Serius? Sodara macem apa kalian?" Ify memasang wajah heran.
"Apaan juga jadi deh!"
***
Hampir jam sebelas malam dan aku belum bisa tidur. Jadi kepikiran sama omongan Ify tadi sore.
Mas Alvin. Saudaraku yang satu itu emang cuek, tapi kayaknya cuma cuek sama aku. Malahan adiknya, Mas Cakka, juga ikut-ikutan cuek sama aku. Padahal kalo sama saudara cewek yang lain mereka biasa aja. Aku nggak tau salahku apa ke mereka. Tapi... Mereka kayak benci banget sama aku.
Jujur, aku suka sama mereka. Suka bukan dalam arti jatuh cinta, ya. Tapi ya suka aja. Aku mauuu banget punya kakak cowok. Apalagi kalo yang jadi kakak aku mereka, pasti seneng banget deh...
Haha aku cuma menghayal. Sampai kapan pun mereka bakalan tetep jauhin aku dengan alasan yang nggak jelas.
***
3bulan kemudian...
Hari ini ayah pulang cepet. Nggak biasanya. Aneh sih, bisa makan malem bareng ayah. Biasanya kan aku cuma ditemenin Bi'Muji atau terkadang Ify yang main ke rumahku.
"Ehm, Via," ayah menghentikan makannya.
"Kenapa, yah?"
"Kalo misalnya ayah nikah lagi... Gimana?"
Aku terdiam sebentar. Ehm, bener kan? Ada yang aneh. Aku jawab apa ya?
"Gimana, Vi?" tanya ayah lagi.
"Tergantung. Sama siapa?"
"Kamu pasti kenal orangnya."
"Siapa?"
"Tante Zahra, kenal kan? Adiknya Budhe Irva."
Aku tertegun. Aku memang mengenal dua nama itu. Budhe Irva itu adalah ibu dari Mas Alvin. Dan Tante Zahra memang adiknya Budhe Irva, aku sudah kenal dari kecil. Tante Zahra adalah perempuan yang mapan dan cukup baik. Ya, nggak ada salahnya kalo dia jadi ibu tiriku.
"Iya deh, yah. Nggak pa-pa," ujarku seraya tersenyum.
***
Waktu terus berjalan. Nggak terasa, bulan depan ayah menikah dengan Tante Zahra. Agak canggung juga kalo harus manggil Tante Zahra dengan sebutan 'ibu' atau semacamnya. Dan untungnya Tante Zahra nggak keberatan kalo aku tetep panggil Tante meskipun udah nikah nantinya.
Dan kamu nggak usah bingung kenapa ayah bisa menikah sama Tante Zahra yang notabene masih ada hubungan saudara.
Ya, kami memang bersaudara. Tapi sebenarnya kami tidak memiliki hubungan darah. Bisa dibilang kami ini saudara jauh, aku juga sebenarnya nggak mengerti sejarahnya. Tapi ya, begini lah.
Dan dalam jangka waktu satu bulan lagi, aku resmi sepupuan sama Mas Alvin dan Mas Cakka! Semoga mereka nggak cuek lagi sama aku...
***
Nggak terasa, hari ini ayah dan Tante Zahra nikah! Yaaa, akhirnya ayah punya pendamping hidup lagi.
Pagi ini aku berangkat bareng ayah ke tempat akad nikah, saudaraku yang lain berangkat dengan mobilnya masing-masing. Sedangkan Tante Zahra dan keluarganya udah sampai duluan disana.
"Via, baju kamu udah di mobil kan?" tanya ayah.
"Oh dipake disana, yah? Aku kira langsung dipake dari rumah. Yaudah ayah duluan ke mobil aja," seruku dari dalam kamar.
Beberapa saat kemudian aku keluar dari kamar membawa koper kecil berisi dress, sepatu, baju ganti, iPad dan kamera DSLR-ku untuk mendokumentasikan pernikahan ayah nanti.
***
Sekitar 45menit kemudian aku sudah sampai di lokasi akad nikah yang bersebelahan dengan gedung resepsi.
"Make-up dulu baru ganti baju, Vi. Ruang make-upnya dibelakang pelaminan," ujar ayah. Aku hanya mengangguk. Lalu membawa koperku ke ruangan yang ayah tunjuk tadi.
***
Aku masuk ke ruang make-up sekaligus ruang ganti tersebut. Sudah ada dua orang yang ditugaskan untuk mendandani keluarga mempelai. Sedangkan perias pengantin berada di ruang sebelah.
"Via! Ayo sini make-up, abis itu ganti baju baru tata rambut," ujar Budhe Irva. Aku baru sadar kalo ada Budhe Irva, hahaha.
Aku mengangguk dan duduk di depan meja rias itu. Sejujurnya, aku agak terpaksa pake dress dan high heels. Di tambah make-up ini... Aku nggak pernah suka hal-hal kayak gini, tapi ya demi ayah deh.
Perias tadi mulai mendandani aku dan orang itu menyuruhku untuk menutup mata selagi dia merias. Sekitar 15menit kemudian orang itu menyuruhku membuka mataku.
***
Ya Tuhan! Siapa yang ada di cermin ituuu? Aku? Aku nggak secantik itu! Jadi itu siapa? Hantu?
"Yak, sentuhan terakhir, lipstik!" seru perias tadi.
Aish, ini bagian yang paliiiiing aku nggak suka! Bakalan ada benda aneh yang menempel dibibirku, err...
"Nah, selesai!"
Ng... benda ini bener-bener menempel dibibirku sekarang. Aku bersumpah, kalo aku nemu tissu bakalan langsung aku hapuuus!
Aku hanya tersenyum sebagai terimakasih pada perias tadi dan masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajuku. Dress selutut dengan lengannya yang panjang. Mirip gaunnya Kate pas nikah sama Prince Willam gitu, hahaha. Ya bedanya kalo gaunnya Kate kan panjang, kalo aku cuma selutut hehehe.
Aku keluar dari ruang ganti dan langsung duduk lagi di depan meja rias, saatnya tata rambut!
"Rambutnya mau diapain? Di konde aja, gimana?" tanya perias tadi.
"Eeeh! Nggak, nggak! Ng... Digerai aja deh," seruku langsung. Nggak kebayang kalo aku dikonde, rambutku bisa kayak akar kerasnya gara-gara disemprot hairspray!
"Kalo digerai biasa aja dong? Agak dicurly, mau nggak?" tanyanya lagi.
Iya juga sih, kalo digerai doang biasa aja. "Boleh deh."
***
Yak! Selesai! Aku menatap puas ke arah cermin. Make-up natural, rambut sebahu yang sedikit dicurly dan dress sederhana yang menawan. Haha, bukannya aku narsis. Tapi ya, aku ngerasa lebih percaya diri. Ini bukan aku yang biasanya, meskipun sebenernya aku nggak terbiasa pake dress, make-up dan high heels. Tapi ya, sekali-sekali nggak pa-pa deh!
Iseng, aku ke ruang sebelah. Ruang make-up pengantin. Aku menggeret koperku sambil menjinjing sepatu ketsku yang tadi aku pakai berangkat ke tempat ini.
Begitu aku masuk, Tante Zahra langsung menoleh.
"Ya ampun, Via! Kamu cantik banget loooh," serunya dengan mata berbinar.
Aku tertawa, "Tante berlebihan deh!"
"Beneran, coba dari dulu kamu feminim, Vi," Tante Zahra tertawa kecil.
"Tau nih, Via. Dibilangin kamu tuh aslinya udah manis, kalo feminim pasti tambah cantik deh," ujar ayah.
"Iiih ayah ikut-ikutan aja! Udah ah aku mau liat-liat dulu, nitip tas ya, yah!"
***
Aku mengalungkan kamera berlabel Nikon itu dileherku, sesekali aku membidik ruang resepsi dari beberapa arah. Setelah itu aku keluar dari gedung dan memfoto gedung itu.
"Sivia?" aku mendengar seseorang menyebut namaku dengan agak ragu, aku tau pemilik suara itu. Aku langsung menoleh.
"Ya ampun, ini beneran elo, Vi?! Cantik banget, gilaaaa!!!!" seru orang itu. Ify.
"Nggak usah lebay deh. Lo juga seperti biasanya, cantik!"
"Iya, gue kan emang cewek. Nah kalo lo kan diragukan..." ledek Ify.
"Enak aja!"
Aku memang meminta Ify untuk datang lebih pagi daripada tamu lain, dia bahkan berangkat dengan mobilnya sendiri. Emang bener-bener sahabat yang baik deh, hahaha!
"Vi, ada Mas Cakka sama Mas Alvin nggak?" tanya Ify.
"Yeee dasar lo!"
***
Akad nikah sedang berlangsung, sedangkan aku sibuk mengabadikan momen-momen langka ini.
***
Meskipun sudah menyewa fotografer profesional, ayah tetep meminta aku untuk mengabadikan momen ini! Jadi ya nggak pa-pa kalo aku sibuk mondar-mandir padahal yang lain duduk manis hahaha.
Aku kira, cuma aku dan fotografer itu yang sibuk mondar-mandir. Ternyata... Mas Alvin juga sibuk membidik dari berbagai sudut. Dan nggak jarang dia ada di dekatku.
Ng... entahlah. Aku ngerasa agak salting, atau gugup mungkin? Ya ampun, jangan-jangan aku beneran suka sama Mas Alvin dalam arti kata sebenarnya! Ah, semacam brother komplex? Ada-ada aja! Dia aja cueknya setengah mati, kalo aku beneran suka yang ada sakit hati terus!
Udah deh, Via. Nggak usah mikirin itu. Mikirin Mas Alvin emang suka bikin kesel sendiri.
***
Sekarang saatnya resepsi, semakin siang tamu semakin banyak yang berdatangan. Dan nggak jarang ada artis-artis sosialita. Yayaya, Tante Zahra emang sosialita yang bergaul sama beberapa artis juga. Jadi ya, nggak heran.
Dari sekian banyak tamu, sebagian besar bilang aku cantik. Baiklah, mereka bilang aku cantik cuma pas aku feminim aja. Berarti kemarin-kemarin aku gimanaaa?! Err...
Tiba-tiba Ify menyikut pinggangku. "Apasih?" tanyaku.
"Lo ngundang temen sekolah selain gue, Shilla, Prissy sama Febby ya?"
"Nggak. Temen gue yang gue undang cuma kalian. Tapi yang fix dateng cuma lo sama Prissy doang kok. Kan lo tau sendiri!"
"Lah itu anak kenapa disini?" Ify memandang ke arah pintu masuk.
Aku tercekat. Rio! Kenapa dia bisa disini?
"Dia dateng sama bokap nyokapnya, Vi. Apa mungkin relasi bokap lo?" Ify berusaha menebak.
Aku berusaha mengingat. Keluarga Haling. Ya, aku ingat! Ayah Rio memang salah satu relasi ayahku. Sialan.
"Iya, Fy. Bokapnya relasi bokap gue," ujarku.
"Yaampun, Jakarta sempit amat sih!" gerutu Ify.
Ify aja segitu keselnya, gimana aku? Sebenernya kalo Rio cuma temen sekolah biasa sih nggak pa-pa!
Tapi Rio itu salah satu The Most Wanted Boy di sekolah. Dia kakak kelasku. Dan dia... well, dia mantan pacarku. Baru sebulan yang lalu aku putus. Ya, putus karena dia yang terlalu genit sama cewek! Mentang-mentang jadi idola ya seenaknya gitu, lupa deh kalo punya pacar. Karena nggak tahan yaudah aku bubarin aja.
Tapi Rio masih bersikukuh kalo kita belum putus. Katanya, kalo putus cuma sepihak itu nggak sah. Dan dia masih menganggap aku pacarnya, kelakuannya di sekolah pun suka berlebihan, sok mesra nggak jelas. Cewek lain mungkin suka diperlakukan kayak gitu, tapi aku malah muak!
Dari sudut ruangan tempat aku dan Ify duduk di bangku yang berjejer, aku menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam.
Aku tau banget, Rio nggak tertarik buat ikutan acara orang tuanya. Apalagi yang berhubungan sama bisnis, dia seakan alergi sama itu semua. Tapi kenapa sekarang dia ada disini? Rio pasti tau yang nikah itu ayahku, kalo dia nggak tau, dia nggak bakal sudi dateng ke acara pernikahan relasi bisnis orang tuanya!
"Dia jalan kesini, Vi," ujar Ify.
"Iya. Gue tau. Lo liat aja kalo dia macem-macem gue apain tu anak!"
Dan benar. Kedua orang tua Rio sibuk dengan rekannya yang lain, sedangkan Rio berjalan ke arahku dan Ify. Cowok itu tersenyum dan memandang tepat di manik mataku, aku sedikit mengangkat dagu dan membalas tatapannya seolah menantang cowok itu.
"Hai Ify!" sapa Rio. Ify hanya memandang sinis dan berlalu pergi.
"Emang mesti kayak gitu ya caranya ngusir temen kamu itu," ujar Rio.
Aku tidak mengucapkan apapun, aku terus memandangnya dengan tatapan tajam.
"Oh hai, dear. Ngeliatinnya nggak usah gitu, jangan buat aku khilaf, oke?" ujarnya lagi dengan nada kalem.
Aku membulatkan mataku. Kalimat jangan-buat-aku-khilaf itu maksudnya apa?!
"Temen kamu aja diundang, kenapa kamu nggak ngundang aku?" Rio mengalihkan pembicaraan.
Duh, siapa elo? Pengen banget gue undang sih!
Rio mulai meraih tanganku dan jelas aku menepisnya.
"Kamu kenapa, darl?" tanya Rio dengan suara rendah yang lembut.
Aku berpura-pura mau muntah begitu mendengar panggilan-panggilan sok romantisnya itu. Dear, darl, abis ini apa lagi?!
Emangnya dia kira aku kayak cewek-cewek yang biasa dia godain? Meskipun harus diakui, hari ini Rio keliatan cocok dengan kemeja putihnya dan suaranya emang kedengeran... err.. yaaah begitulah.
Rio terlihat menyeringai, "Via. Kamu nggak kangen sama aku?"
ERRR PLIS SIAPAPUN TOLONG GUE YANG PUNYA GOLOK, KAMPAK, CELURIT ATAU APAPUN ITU YANG BISA BIKIN COWOK MENJIJIKAN INI LANGSUNG MATI!
"Ngomong-ngomong, kamu cantik banget, Vi," ujar Rio lembut.
Kali ini cowok itu merangkum kedua pipiku dengan telapak tangannya dan aku nggak menepis sama sekali. Bukan. Bukan karena aku suka diperlakukan kayak gini sama Rio, tapi aku ngebayangin Mas Alvin yang ngelakuinnya.
"Dan kamu terlihat lebih cantik kalo diliat sedeket ini," ucap Rio.
Seakan tersadar, aku langsung menepis tangannya. Ya ampun, emangnya sedeket apa aku sama Rio? Bahkan aku bisa ngerasain nafasnya... Beruntung perbuatannya tadi nggak menarik perhatian orang-orang.
Rio tersenyum miring. Sialan! Dia ngetawain aku? Atau gimana? Dasar cowok muka tembok!!!!! Oke, kesabaranku habis!
"Lo mau ngapain sih, Yo?! Gue udah bukan siapa-siapa lo lagi. Berhenti gangguin gueee!!!" gertakku dengan suara rendah. Aku nggak mau merusak acara penting ayah.
"Oke. Gue nggak bakal ganggu lo lagi, tapi lo bisa nemenin gue jalan kan? Hari ini aja. Terakhir, darl," Rio memasang tampang serius.
Err.. kenapa Ify tadi pake kabur segala sih?! Aku harus jawab apaaa?!
"Terakhir, Vi. Gue udah ngemis-ngemis gini sama lo, masih lo tolak juga?"
Aduh ini cowok kok jadi lebay gini sih. Menjijikan. Well, daripada dia semakin menjijikan lebih baik aku terima aja deh. Terakhir, Via. Nggak masalah!
"Oke. Tapi tunggu acara ini selesai. Gimana?"
"Selesai jam berapa?" Rio melingkarkan lengannya dibahuku.
"Tiga jam lagi," jawabku sambil berusaha menepis tangannya.
"Jangan nolak, Vi. Seharian ini kamu punya aku," ucap Rio.
Aku kontan melotot, kamu-punya-aku? Dari Hongkong kali! "Heh, nggak ada perjanjian kayak gitu tadi!"
"Tapi kamu udah bilang iya."
"Lo tadi cuma minta gue nemenin lo jalan dan gue cuma bilang iya!"
"Justru karena kamu cuma bilang 'iya' kamu nggak bilang 'iya aku nemenin kamu jalan' jadi ya terserah aku mengartikan kata 'iya' itu mau kayak gimana," jelasnya.
"Yayaya. Terserah lo!"
***
Aku masuk ke dalam ruang ganti. High heels ini bikin kakiku pegel setengah mati. Lebih baik aku pake kets tadi deh. Senggaknya warna sepatu kets dan dressku cocok. Sama-sama putih.
Aku keluar dari ruang ganti dengan sepatu ketsku. Menemui Rio yang menunggu diluar sedaritadi.
Rio tersenyum saat melihat heelsku berganti dengan kets. Dia nggak komentar apa-apa dan dengan cueknya menggandeng tanganku.
"Kayaknya makanannya enak-enak. Kamu udah makan?" tanyanya, aku cuma menggeleng.
"Mau makan apa?" Rio bertanya lagi dan aku menggeleng lagi.
Sebenernya laper juga sih. Tapi jadi nggak nafsu makan kalo ada lo, Rio!
Aku menyisir tempat ini dengan pandanganku, dan tatapanku terhenti tpada stand dim sum.
Bukan karena nafsu makanku yang sudah kembali, tapi karena ada Mas Alvin di dekat standnya! Mas Alvin keliatan lagi ngobrol sama seorang... cewek. Ashilla.
Cewek itu bukan salah satu dari keluarga besar kami, tapi ya masih ada hubungan silahturahmi. Dan aku cukup tau tentangnya. Gadis anggun, manis, kalem khas gadis Jawa.
Aku juga keturunan Jawa, tapi nggak kayak Ashilla. Aku nggak anggun, aku juga bukan cewek yang bersikap manis, dan aku bukan cewek yang kalem. Ya, aku agak... ekspresif?
"Via! Bengong?" Rio menepuk bahuku.
"Eh, nggak! Ng... Yo, gue mau makan dimsum."
"Oh, oke." Rio menariku ke stand dimsum dan dia masih menggenggam tanganku.
Rio menyerahkan seporsi dimsum untukku. Aku hanya menggenggam piring itu dengan kedua tangan dan aku masih sibuk memperhatikan Mas Alvin lewat sudut mataku.
Orang yang resmi jadi sepupuku sejak hari ini, orang yang 4tahun lebih tua diatasku, Mas Alvin. Ya, dia cukup memikat hari ini.
Aku menghela nafas. Mas Alvin... Kapan sih dia bisa 'ngeliat' aku?
***
Acara selesai. Setelah pamit sama ayah dan Tante Zahra, Rio langsung membawaku ke basement. Dia membawa mobil yang berbeda dengan orang tuanya. Dan orang tuanya sudah pulang sedaritadi.
Basement gedung ini sudah sepi hanya tersisa beberapa mobil.
"Tunggu, kita mau kemana?" aku berusaha was-was.
"Tempat untuk bersenang-senang, mungkin?"
"Yo, serius!"
"Dufan? Nggak. Bukan Dufan. Hmm... kita ke Marriot."
Marriot? JW.Marriot maksudnya?! Untuk apa?! Otomatis aku melepas genggamannya ditanganku.
"Nggak. Marriot mana pun yang lo maksud, gue nggak mau ikut."
"Kenapa, sayang?" Rio kembali meraih tanganku dan kali ini sedikit lebih kasar.
"Karena gue rasa lo psikopat," ujarku dengan nada tenang. Bodoh. Dalam keadaan kayak gini masih bisa-bisanya aku nantang dia.
Rio menyeringai, dia menarikku ke mobilnya. Dia menahan tubuhku di pintu Juke-nya itu.
"Ya... Bisa dibilang gue psikopat, eh nggak deh. Gue cuma rada-rada miring aja. Dan itu gara-gara lo!" ucap Rio dengan suara rendahnya. "Sadar nggak kenapa gue kecentilan sama cewek-cewek itu? Ya itu salah lo! Gue sukanya sama lo, tapi lo terlalu munafik! Lo terlalu polos! Lo nggak bisa gue pake!"
PLAKKK!!!
Tanpa sadar aku menamparnya. Cowok di depanku ini emang pantes di tampar atau bahkan aku lempar ke neraka!
"Kenapa kamu tampar aku, sayang? Jangan bikin aku khilaf disini, darl."
"Sakit jiwa," desisku.
"IYA!" bentaknya.
Dan dengan kasar Rio berusaha menciumku. Sebisa mungkin aku menghindar, cuma itu yang aku bisa. Tenaga dia terlalu kuat untukku.
"CK! SIALAN!" aku mendengar umpatan seseorang, suara laki-laki. Mas Alvin!
Rio menghentikan perbuatannya. Tapi kedua tangannya masih mencengkram bahuku.
Aku nggak ngeliat Mas Alvin sama sekali. Dimana dia? Dia dateng mau nolong aku? Ya, semoga.
Suara langkah berat semakin mendekat ke arahku dan Rio.
"Brengsek!" Rio mengumpat lalu masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkanku sendirian di basement.
"KKA, KETEMU NGGAK?!" suara teriakan Mas Alvin lagi.
"Ck! Susah, mas! Barang sekecil itu lo cari di tempat gelap gini, lagian lo bisa-bisanya ngilangin memory kamera di basement," suara Mas Cakka. Ya, itu suara mereka.
"Nah! Ketemu, Kka! Yaudah ayo, balik ke atas!" lagi. Suara Mas Alvin. Suara langkah mereka semakin menjauh.
Hatiku mencelos. Mereka datang bukan untuk menolongku, mereka cuma mencari memory kamera yang hilang. Oke, ambil sisi positifnya. Rio nggak jadi berbuat hal gila.
Perlahan air mataku turun. Aku sendiri nggak tau, air mata ini karena perbuatan Rio atau karena kenyataan Mas Alvin datang bukan untuk menolongku?
***
Lagi-lagi aku nggak bisa tidur. Masih kepikiran hal yang terjadi hari ini. Tentang Rio dan Mas Alvin. Untungnya ada Ify yang menginap di rumahku. Saat tadi dia tau keadaanku yang masih shock dia menawarkan diri untuk menginap. Dan aku menceritakan semuanya, juga kekecewaanku bahwa Mas Alvin nggak sengaja 'menolong'-ku.
"Via, gue nggak pernah percaya yang namanya kebetulan. Mas Alvin itu sebenernya care sama lo, dia beneran mau nolong lo secara nggak langsung," ujar Ify.
"Ifyyy itu emang cuma kebetulan! Malahan gue cuma denger suaranya aja, gue nggak ngeliat dia. Kalo dia emang beneran mau nolong, harusnya pas dari awal. Bukannya pas detik-detik terakhir!" seruku.
"Ih dibilangin nggak percayaan banget sih."
"Bukannya gitu. Tapi Mas Alvin emang nggak pernah 'ngeliat' gue."
"Ng... Vi, lo beneran suka sama Mas Alvin?"
Aku menghela nafas, "taudeh. Puyeng gue."
***
Setelah kejadian di basement itu, Ify jadi terus-terusan menemaniku kemana-mana. Dia bilang, takut Rio berbuat hal nekat lagi.
Padahal, udah seminggu ini Rio nggak muncul. Di sekolah pun aku udah nggak pernah liat dia lagi.
"Aneh, gue udah nggak pernah liat Rio lagi, Fy," ujarku saat jam istirahat. Di kelas hanya ada aku dan Ify sekarang.
Ify mengernyit, "ngapain lo nyariin dia?"
"Bukannya gitu! Ya, aneh aja. Di sekolah aja gue nggak pernah liat dia lagi."
"Nggak pernah? Gue malah sering banget nggak sengaja ketemu dia."
"Dimana?!"
"Di ruang guru, koperasi dan akhir-akhir ini kan lo tau ekskul gue lagi sibuk, gue jadi sering pulang malem kan?"
"Iya. Terus?"
"Nah, gue sering ngeliat Rio main basket sendirian sampe malem disini. Gue sampe ngira dia yang megang kunci sekolah," lanjut Ify.
"Makin aneh tuh orang."
"Yaudahlah, Vi. Ngapain sih masih mikirin psikopat itu? Lupain!"
"Iya, iya, Fy!"
***
Sudah 5bulan terakhir Tante Zahra jadi ibuku, nggak ada perubahan berarti. Karena Tante Zahra juga sibuk sama seperti Ayah.
Dan ya seperti biasa, cuma ada Ify dan Bi'Muji yang menemaniku di rumah. Atau sesekali Kak Angel juga datang, seperti hari ini.
"Ify, ini Kak Angel," aku memperkenalkan Kak Angel pada Ify.
Ify tersenyum manis, "Ify."
"Angel. Kamu temen baiknya Via ya?" ujar Kak Angel.
"Ya begitu lah, kak," Ify tertawa.
Untung Ify orang yang cepat akrab, jadi dia nggak canggung sama Kak Angel yang 6 tahun lebih tua.
"Ohiya, maaf ya, Vi. Aku baru bisa dateng hari ini. Kemarin-kemarin aku sibuk di kantor," ujar Kak Angel.
"Nggak pa-pa kak, aku udah biasa sendirian di rumah. Lagipula kan ada Ify," balasku.
"Kemarin aku udah minta Alvin nemenin kamu, tapi ya dia bilangnya lagi banyak tugas kuliah terus," lanjut Kak Angel.
Hatiku mencelos. Kak Angel memang nggak tau kalo adik-adiknya ngejauhin aku. Rasanya aku mau teriak kalo Mas Alvin bohong! Dia pasti bukan banyak tugas, tapi dia emang nggak mau ketemu aku!
"Kalo Mas Cakka?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Ify. Kontan aku memelototinya.
"Aku emang nggak pernah nyuruh Cakka, soalnya dia bukan orang yang bisa diandalkan," Kak Angel tertawa.
"Ify suka sama Mas Cakka tuh, kak!" seruku.
Ify balas melotot, "Ih nggak! Via tuh yang su-" Ify langsung menutup mulutnya. Dia nyaris keceplosan!
"Via kenapa?" tanya Kak Angel penasaran. Aduh mampus.
"Itu kak, Via yang suka ngada-ngada!" jawab Ify.
"Kalo Ify suka sama Cakka juga nggak pa-pa kok, Fy," ucap Kak Angel yang sepertinya percaya ucapan Ify.
Muka Ify memerah begitu mendengar ucapan Kak Angel, "nggak kaaak!"
Kak Angel tertawa geli saat melihat muka Ify yang memerah.
Aku menghela nafas lega. Nggak lagi-lagi deh ngeledekin Ify, kalo dia keceplosan kan bahaya!
***
Hari Minggu. Aku meregangkan ototku, lalu melirik jam di nakas. Jam tujuh pagi.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan di pintu kamarku.
"Via, udah bangun?" suara Tante Zahra.
Aku bangun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar, "kenapa, tan?"
"Mau ikut nggak? Tante mau ke Kalibata, mau beli beberapa barang disana. Kali aja kamu juga mau beli apa gitu."
"Ikut deh."
"Yaudah mandi dulu. Tante tunggu di bawah, nanti kita jemput Iyon dulu ya."
Aku mengangguk, Tante Zahra turun ke lantai bawah. Aku langsung masuk ke kamar mandi.
***
Begitu selesai, aku langsung turun. Aku hanya menggunakan hot pants dan baju berlengan panjang.
"Ayo, tan!" ujarku. Tante Zahra mengangguk.
***
"Via, kamu yang jemput Iyon ya. Tante tunggu sini," ujar Tante Zahra.
Aku turun dari mobil yang diparkir di depan rumah Iyon. Iyon adalah bocah laki-laki berumur 3tahun, anak dari adik laki-lakinya Tante Zahra. Nama aslinya Rion.
Aku langsung masuk ke rumah itu, Iyon dan ibunya sudah menunggu di ruang tamu.
"Via, ini tasnya Iyon ya. Kalian hati-hati," ujar ibu Iyon sambil menyerahkan tas kecil berwarna biru itu.
"Iya, tan. Ayo, Iyon!" aku menggandeng tangan Iyon menuju mobil.
***
Tante Zahra sedang berbelanja bersama Iyon. Dan aku lebih memilih untuk tetap di mobil.
Handphoneku bergetar. Telpon dari Ify.
"Moshimoshi!" sapaku.
"Nggak usah sok Jepang lo," seru Ify.
Aku tertawa, "sirik aja lo. Ngapain nelpon?"
"Lo dimana?"
"Kalibata."
"Ngapain?"
"Tante Zahra mau belanja, ya gue ikut aja daripada bete di rumah."
"Pulang jam berapa?"
"Mau ngapain sih?" tanyaku penasaran. Nggak biasanya Ify jadi bawel gini.
"Udah jawab aja."
"Nggak tau."
"Yah, sial deh gue."
"Kenapa sih emangnya?"
"Gue jelasin di BBM deh! Bye!" Klik! Sambungan terputus.
Beberapa saat kemudian LED handphoneku mengedip-ngeipkan warna merah, BBM dari Ify.
Ify Alyssa:
Tadi Rio ke rumah lo, tapi di rumah lo ga ada orang. Terus dia jadi ke rumah gue. Gue nggak ngerti ni anak mau ngapain, lo cepetan pulaaang!
Rio ke rumahku sepagi ini? Dia mau ngapain? Aku langsung membalas chat dari Ify.
Sivia Azizah:
Dia mau ngapaaain? Yah, Fy suruh pulang aja deh. Gue kayaknya masih lama.
Ify Alyssa:
Gue nggak tau. Tadi udah gue suruh pulang, tapi kayaknya dia nggak pulang deh. Dia bilang mau nunggu lo di cafe depan komplek.
Sivia Azizah:
Gue takut, Fy.
Ify Alyssa:
Yaudah, nanti kalo lo udah pulang jangan langsung ke cafe. Lo ke rumah gue aja, nanti kita kesana.
Sivia Azizah:
Oke, thanks Fyyy!
Aku menghela nafas. Untuk apalagi Rio cari-cari aku? Jujur, aku masih takut.
***
Kini kami sedang dalam perjalanan pulang dan Tante Zahra sibuk menelpon seseorang.
"Via, tante mau ke rumah Budhe Irva. Mas Cakka sakit. Kamu mau ikut atau pulang?" ujar Tante Zahra.
Aku terdiam. Aku tau Tante Zahra sangat sayang pada keponakan-keponakannya, apalagi Mas Cakka. Jadi wajar kalo Mas Cakka sakit, Tante Zahra jadi khawatir.
Hmm... Ke rumah Budhe Irva? Pasti ada Mas Alvin. Aku mau banget ngeliat Mas Alvin. Tapi aku nggak mau dicuekin Mas Alvin lagi. Kalo pulang, aku bisa nemuin Rio. Tapi aku takut...
"Via, ikut nggak?"
"Ng... Ikut deh, tan."
***
Aku menunggu Tante Zahra yang sedang memarkir mobil di garasi.
"Ayo masuk, Vi. Kenapa berdiri disini?" tanya Tante Zahra.
Aku hanya tersenyum kikuk, aku nggak mungkin bilang kalo aku nggak berani masuk duluan karena Mas Alvin...
Iyon langsung berlari masuk sedangkan aku mengikuti Tante Zahra dari belakang.
Aku menyalimi Budhe Irva yang sudah menunggu di ruang tamu, lalu Budhe Irva mengajakku ke ruang keluarga. Sedangkan Tante Zahra langsung ke kamar Mas Cakka.
Langkahku terhenti begitu melihat Mas Alvin yang sedang berjongkok sambil mengacak-acak rambut Iyon di depannya. Iyon hanya tertawa diperlakukan seperti itu.
Aku hanya memandang mereka dari sini, terpaku. Mas Alvin seperti baru menyadari keberadaanku.
Mas Alvin menoleh. Menatapku sebentar tepat di manik mata. Lalu dia menghela nafas dan meninggalkan aku dan Iyon. Aku bisa melihat ekspresi kesalnya.
Lagi-lagi, hatiku mencelos. Entahlah, aku cuma ingin menangis sekarang...
Aku terduduk di sofa. Iyon hanya menatapku bingung. Perlahan air mataku turun.
"SIVIAAA!!!" itu suara teriakan Kak Angel dari lantai dua.
Aku buru-buru menghapus air mataku. Kak Angel berlari turun lalu menarik Iyon dalam gendongannya dan duduk di sebelahnya.
"Hei, tumben banget kamu kesini!" ujar Kak Angel. Aku hanya tertawa kecil.
"Via. Kamu nggak pa-pa? Kok nunduk aja?" tanya Kak Angel.
"Nggak pa-pa kak," aku terpaksa menatap Kak Angel.
"Kamu abis nangis?"
"Nggaaak."
"Cerita aja, Vi. Ke kamarku, yuk!" ajak Kak Angel. Aku mengikutinya dari belakang.
Kak Angel berhenti di depan sebuah kamar, mungkin itu kamarnya. Tapi kenapa Kak Angel mengetuk pintunya?
"Alvin!!!" pekik Kak Angel.
Jadi ini kamar Mas Alvin?! Mampus.
Cklek...
"Apaan?" tanya Mas Alvin.
"Nitip Iyon nih! Anak orang jangan dinangisin!" Kak Angel menurunkan Iyon dari gendongannya.
"Emangnya lo mau ngapain sih"
"Urusan cewek!" seru Kak Angel. "Ayo, Vi!" lanjutnya lalu menggandeng tanganku menuju kamarnya.
"Nah, sekarang cerita!" ujar Kak Angel saat kami sudah di dalam kamarnya.
"Cerita apa?"
"Cerita kenapa kamu nangis, Viaaa."
"Aku nggak nangis Kaaak!"
"Bohong. Ayo lah ceritaaa!"
"Harus, kak?"
"Harus!"
"Jujur, kak?"
"Jujur!"
"Sekarang, kak?"
"IYA VIAAA!!!" Kak Angel terlihat gemas.
Aku mengangkat jari telunjuk dan jari tengahku sambil tertawa.
Duh, aku nggak mungkin bilang kalo aku nangis gara-gara Mas Alvin, kan?
"Via, aku bisa tutup mulut kok!" ujar Kak Angel.
"Ng... Mas Alvin itu orangnya gimana sih, kak?"
"Alvin? Kamu ngomongin Alvin untuk mengalihkan pembicaraan atau jangan-jangan penyebab kamu nangis itu Alvin?" Kak Angel mengernyit.
"Yang kedua kak..."
"Kamu nangis gara-gara Alvin?! Kamu diapain sama dia?!"
"Ih kak, jawab dulu. Mas Alvin itu sebenernya kayak gimanaaa?"
"Gimana apanya nih?"
"Dia cuek nggak?"
"Nggak kok. Dia orangnya friendly banget," ucap Kak Angel. "Kenapa, Vi?" lanjutnya.
Aku menghela nafas, "nggak pa-pa, kak."
"Yah, Viaaa. Aku kira tadi kamu mau ceritaaa."
"Kayaknya bukan salah Mas Alvin kak, akunya aja yang lebay. Mungkin cuma perasaanku aja. Aku ngerasa Mas Alvin agak cuek, atau malahan aku ngerasa Mas Alvin agak benci sama aku."
"Jadi penyebab kamu sampe nangis tadi gara-gara Alvin yang 'katanya' benci sama kamu?" Kak Angel terlihat kaget.
Oke, kayaknya aku emang lebay. Kak Angel aja sampe kaget gitu. Aku mengangguk.
"Ada alasan lain?"
Alasan lain? Hm... ada. Karena aku broken heart gitu. Haha, nggak mungkin kan aku bilang kalo patah hati sama Mas Alvin?
Jadi, aku cuma menggeleng sebagai jawaban.
Mata Kak Angel melebar, senyumnya pun ikut melebar. "VIA! KAMU SUKA SAMA ALVIN?" pekik Kak Angel.
Aduh mampus. Semoga Mas Alvin nggak denger teriakannya Kak Angel...
"Ng.. nggak kok kak, nggak..."
"Vi, aku bisa jaga rahasia kok," bisik Kak Angel.
Aku merasa wajahku memerah sekarang. Aku harus jawab apaaa?!?!?!?!
"Diam berarti ya!"
"Eh kak, aduuuh... Ng... gimana ngomongnyaaa."
"Kita kan sama-sama cewek, Vi. Lagian liat tuh muka kamu kayak tomat."
"Ih Kak Angel! Itu Kak Angel sendiri ya yang ngomong kalo aku suka sama Mas Alvin. Aku nggak pernah ngomong gitu pokoknya! Lagian kan aku sama Mas Alvin sepupu sekarang, masa aku suka sama dia?"
Kak Angel tertawa, "masalahnya apa kalo kalian sepupuan? Oh jadi kalo bukan sepupu kamu mau?"
"Kak Angel!!!!! Aku-nggak-suka-sama-Mas-Alvin! Titik!"
"Oke, yaudah nanti aku mau comblangin Alvin sama Ashilla ajadeh."
DEG!
"Eh ng.. ya-yaudah comblangin aja. Aku... ng... bukan urusan aku juga kan?" ucapku dengan susah payah. Sial, kenapa aku jadi gagap?
"Iya juga sih. Oke, aku comblangin mereka berdua deh."
Yak. Makin jauh lah aku sama Mas Alvin. Pasrah. Bye, my Alvin...
***
Jam 7 malam aku baru pulang dari rumah Budhe Irva.
Aku ingat Rio yang menunggu di cafe depan komplek. Aku nggak yakin dia masih nunggu, hampir 12 jam aku pergi.
Ohiya! Aku baru ingat, handphoneku ada di mobil. Selama di rumah Budhe Irva aku nggak bawa masuk handphoneku.
"Tan, pinjem kunci mobiiil,; ujarku pada Tante Zahra.
"Mau kemana, Vi?"
"Nggak kemana-mana. Cuma mau ambil hape, hapeku ketinggalan di mobil."
Tante Zahra menyerahkan kunci mobilnya padaku, aku langsung berlari ke garasi.
Itu handphoneku! Yaampun. Misscallnya banyak banget! Dan semuanya dari... Rio! Telpon balik nggak ya? Hm... Panggilan terakhirnya jam enam lebih lima puluh menit. Berarti masih baru.
Duh, telpon? Nggak? Telpon? Nggak? Telpon?
Handphoneku bergetar. Panggilan masuk dari... Rio! Aku menghela nafas.
"Ha-hallo?"
"Via? Kamu udah di rumah?" tanyanya. Yaampun, ini anak masih ngomong pake aku-kamu. Huh.
"Iya. Udah di rumah."
"Kamu mau aku yang ke rumah kamu atau kamu yang ke cafe?"
"HAH?! Lo masih di cafe?!"
"Iya, Via."
"Eh ng... gue aja deh yang kesana. 15 menit! Oke? Bye." klik! Sambungan terputus.
Berarti Rio udah 12 jam di cafe dan itu karena nungguin aku. Oke, sebenernya dia mau ngapain sih?
Yaudahlah, lebih baik aku ke rumah Ify dan langsung nemuin dia. Kasian juga.
"TANTEEE, VIA KE RUMAH IFY DULU YAAA!"
***
Aku memarkirkan mobilku. Ify menggerutu di sebelahku karena dia sudah mengenakan piyamanya saat aku jemput paksa. Haha keadaan darurat.
"Gue ngawasin kalian dari sini aja ya? Keliatan kok, itu gue bisa liat Rio," ujarnya sambil menunjuk salah satu sudut cafe.
Aku tertawa, "oke. Tapi sebenernya masuk cafe pake piyama cute loh, Fy."
"Rese lo! Udah sana cepetan!"
"Iya, iya!"
Aku berjalan memasuki cafe dan langsung menuju meja Rio. Rio belum sadar dengan kedatanganku karena posisinya yang sedang menelungkup di meja.
"Rio?"
Rio mengangkat kepalanya perlahan, "Via!"
Aku duduk di hadapannya. Ya, untung cafe ini menggunakan sofa untuk tempat duduknya. Jadi duduk selama hampir 12 jam disini nggak terlalu buruk kan?
"Lo disini dari jam berapa?"
"Sekitar jam delapan," jawabnya sambil tersenyum. Senyumnya kali ini berbeda. Bukan senyuman mesum atau senyuman menggoda seperti biasanya. Senyumannya kali ini seperti... senyum yang menyiratkan kepedihan?
"Kenapa nggak pulang?"
"Aku cuma mau nunggu kamu. Nggak mungkin aku nunggu di rumah kamu, aku ngerasa terlalu jahat buat kesana. Nggak mungkin juga kan aku nunggu di rumah Ify."
Aku mengangguk pelan. Lalu hening. Oke, aku nunggu dia mau ngomong apa.
"Via, kamu masih marah nggak?"
"Eh? Ng... nggak tau."
"Kalo iya juga nggak pa-pa. Aku tau, kejadian di basement waktu itu fatal banget."
"Gue udah nggak marah sama lo. Gue cuma... agak takut ketemu lo," ucapku jujur.
Rio langsung menatapku intens setelah aku berbicara. Matanya... menyiratkan keputusasaan?
"Gue salah ngomong ya? Sorry," ujarku.
"Nggak, nggak. Harusnya aku yang minta maaf. Dan kamu nggak salah, aku lebih suka kamu jujur."
"Oh? Oke."
"Dan jujur, aku lebih suka kamu marah atau kamu benci aku sekalian daripada kamu... ya, daripada kamu takut sama aku," Rio menunduk.
Oke, aku jadi nggak enak sama Rio sekarang. Aku salah ngomong kan tadi? Sial.
"Sorry, Yo."
"Berhenti minta maaf, Via."
"Oke..."
"Aku tau, aku salah besar nyakitin kamu. Kamu itu cewek baik, bahkan setelah semua kejadian itu kamu masih bisa minta maaf padahal itu cuma kesalahan kecil yang nggak penting. Dan aku justru butuh satu minggu untuk ngumpulin keberanian nemuin kamu," ujarnya.
Aku hanya diam menunggunya bicara lagi.
"Percaya atau nggak, waktu itu aku beneran khilaf. Waktu itu aku udah nggak tau lagi gimana caranya supaya kamu balik lagi sama aku. Aku masih amat sangat sayang sama kamu, Via. Tapi caraku salah besar ya? Kamu aja sampe takut sama aku kan?" Rio tertawa kecil. Tawa yang dipaksa.
"Yang waktu lo bilang gue nggak bisa 'dipake' itu berarti lo beneran pernah nyeleweng ya?" ya, satu pertanyaan bodoh keluar dari mulutku.
"Ya, tapi nggak seburuk itu kok. Lagian aku juga tau kamu nggak pernah bener-bener sayang sama aku kan?" Rio tersenyum.
"Eh? Dulu gue sayang sama lo tau! Lo-nya aja genit sama cewek!"
"Via, kamu itu cuma nggak bisa bedain mana yang rasa sayang dan mana yang rasa terimakasih. Kamu nerima aku dulu cuma sebagai rasa terimakasih karena aku care sama kamu. Dan aku tau, kamu mutusin aku bukan sepenuhnya karena aku kegenitan sama cewek lain. Iya kan?" jelasnya.
"E-emangnya aku mutusin kamu ada alasan lain?"
"Kamu lagi suka sama orang lain," ucapnya. Oke, itu pernyataan bukan pertanyaan.
Telak! Rio betul. Oke. Banyak yang udah sadar aku suka sama Mas Alvin ya? Emangnya di jidatku ada tulisan 'Sivia Lagi Jatuh Cinta'?
"Tuhkan bener. Yaudah, lanjutin aja perasaannya. Patah hati deh gue," ujar Rio.
"Apaansih?"
"Udah bisa maafin gue?"
"Ya mungkin pelan-pelan, Yo. Nggak secepat itu."
"Mau jadi temen gue nggak nih?"
"Hah?!"
"Sekarang lo mau temenan sama gue atau mau musuhin gue, Vi? Atau mau balikan sama gue?"
"HAH?!"
"Hah-heh-hah-heh. Yang terakhir nggak serius kok!"
"Oh? Oke. Ng.. ya temenan."
Rio tersenyum lagi, dan kali ini terlihat lebih lepas. "Masih takut sama gue?"
"Gue nggak pernah takut sama lo, kok."
"Nggak usah ngerasa nggak enak gitu, gue tau lo dateng kesini minta ditemenin kan? Sampe anak orang yang udah mau tidur lo paksa ikut kesini," Rio tertawa kecil.
"Tau darimana?!"
"Tuh. Temen lo yang satu itu emang nggak pernah biasa aja ya kalo ngeliat gue? Daritadi melototin gue terus," Rio menggedikan dagunya ke tempat dimana mobilku terparkir.
"Oke, gue ketauan," ujarku.
"Nggak pa-pa, ya gue harap setelah ini lo nggak trauma sama gue sih, Vi."
"Ya, semoga..."
"Ng... Vi? Gue boleh meluk lo?" Rio bertanya dengan nada hati-hati.
"Tempat umum, Yo."
Rio tertawa miris, "gue emang nggak boleh nyamain lo sama cewek lain ya."
Aku hanya tersenyum kikuk, aku emang nggak suka mengumbar hal kayak gitu di depan umum.
"Atau lo emang nggak mau gue peluk?"
"Eh, bukan! Bukan gitu! Ya, kalo ada sedikit privasi lagi, nggak pa-pa. Tapi ini tempat umum, ya lo tau gue kan?" jelasku.
Rio tersenyum, "iya gue ngerti."
Aku ikut tersenyum lalu melirik jam ditanganku. Hampir jam setengah sembilan.
"Mau pulang, Vi?" tanya Rio.
"Iya. Jam malem gue cuma sampe jam sembilan, Yo."
"Tunggu sebentar lagi deh, Vi. Gue kasian sama temen lo itu kalo nggak dapet apa-apa," ujarnya lalu memanggil seorang pelayan.
"Ify suka hot chocolate?" tanya Rio. Aku hanya mengangguk.
"Oke, hot chocolate tiga. Ditaruh di cup aja. Semuanya jadi berapa? Total sama yang daritadi pagi," ujar Rio.
Pelayan tadi terlihat sibuk menghitung, "seratus dua puluh tiga ribu."
Rio membayarkan semua tagihannya lalu pelayan itu pergi setelah mengucapkan terimakasih.
"Lo pesen apaan aja, Yo?" aku tersenyum geli.
"Nggak tau, gue sendiri lupa. Nyaris semua menu disini gue pesen kayaknya."
"Sorry banget, Yo. Lo jadi nunggu lama."
"Sekali lagi lo minta maaf gue cium disini lo, Vi!" ancamnya. Dan otomatis aku terdiam.
"Vi, gue bercanda barusan. Lo nggak takut sama gue kan?" tanya Rio dengan ekspresi khawatir.
"Eh ng-nggak. Nggak gue nggak takut kok, iya gue tau lo bercanda."
"Permisi, ini hot chocolate-nya," seorang pelayan mengantarkan pesanan Rio.
Rio mengucapkan terimakasih dan pelayan itu berlalu pergi.
"Nih buat lo dan ini buat Ify," Rio menyerahkan dua cup hot chocolate padaku.
"Gue kan nggak minta, Yo."
"Gue masih inget kalo lo suka banget hot chocolate, lo bilang kalo ini tuh bisa nenangin lo kan?"
"Iya sih. Yaudah biar gue ganti, berapa sih?"
"Nggak usah, Via. Ayo pulang!"
***
"Nih, Fy," aku menyerahkan cup itu pada Ify.
"Sogokan dari lo ya?" Ify melirik sinis pada Rio.
"Ih Ify nggak boleh gitu! Udah terima aja!" ujarku.
Rio tertawa, "Fy, pindah kebelakang sana. Via, gue yang nganter kalian ya?"
"Heh, bukannya lo bawa mobil?" potong Ify.
"Gampang itu sih! Ya, Vi?"
"Ya, oke deh."
***
Kini tinggal aku dan Rio, Ify sudah kami antar pulang. Rio memberhentikan mobilku di depan rumah.
"Lo pulangnya gimana? Mobil lo?" tanyaku.
"Gue minta tolong sama supir gue buat ngambil, dan gue pulang naik taksi aja."
Aku langsung mengambil handphoneku untuk menelpon taksi karena aku jamin nggak akan ada taksi lewat di dalam komplek jam segini.
"Taksinya sebentar lagi, Yo. Gue temenin deh sampe taksinya dateng."
"Ngusir, Vi?" tanyanya.
"Eh? Bukaaan!!!"
Rio tertawa, "iya, iya. Bercanda kok. Thanks ya!"
Aku menyodorkan hot chocolate miliknya yang sedaritadi ku pegang. Rio menerimanya dan langsung meminumnya. Dan selanjutnya, hening...
"Rio."
"Kenapa, Vi?"
"Gue rasa, disini cukup ada privasi..."
Begitu mendengar ucapanku, Rio langsung memelukku. Erat. Lalu menyusupkan wajahnya di relung leherku.
"Gue sayang sama lo, Vi. Maafin gue," bisikknya.
Aku nggak bisa jawab apa-apa, dan akhirnya aku cuma mengangguk.
***
Liburaaan! Yay! Sebentar lagi tahun baruuu! Akhirnyaaa, ada waktu buat istirahat.
Ya setelah Rio minta maaf waktu itu, udah nggak ada kejadian berarti lagi selama 2bulan terakhir.
Aku juga nggak ketemu Mas Alvin, Kak Angel juga jarang kasih kabar. Jangan-jangan Mas Alvin udah jadian sama Shilla?! Aish, lupakan!
"Heh! Tahun baru ada acara?" tanya Ify. Hari ini gantian aku yang main ke rumahnya.
"Belum tau. Lo mau kemana?"
"Belum tau juga, gue sih tergantung lo. Kalo lo ada acara, ya gue juga ada. Kalo lo nggak kemana-mana, gue tahun baruan sama lo!"
"Dasar! Kan udah berapa kali gue bilang, lo jangan nemenin gue terus. Lo kan juga punya kehidupan sendiri, Fy. Lagian kalo lo deket-deket gue terus yang ada gue disangka lesbian sama lo lagi," ujarku.
"Sialan lo! Ya nggak lah, gue cuma takut ntar Rio tiba-tiba dateng ke rumah lo, berbuat macem-macem."
"Ifyyy! Nggak boleh gitu sama Riooo!"
"Biarin aja!"
"Dia udah ngaku salah dari kapan tau, Fy. Gue aja udah maafin, masa lo nggak?"
"Abisnya gue kesel!!!"
"Ati-ati aja nanti lo malah suka sama dia."
"Nggak akan."
"Pasti!"
"Nggak!"
"Pasti!"
"Nggak!"
"Oke. Gue pegang omongan lo ya?" ucapku.
Ify langsung terdiam, beberapa saat kemudian dia langsung bisa menguasai keadaan lagi. "Oke!"
***
Tok! Tok! Tok!
"Iya masuuuk!" ujarku dari dalam kamar.
"Via, tahun baru mau ikut nggak?" tanya Tante Zahra.
"Kemana?"
"Barbeque-an di rumah Budhe Irva."
"Ikuuut!" seruku langsung.
***
New Year Eve! Yaaay! Jam 7 malam aku, ayah dan Tante Zahra berangkat ke rumah Budhe Irva.
Ya, rumah Budhe Irva. Secara nggak langsung, aku bakalan ngerayain tahun baru bareng Mas Alvin! Aku juga kangen sama Kak Angel.
Begitu sampai, aku nggak secanggung waktu itu karena Kak Angel langsung menarikku ke ruang keluarga. Sudah ada Budhe Irva dan suaminya, juga orang tua Iyon. Dimana Iyon-nya?
"Kak Iyon mana?" tanyaku pada Kak Angel.
"Tuh, sama jagoan senior," jawab Kak Angel sambil memandang ke arah dapur.
Iyon digandeng Mas Cakka berjalan ke ruang keluarga.
"Siapa jagoan senior?!" gerutu Mas Cakka.
"Ya elo lah bocah," ledek Kak Angel.
Aku melihat Mas Cakka yang menggerutu karena ledekan Kak Angel. Hm... daritadi aku nggak liat Mas Alvin.
Para orang tua meninggalkan kami untuk menyiapkan barbeque-nya. Di ruang keluarga tersisa aku, Kak Angel dan Mas Cakka.
Aku memutuskan untuk chatting via BBM dengan Ify. Ternyata dia ke Bandung, dan sekarang dia malah ngomel-ngomel ke aku gara-gara perjalanan Jakarta-Bandung yang katanya macet banget.
Hanya suara tv yang terdengar di ruangan ini. Padahal tadi Iyon masih sibuk berceloteh.
Aku menegakan kepalaku yang sedaritadi memandang handphone. Dan... oke. Aku cuma berdua sama Mas Cakka disini.
Kabur? Nggak? Kabur? Nggak? Kabur? Nggak?
"Via, temenin gue jalan dong. Masih jam delapan nih. Barbequenya masih lama, gue males gabung sama para orang tua sekarang."
Oke, itu suara Mas Cakka. Nggak salah? Mas Cakka ngomong sama aku?
"Iya gue ngomong sama lo. Emangnya yang punya nama Via diruangan ini siapa lagi? Pajangan?" ujar Mas Cakka lagi.
"Oh? Ehm, tadi Mas Cakka bilang apa?"
"Tadi gue bilang, lo mau nemenin gue nggak? Jalan doang sebentar," ujarnya.
Oke, kesempatan nanyain Mas Alvin! "Emangnya Mas Alvin kemana?"
"Ke Bandung sama Shilla. Udah deh, ayo lah Viaaa."
Ke Bandung sama Shilla.
Ke Bandung sama Shilla.
Ke Bandung sama Shilla.
Oke, siapa sih yang ngulang-ngulang kalimat itu di otakku?! Nggak tau apa aku lagi pengen lompat dari jembatan?! Oke, itu lebay.
"Heh malah bengong. Ayooo!" kali ini Mas Cakka sudah berdiri sambil mengulurkan tangannya.
Aku mengangguk sambil menyambut tangannya. Hei, aku gandengan sama Mas Cakka? Kok agak aneh ya?
"MAAA! AKU SAMA VIA JALAN-JALAN SEBENTAR YAAA!" teriak Mas Cakka dari pintu yang menghubungkan ke halaman samping, tempat mereka menyiapkan pesta barbeque.
"Ayo! Bawa jaket nggak? Gue males bawa mobil."
Aku menggeleng.
"Tunggu sebentar," Mas Cakka berlari ke lantai atas. Dan beberapa saat kemudian kembali lagi membawa dua jaket.
"Nih jaket Mas Alvin. Semoga nggak kegedean," Mas Cakka menyerahkan salah satu jaket di tangannya.
"Punya Mas Alvin? Eh, mendingan gue nggak pake jaket deh. Kalo dia marah gimana?"
"Gue yang tanggung jawab."
"Nggak deh. Gue minjem jaket Kak Angel aja ya?"
"Kelamaan Via!"
"Yaudah gue nggak usah pake jaket," ujarku. Ya lebih baik kedinginan daripada Mas Alvin tambah benci sama aku.
"Ck, oke. Lo pake jaket gue. Sini jaket Mas Alvin gue aja yang pake," Mas Cakka menyerahkan jaketnya padaku.
Oke, begini lebih baik.
***
Mas Cakka ternyata mengajakku ke TMII. Ya, nggak butuh waktu lama dari rumahnya di Bambu Apus untuk kesini.
Mas Cakka sedang memarkirkan motornya.
"Ngapain kesini?" tanyaku. Sekarang aku sudah lebih lepas bicara dengan Mas Cakka.
"Mau ngobrol banyak sama lo."
"Kenapa harus disini?"
"Nggak suka?"
"Ternyata lo nyebelin ya?" desisku.
Mas Cakka tertawa. "Gondolanya bisa dipake nggak ya?"
Aku menggedikan bahuku. Mas Cakka malah menarik tanganku. Dan oke, jalan dari parkiran tadi ke tempat gondola itu lumayan jauh. Sial.
"Bisa, Vi! Ayo!" Mas Cakka membeli tiket.
***
Aku melihat pemandangan di bawah, dan ternyata aku cuma bisa liat lampu. Iya, lampu. Karena sudah malam jadi ya, nggak keliatan apa-apa.
Aku menghela nafas, meniup poniku lalau mengerucutkan bibirku. Itu kebiasaanku kalo lagi bete, hahaha.
"Gue seneng lo bener-bener jadi sepupu gue. Udah lama gue mau punya adek cewek, apalagi yang lucu kayak lo."
"Hah? Ngomong apa tadi?"
"Nggak."
"Mas Cakka!!!"
Lagi-lagi Mas Cakka tertawa, "lo ngerasa aneh nggak kita kayak gini?"
"Iya, aneh. Lo kan cuek banget sama gue, tiba-tiba jadi gini," gerutuku.
Mas Cakka terdiam dan hanya memandangiku.
"Apa liat-liat?"
"Nggak pa-pa. Lucu aja gue punya adek cewek. Kelakuannya beneran kayak bocah pula."
"Ih enak aja! Kan lo yang dibilang bocah!"
"Iya! Emang Kak Angel ngeselin! Mentang-mentang gue yang paling bungsu jadi diledekin gitu terus. Gue udah mau lulus SMA juga!" gerutu Mas Cakka.
"Cocok."
"Cocok apanya?"
"Panggilan 'jagoan senior' dari Kak Angel emang cocok buat lo. Jagoan kecilnya Iyon kan?"
"Sialan!"
Aku tertawa, "sumpah nggak nyangka lo aslinya begini."
"Terakhir kita ngobrol kapan ya, Vi?"
"Pas gue kelas 5 SD kayaknya."
"Serius?"
"Iya. Gue masih inget, dulu Mas Alvin mulai nyuekin gue pas gue masih kelas 3 SD kalo nggak salah. Dan setiap lo ngomong sama gue, pasti Mas Alvin langsung marah-marah, dia bilang lo nggak boleh deket-deket sama gue, lo nggak boleh ngomong sama gue dan larangan-larangan lainnya tentang gue. Salah gue apaan sih?" aku menumpahkan semua unek-unekku.
"Lo segitunya Vi? Cuma karena Mas Alvin ngejauhin lo?"
Aku menggedikan bahu, "mungkin gue cuma penasaran kenapa dia segitu bencinya sama gue. Sampe sekarang aja dia masih jauhin gue kan?"
"Dendam kesumat kali tuh orang."
"Thanks, Mas. Kalimat barusan bener-bener memotivasi gue," desisku.
"Sorry, Vi. Bercanda," ujar Mas Cakka. Dia terdiam sebentar, "suka sama Mas Alvin, Vi?" lanjutnya.
Oke. Bunuh aku sekarang.
"Vi, ayolah," Mas Cakka semakin mendesakku.
Lebih baik aku diam daripada salah ngomong. Siaaal!
"Why won't you answer me? Youre silence is slowly killing me," Mas Cakka bernyanyi! Oke, suaranya lumayan juga ternyata.
Aku tertawa, "killing me? Emang jawaban gue ngaruh sama hidup lo, mas?"
"Maybe yes."
"Ngaco dasar!"
Mas Cakka hanya tertawa. Dan lagi-lagi kami terdiam.
Cklek!
Karena suara itu, aku refleks berpindah tempat yang semula duduk berhadapan dengan Mas Cakka dan sekarang pindah ke sampingnya. Oke, sebenernya aku phobia ketinggian...
"Mas, itu suara apa tadiii?"
"Suara apa? Yang tadiii!"
BRAKKK!!!
"Aaaaaa!!!!!" lagi-lagi aku refleks berteriak dan memeluk Mas Cakka.
Oh ayolah, ada apa? Jangan bilang gondolanya mau jatuh? Haaaaa, ayaaaaah tolongin Via!!!!!!
Tanpa sadar aku menangis ketakutan, sebisa mungkin aku menahan isakanku.
"Nggak pa-pa, Vi. Gondolanya cuma macet sedikit, sebentar lagi juga jalan," Mas Cakka mengelus rambutku.
Aku menenggelamkan kepalaku di dada Mas Cakka, "Vi-Via takut. Via takut ketinggian."
"Hah? Kenapa nggak bilang daritadi?!"
"Tadi kan Mas Cakka yang geret Via kesini!"
"Sorry, Vi. Gue nggak tau."
"Pulaaang. Via mau pulang!!!"
"Iyaaa. Kita langsung pulang nanti. Maafin gue, ya."
Cklek!
Aku merasakan gondolanya berjalan kembali. Akhirnya...
Aku melepaskan pelukanku pada Mas Cakka.
"Nggak pa-pa?" Mas Cakka menghapus air mataku.
"Pulang..."
"Iyaaa. Kita langsung pulang abis ini, yaaa," Mas Cakka memelukku lagi.
Aku bersyukur. Senggaknya Mas Cakka bisa jadi kakak laki-laki yang melindungiku.
"Makasih, Via," bisikknya.
Aku mengernyit, "untuk?"
"Lo ngebuat gue ngerasain gimana rasanya ngelindungin seorang adik perempuan. Senggaknya gue nggak ngerasa bocah lagi karena ada yang lebih bocah dari gue."
"MAS CAKKAAAAA!!!!!"
***
Aku dan Mas Cakka sampai di rumahnya jam setengah sebelas.
"Darimana? Kayak orang pacaran kalian!" ujar Kak Angel.
"Ngaco deh kak," balasku.
"Kak Angel, kakakku yang paling cantik, paling baik sekaligus paling tua. Cakka adikmu yang paling ganteng ini abis nemenin adik perempuan kita yang manja iniii," ucap Mas Cakka. Kontan aku menginjak kakinya.
"Aaaw! Sakit, Via!" pekiknya.
"Lagian ngomong sembarangan aja!"
Kak Angel tertawa, "injekannya anak manja enak nggak, Kka?"
Mas Cakka melirik Kak Angel sinis. Aku dan Kak Angel hanya tertawa geli.
Seandainya kayak gini dari dulu. Dan seandainya ada Mas Alvin juga disini...
***
Semenjak malam tahun baru itu, aku jadi semakin dekat sama Mas Cakka. Dekat sebagai kakak-adik ya! Hahaha.
Gara-gara Mas Cakka sekarang sering nemenin aku di rumah, Ify jadi semakin sering juga ketemu Mas Cakka. Tapi kayaknya Ify biasa aja, padahal kan dulu dia nggak gitu, haha.
"Mas Cakkaaaaaaaa!!!" teriakku dari dalam kamar.
"Via, nggak usah teriak dooong! Gue jadi lupa tau! Ah tadi hasilnya berapa iniii?" Ify menggerutu.
Aku tertawa, "maaf, Fy."
"Apaan sih, Vi?" tanya Mas Cakka.
"Ajarin gue!" seruku.
"Dasar oon. Mana sini?"
Aku menyerahkan buku tulisku pada Mas Cakka.
"Yaaay! Gue selesai duluan! Besok traktir gue, lo ya?!" ujar Ify.
"Ih boong? Lo ngasal ya?" tuduhku.
"Nggak! Gue beneran mikir tau! Besok traktir gue, oke? Yaudah gue mau pulang. Kan udah ada Mas Cakka," Ify terkikik geli sambil membereskan barang-barangnya.
"Bye, Via! Bye, Mas Cakka!" pamit Ify.
"Bisa nggak?" tanyaku.
Mas Cakka terlihat sedikit bingung, "bisa. Gue cuma agak lupa aja."
"Halah alesan!" ledekku. Mas Cakka tidak membalas ucapanku.
Aku sengaja melihat-lihat isi tas Mas Cakka. Ada kamera. Aku penasaran objek apa aja yang difoto sama Mas Cakka.
"Itu kameranya Mas Alvin, Vi," ujar Mas Cakka.
"Serius?"
"Iya. Kenapa? Takut dimarahin kalo ketauan ngotak-ngatik kamera dia?" ledek Mas Cakka.
"Nggak. Gue justru penasaran. Asal lo nggak ngadu sama Mas Alvin aja sih, kalo sampe ngadu gue pecat lo jadi kakak gue!" aku tertawa saat melihat wajah polos Mas Cakka.
"Emang bisa?" tanyanya.
"Bisain aja deh. Udah itu kerjain duluuu!"
Aku kembali sibuk dengan kamera DSLR itu.
Diawal, dominan foto-foto pemandangan Tangkuban Perahu. Pasti ini waktu Mas Alvin ke Bandung sama Shilla deh.
Setelah foto-foto pemandangan di Tangkuban Perahu itu, ada foto Mas Alvin. Mas Alvin lagi. Mas Alvin lagi. Dan setelahnya ada banyak foto Mas Alvin berdua dengan Shilla. Oke, aku boleh banting kameranya nggak?
Bukannya berhenti, aku justru terus melihat foto-foto selanjutnya. Untung aku nggak nangis cuma karena foto-foto itu.
Oke, sekarang foto-foto waktu pernikahan ayah sama Tante Zahra. Diawal lebih banyak foto Kak Angel, Mas Alvin, Mas Cakka dan Shilla. Ya, Shilla lagi. Shilla lagi. Selanjutnya ya foto-foto sewaktu akad nikah dan resepsi.
Semakin lama, aku merasa ada yang aneh dengan foto-foto selanjutnya. Memang masih foto di pernikahan ayah.
Tapi... Ini kan foto-fotoku?! Aku ingat. Ada foto sewaktu aku sibuk mengabadikan acara akad nikah, foto saat aku bersama Ify, saat aku sendiri, saat aku makan.
Bahkan ada berbagai ekspresi. Mulai foto saat aku serius memperhatikan hasil bidikanku, saat aku tersenyum, tertawa, juga saat aku marah dan melirik sinis pada Rio waktu itu.
Oke, jadi ini maksudnya apa? Aku sendiri nggak sadar kalo ada yang memfotoku waktu itu.
Aku semakin mengobrak-abrik tas Mas Cakka, ada iPad.
"Mas, ini iPad siapa?"
"Punya Mas Alvin. Itu tasnya Mas Alvin ketuker sama punya gue, isinya ya punya Mas Alvin semua."
Aku nggak membalas ucapan Mas Cakka. Aku penasaran, gallery di iPad-nya berisi foto siapa?
Dan ternyata yang di iPad lebih parah. Ada banyak foto-fotoku saat aku di rumah Budhe Irva, aku ingat waktu itu saat Mas Cakka sakit. Aku mengenakan hotpants dan kaos berlengan panjang.
Semakin lama, fotoku semakin banyak. Foto yang diambil di hari yang sama. Lagi-lagi ada dalam berbagai ekspresi. Bahkan saat aku menangis juga ada.
Aku terus melihat foto-foto yang ada. Ya ampun! Foto-fotoku yang ada di facebook, di twitter, di instagram, di tumblr, semuanya ada disini!
Oke, jadi siapa sebenernya orang kurang kerjaan yang nyimpen foto-fotoku di gadgetnya Mas Alvin?
"Selesai, Vi!" pekik Mas Cakka.
Aku memasukan kamera dan iPad itu ke tas. Lalu menghampiri Mas Cakka. Nanti kalo ketemu Mas Alvin, langsung aku tanyain! Bodoamat deh dia mau nyuekin aku, yang penting aku harus dapet jawaban dari yang punya barangnya langsung!
"Makasih Mas Cakkaaa!" seruku saat melihat satu-satunya nomor yang aku nggak ngerti sudah terisi.
"Truth or dare?!"
Eh? Kenapa tiba-tiba jadi main truth or dare?!
"Kenap-"
"Truth or dare?!" potong Mas Cakka.
Aku menghela nafas. Baiklah.
"Truth."
"Sayang sama Mas Cakka nggak, Vi?"
"Ih Mas Cakka pertanyaannya narsis!!!" cibirku.
"Udah jawab aja."
"Sayang!" ujarku. "Truth or dare?!"
"Truth."
"Suka sama Ify, ya?"
"Ck. Iya!" jawab Mas Cakka.
Haaaa Mas Cakka suka sama Ify!!!!!
"Truth or dare?" tanya Mas Cakka.
"Truth."
"Tahun kemarin udah pernah dicium belum? Sama siapa?"
"Udah. Sama ayah," jawabku jujur.
"Ck, dasar bocah polos. Maksud gue bukan itu!!! Maksud gue dicium cowok," gerutu Mas Cakka.
"Ih ayah gue kan cowok!" balasku.
"Oke, terserah."
"Truth or dare?"
"Dare."
"Ajak Ify dinner cepet!" ujarku.
"Nggak punya nomernya Ify."
"Oke, nanti aku kasih. Tapi janji ya ajakin Ify dinner?"
"Iya, Viaaa. Truth or dare?!"
"Truth!"
"Kenapa Via sayang sama Mas Cakka?" tanya Mas Cakka.
"Ih dasar oon! Lo kan kakak sepupu gue, lagian kakak cowok yang care sama gue juga lo doang," jelasku.
Mas Cakka mengangguk.
"Truth or dare?"
"Truth."
"Kenapa dulu nyuekin Via?" tanyaku.
"Gara-gara Mas Alvin! Truth or dare?"
"Truth!" jawabku. Hahaha daritadi aku jawab truth teruuus!
"Pernah nyium cowok nggak? Selain ayah lo, ya," ujar Mas Cakka.
Aku menggeleng, "nggak pernah. Ng... Truth or dare?!"
"Truth."
Yah, Mas Cakka milih truth. Aku kehabisan pertanyaan lagi. Nanya apa ya?
"Lebih baik aku atau Shilla?" pertanyaan bodoh keluar dari mulutku.
Bukannya menjawab, Mas Cakka tertawa geli.
"Ih jangan ketawaaa!" gerutuku.
"Iya maaf. Lebih baik Via, deeeh," ujar Mas Cakka. "Truth or dare? Jawabnya pasti truth lagi deh," lanjutnya.
"Dare!" aku tertawa. "Sok tau sih!" ledekku.
"Sial. Ng... Oke, yakin milih dare?" Mas Cakka seolah menantangku.
"Yakin!" jawabku mantab.
"Cium gue."
"HAH?!"
"Via nggak budek kan? Ayolah, masa nyium kakaknya sendiri nggak mau?"
"Gue nggak pernah nyium cowok tau!" seruku.
"Iya gue tau," jawab Mas Cakka kalem. "Lo suruh ngajak Ify dinner aja gue mau, masa gini aja nggak mau?"
Yaudahlah, kalo Mas Cakka udah bawa-bawa kata 'kakak-adek' aku nggak bisa berkutik. Aku nggak mau Mas Cakka cuek kayak dulu lagi, "Iya, iya!"
Aku beringsut mendekati Mas Cakka. Jujur, aku degdegkan. Ini pertama kalinya aku nyium cowok selain ayah. Oke. Tarik nafas pelan-pelan, Vi...
Cup! Aku mencium pipi kiri Mas Cakka. Setelah itu aku langsung beringsut mundur ke tempat dudukku semula.
"Sebentar, gue nafas dulu," ujarku.
Mas Cakka malah tertawa geli. "Segitunya, Vi?"
"Iya! Gara-gara lo nih!" gerutuku.
"Yaudah lanjut."
"Truth or dare?!"
"Dare."
"Ganti display name BBM jadi Jagoan Senior selama seminggu!" ujarku.
"Yah, Vi. Serius?" tanyanya dengan muka memelas.
"Iya! Cepetan!"
Mas Cakka meraih Blackberry-nya dan beberapa saat kemudian aku memeriksa Recent Updates. Mas Cakka benar-benar mengganti display name-nya dengan Jagoan Senior. Hahaha!
"Gantian. Ini terakhir deh. Truth or dare?" seru Mas Cakka.
"Bener ya ini terakhir? Truth!", ujarku. Aku kapok milih dare, sumpah. Mendingan truth deh.
"Suka sama Mas Alvin nggak?" Mas Cakka bertanya dengan wajah serius.
"Ng... y-ya suka. Kalo nggak suka berarti aku benci dong? Ng... aku kan nggak benci sama Mas Alvin," jawabku dengan terbata.
"Bukan itu maksudnyaaa!!! Err, lo sayang sama Mas Alvin?" tanya Mas Cakka lagi.
"Sayang. Aku juga sayang sama Mas Cakka kan? Kan kalian, ng... kalian saudaraku juga."
Mas Cakka menghela nafas, sepertinya kesabarannya habis, hahaha.
"Oke, Via. Dengerin gue. Lo percaya sama gue kan? Gue nggak akan bilang siapa-siapa, Vi. Sumpah! Sekarang jawab. Lo cinta sama Mas Alvin?" ujar Mas Cakka.
Aduh, aku harus jawab apa sekarang? Kenapa jadi serius gini sih? Nggak lagi-lagi deh main truth or dare sama Mas Cakka!
Oke, lebih baik jujur deh. Tarik nafas... lalu aku menghembuskannya dengan sekali sentakan, "iya. Gue cinta sama Mas Alvin!" ujarku tegas. Rasanya beban berat dipunggung terangkat saat mengucapkannya...
"Gue juga suka sama lo. Gue juga sayang sama lo. Gue juga cinta sama lo," ujar suara di belakangku.
Itu... suara Mas Alvin! Nggak. Aku terlalu banyak menghayal tentang Mas Alvin. Nggak mungkin itu Mas Alvin.
Aku merasakan orang itu semakin mendekat. Semakin mendekat di belakangku.
"I love you," bisiknya tepat di belakang kepalaku.
Darahku berdesir. Tuhan, kalo ini mimpi jangan sampe aku bangun lagi...
"Via, kamu masih mau ngebelakangin aku?" ujar suara itu lagi.
Perlahan aku membalik badanku, agak sulit karena aku sedang duduk di karpet.
"Mas Alvin!" aku langsung menutup mulutku dengan telapak tangan kanan.
Wajah Mas Alvin hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahku, dan itu benar-benar membuat darahku berdesir hebat. Dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Aku nggak mimpi kan?" bisikku.
"Nggak. Ini nyata, Via," Mas Alvin tersenyum lalu menarikku dalam pelukannya.
Aku langsung membalas pelukannya itu. Khayalanku jadi kenyataan.
***
Sore ini semuanya berkumpul di rumahku. Ayah, Tante Zahra, Budhe Irva dan suaminya, Kak Angel, Mas Cakka sampe Ify juga ada! Dan kali ini ada Mas Alvin.
"Jelasin semuanyaaa! Kalian selama ini rencanain apa sih?" ujarku. Aku rasa, disini yang nggak tau rencananya cuma aku sama Ify.
"Tanya sama Alvin, Vi," ujar ayah.
"Sudah, ayo orang tua jangan ganggu urusan anak muda," Tante Zahra mengajak para orang tua untuk minum teh di halaman belakang.
"Mas Alvin, jelasin semuanya!" tuntutku.
"Aku aja bingung mau jelasin darimana," ujar Alvin.
"Vi, kamu suka sama Alvin sejak kapan?" tanya Kak Angel.
"Nggak tau, mungkin baru setahun terakhir ini," jawabku.
Mas Alvin tertawa, "yah baru setahun. Aku udah suka sama kamu hampir sembilan tahun, dari kamu kelas tiga SD. Sekarang kamu kelas sebelas."
"Kelas tiga SD? Waktu itu lo justru mulai ngejauhin gue, Vin!" ucapku. Aku sengaja menggunakan gue-lo dan nggak memanggilnya dengan kata 'Mas' lagi.
"Alesannya itu karena yang aku tau kita saudara. Nah, saudara itu nggak boleh nikah. Waktu itu aku nggak tau kalo ternyata kita nggak ada hubungan darah. Ditambah lagi, aku sadar waktu itu kamu nggak suka sama aku. Jadi ya, aku ngejauhin kamu aja. Niatnya mau ngilangin perasaan ini, tapi malah bertahan sampe sekarang," jelasnya.
"Kenapa Mas Cakka ikut-ikutan lo suruh jauhin gue?" tanyaku lagi.
"Ya biarin aja! Kalo seorang Alvin nggak boleh deketin cewek, Cakka juga nggak boleh! Kalo Cakka deket-deket sama kamu, yang ada aku cemburu!" jawab Alvin jujur.
"Vin, gue boleh ngakak nggak?" ledekku.
"Silahkan. Ohiya, sejak kapan kamu manggil aku pake nama aja?" desisnya.
"Barusan. Kenapa? Nggak suka?" balasku.
"Suka banget, Via," Alvin tertawa.
"Terus yang waktu kejadian di basement itu, kalian sengaja atau nggak?" kali ini Ify yang bertanya.
"Sengaja lah. Gue nggak beneran ngilangin memory kamera waktu itu," jawab Alvin.
"Kejadian basement apaan?" tanya Mas Cakka.
"Mas Cakka nggak tau?" tanya Ify lagi.
"Dia emang sengaja nggak gue kasih tau, kalo gue kasih tau pasti ni anak bakalan sok pahlawan nolongin Via. Gue cuma nggak mau nanti yang dianggap pahlawan sama Via malah dia bukan gue," jelas Alvin. Kali ini aku benar-benar tertawa mendengar jawabannya.
"Ng... kenapa Mas Alvin nggak nolongin Via secara langsung aja?" lagi-lagi Ify yang bertanya.
"Nggak. Kalo tolongin secara langsung, gue takut itu cowok mati gue gebukin. Gue juga nggak bisa ngeliat Via dalam keadaan begitu, kalo sampe gue ngeliat yang ada gue langsung lari meluk dia," jelas Alvin lagi. Aku merasa wajahku memerah karena jawabannya itu.
"Kak Angel tau semua ini?" tanyaku.
"Tau, Vi. Alvin kalo mau apa-apa kan curhatnya sama aku. Kamu inget nggak waktu kamu bilang kamu sempet nangis karena Alvin, aku agak kaget. Inget?" ucap Kak Angel.
Aku mengangguk, "iya. Aku lebay banget kan sampe Kak Angel kaget gitu," gerutuku.
"Bukan! Bukan karena itu. Waktu itu aku kaget soalnya aku seneng, Via. Ternyata perasaan Alvin selama bertahun-tahun akhirnya terbalas," jelas Kak Angel.
"Kalo soal Shilla?" aku memberanikan diri untuk bertanya masalah Shilla.
"Shilla sama Alvin kan emang temenan dari kecil. Kamu tenang aja, Shilla juga udah punya pacar kok," ucap Kak Angel. Oke, aku bisa bernafas lega sekarang.
"Soal foto-foto aku di kamera sama iPadnya Alvin?"
"Koleksi pribadi, Via," ujar Alvin.
"Dasar aneh!" cibirku.
Iya, aku jatuh cinta sama orang aneh, yang egois dan agak konyol. Hahaha.
"Ternyata kalian happy ending ya," ucap Mas Cakka.
"Happy ending, happy ending! Pulang dari sini lo yang abis sama gue, Kka!" desis Alvin.
"Emang kenapa?" ujar Ify.
"Karena Jagoan ini berani banget meluk-meluk Via. Bawa Via naik gondola. Dan akhir-akhir ini ternyata si Jagoan sering godain, Via. Yang paling fatal itu yang tadi..." Alvin menajamkan pandangannya pada Cakka.
"Tadi kenapa?" Kak Angel ikut penasaran.
"Gini kak, Via itu nggak pernah nyium cowok. Nah tadi itu gue minta Via nyium gue, di depan Mas Alvin! Dan cowok pertama yang Via cium itu gue," Mas Cakka menjelaskan dengan santai lalu tawanya meledak.
"Kok mau sih Vi, nyium bangke kayak dia?" ucap Kak Angel.
"Tadi lagi main truth or dare kak, lagian Mas Cakka bawa-bawa 'kakak-adek' segala. Ya, satu-satunya kakak cowok yang care sama aku kan cuma Mas Cakka doang. Jadi aku mau," jelasku.
"Berarti gue nggak salahkan? Lagian siapa suruh Mas Alvin nggak deketin Via daridulu! Cemen sih, berani deketinnya pas Via-nya udah bertekuk lutut," ledek Mas Cakka. "Waktu ngeliat Via pelukan sama si Rio itu aja udah ngedown yah, cowok macem apa tuh," Mas Cakka semakin gencar meledek Alvin.
Hm... Alvin ngeliat waktu aku pelukan sama Rio?
"Diem lo!" desis Alvin. "Ohiya, tadi pas Via sama Cakka main truth or dare gue sempet denger deh kalo Cakka suka sama Ify. Terus bukannya Cakka mau ngajak Ify dinner ya?" ujar Alvin.
"Ohiya! Katanya Mas Cakka mau ngajak Ify dinner. Cepetan, mumpung ada orangnya!" timpalku.
Cakka hanya melirik Ify dan Ify mengangguk. Kayaknya Ify terpaksa, hahaha!
Alvin beringsut mendekatiku, "hari ini kita jadian. Bulan depan tunangan. Tujuh tahun lagi kita nikah!" bisiknya.
"HAH?! NIKAH?!"
***
END
***
Langganan:
Postingan (Atom)





















